by

Tuhan Dalam Sejarah Jawa dan Arab

Oleh : Baldan Abdullah

Waktunya buka mata, buka hati dan buka akal sehat !!!.

Abad 5-7 Masehi, di Arab Saudi sana itu zamanya nabi Muhamad dan para sahabat. Zaman yang menjadi rujukan dan pedoman para penganut idiologi khilafah berkiblat.

Dan abad 5-7 Masehi itu, di Jawa abad berdirinya candi Borobudur. Jadi kurang lebih nabi Muhamad itu hidup di zaman yang sama dengan zaman berdirinya candi Borobudur.

Dan ketika nabi Muhamad wafat, sebelum jasadnya di kuburkan. Para sahabat sudah pada bingung-ribut dan rebutan jabatan Khalifah sebagai pengganti beliau. Akibatnya, tiga dari empat sahabat nabi Muhamad sendiri yang juga menjabat khalifah, mati dibunuh oleh orang Islam sendiri.

Bahkan cucu kesayangan nabi Muhamad sendiri, juga mati dibantai-kepalanya di pancung oleh orang Islam sendiri karena rebutan jabatan khalifah. Jadi dalam Islam sendiri tidak mengajarkan dan memberi solusi tentang suksesi kepemimpinan yang baik.

Saat bangsa Arab masih tidak tahu soal managemen/ pengaturan pemerintahan, di Jawa sudah berdiri kerajaan/system pemerintahan yang teratur. Saat itu ada wangsa Syailendra yang Budha dan wangsa Sanjaya yang Hindu. Wangsa Syailedra berhasil membangun candi Borobudur, sementara wangsa Sanjaya membangun candi Prambanan.

Jarak antara candi Borobudur dan candi Prambanan kurang lebih hanya 50 kilometer. Dan mereka rukun-rukun saja, bahkan terjadi pernikahan antara Rakai Pikatan sang penguasa dinasti Sanjaya dengan Pramudya Wardhani putri penguasa dinasti Syailendra.

Asyikkan leluhur kita itu?. Pernikahan beda agama/keyakinan itu hal yang biasa. Agama/keyakinan termasuk soal ahkirat itu urusan prifat, karena jika mati kita juga jalan sendiri tidak gandeng pasangan kita. Jadi agama itu hanya input, diruang publik yang penting output-nya itu macam apa.

Dari situ kita bisa melihat pohon itu dari buahnya/outputnya. Percuma ngeklaim ahli surga, jika tidak bisa memberi surga nyata pada semua orang. Jadi Tuhanmu itu tercermin pada perilakumu, tidak perlu koar-koar Tuhan maha ini-itu, kalau tidak bisa membuatmu menjadi manusia berahklak yang bermanfaat bagi orang lain.

Jadi pelajari sejarah bangsamu sendiri sebelum belajar sejarah bangsa asing. Biar tidak kehilangan arah. Tidak sadar akan leluhurnya sendiri yang luar biasa, tapi sehari-hari malah memuja-muji leluhur bangsa asing. Dan durhaka pada leluhur sendiri itu, membuat kita menjadi bangsa tak tentu arah yang bermental inferior/inlanders di hadapan bangsa asing.

Lalu bagaimana soal ajaran keTuhanan yang selama ini sepertinya di monopoli dan hanya bangsa Arab saja yang paham sejatinya Tuhan?.

Peristiwa isra miraj itu diyakini orang Islam, adalah saat bertemunya nabi Muhamad dengan Allah dilagit tingkat tujuh. Itu periode awal di Mekah (13 tahun), Allah diyakini ada di langit.

Tapi ketika periode awal di Medinah (17 bulan), posisi Allah nya orang Islam sama posisinya dengan Tuhannya orang Yahudi, yaitu di Yerusalem. Jadi orang Islam saat itu sholat menghadap ke Yerusalem.

Setelah itu ganti lagi kiblat orang Islam ke Ka bah di Arab Saudi sampai sekarang. Tapi apakah Allah ada di Mekah?. Tidak!. “Sesungguhya Tuhan kamu ialah Allah yang telah meciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arasy” (Al A’raf/7;54).

Ketika bangsa Arab masih bingung menentukan dimana posisi/alamat Allah. Manusia Jawa sudah sampai pada kesadaran ; Tuhan itu tan keno kinoyo ngopo atau Acintya. Manusia tidak akan bisa mengenal sejatinya Tuhan secara final/utuh. Bila Tuhan sudah terdifinisikan, maka bukan sejatinya Tuhan itu, tapi konsep keTuhanan.

Manusia Jawa tidak memuja konsep keTuhanan apalagi menyembah berhala bernama agama.Dan stupa terbesar, tunggal dan berada di puncak candi Borobudur itulah simbolisasi pandangan manusia Jawa tentang Tuhannya. Satu, bulat, polos, universal-golong-gilig, tidak terkotak-kotak.

Persis yang ditulisi Jalalludin Rumi dalam puisinya yang berjudul ; AGAMA CINTA ; Aku bukanlah Nasrani/Aku bukanlah Yahudi/ Aku bukanlah Manjusi/Aku bukanlah Muslim/Keluarlah!. Lampoui gagasan sempitmu tentang benar dan salah/Agar kita mampu bertemu pada suatu Ruang Murni/Tanpa dibatasi prasangka dan pikiran yang gelisah.

Dan untuk bisa sampai di puncak Stupa Esa/Ruang Murni itu, memang butuh proses yang tiap orang berbeda-beda, unik dan tidak bisa diseragamkan. Realita itu menyadarkan manusia Jawa akan pentingnya sikap toleran dalam soal keyakinan itu.

Manusia Jawa memahami Tuhannya secara universal bukan individu/person yang suka mengutuk atau memihak pada salah satu golongan saja dan ikut-ikutan memusuhi dan memerangi golongan lainnya.

Dan coba lihat ajaran keTuhanan bangsa Arab, penuh dualitas, territorial dan permusuhan. Memusuhi kafir, babi, iblis, atheis. Lah masak Tuhan memusuhi ciptaannya sendiri. Itu konsep Tuhan sArab yang suka baper, marah-marah dan tukang siksa itu.

Bagi manusia jawa, Tuhan adalah kasunyatan/sejatinya realita. Jadi sebagai orang yang percaya Tuhan harus belajar berani belajar menerima kenyataan dengan lapang dada meski kenyataan itu seringkali tidak seperti yang kita inginkan/harapkan.

Beda khan dengan ajaran bangsa Arab yang penuh delusi dan halusinasi. Nabi membelah rembulan itu kisah fiktif, kalau candi Borobudur itu karya nyata. Jadi manusia Jawa akan lebih terkesima-takjub dengan realitas dan alam ciptaan Tuhan daripada dengan dongeng kitab suci yang ngarang bebas tanpa bukti.

Tidak ada ajaran agama yang akan bisa menyelamatkan dirimu. Ahklak perbuatanmu-lah yang akan menyelamatkanmu. Ngunduh wohing pakarti. Kita akan memetik apa yang kita tanam. Jika ingin memetik kebaikan ya tanamlah kebaikan. Jadi bagi manusia Jawa ; DO’A YANG TERBAIK ADALAH BERBUAT BAIK.

Jika ada ajaran agama di klaim bisa membawa penyelamatkan, maka akan banyak kaum puritan sekaligus hipokrit/ munafik. Beragama ya, tapi maling, korupsi, menyebar hoak, ngibul dan cabul dilakukan juga.

Mulut teriak “Tuhan maha pengasih dan penyayang !!!” tapi kelakuannya bengis dan kejam. Kalau sudah nyenggol keyakinan jadi gampang tersinggung, emosian, pembenci, neror, merusak bahkan membunuh-ngebom sesamanya.

Pernah adakah orang yang suka mengucap salam “RAHAYU” melakukan kekejian macam itu atas nama keyakinannya?. Tidak!

Saya terlahir, hidup, makan, ngewee, beranak dan kelak mati di negeri ini. Jadi sudah sewajarnya saya Bangga-bahagia berjalan di jalan leluhur sendiri yang penuh dengan ajaran luhur yang berpegang pada akal sehat dan hati nuraninya, yang mengantar kita menemukan jati dirinya sendri.

Kalau elu-elu tetap bangga-senang menjadi manusia beo, bermental inferior dan jadi budak bangsa asing ya silahkan. Mau menjelek-jelekkan ajaran leluhur sendiri, nggih monggo mawon.

Selama ini ajaran SPIRITUAL NUSANTARA suka di stigma dan dicandra semena-mena sebagai ajaran sesat, syirik, musryik………………………………….Asikkin aja. Karena Emas memang tidak perlu menjelaskan bahwa dia berharga. Percayalah pada Sang Waktu !!!.

Dan meminjam istilah teorinya Charles Darwin tentang “SELEKSI ALAM” maka “ Sang Waktu” akan menunjukkan ; Mana barang berharga dan mana yang hanya akan menjadi sampah peradapan!!!.

Sumber : Status Facebook Baldan Abdullah

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed