by

Apa Peran Polisi dalam Memberantas Radikalisme?

Oleh: Biakto

Niat Pak Jokowi baik mengangkat Pak Listyo Sigit menjadi Kapolri, tapi Presiden lupa bhw persoalan umat Islam yg terbelah dan makin menganga antar umat Islam sendiri sedang sulit diatasi. Persoalan ini kalau diintervensi polri dgn Kapolri yg notabene non muslim akan di blowup oleh kaum pemitnah dan politik identitas.

Bukan bermaksud mengotak jabatan atas dasar keyakinan tapi rasionalitas kita harus jalan. Urusan toa yg diatur Menag saja dilawan JK, apa berani Kapolri memerintahkan pertemuan alumni timur tengah yg di hadiri Anis dan JK dimana Bachtiar Nasir ustadz yg pernah di tengarai sebagai donatur ISIS bebas berpidato kebangkitan khilafah didepan peserta yg hadir.

Kita kadang pura² lupa bahwa di TNI, Polri, BUMN, dan instansi lain sudah terpapar kaum garis keras yg notabene sebagai perpanjangan tangan ajaran HTI yg bubar secara administrasi tapi bukan bubar secara keyakinan.

Kita bisa di ambang perpecahan serius kalau membiarkan penetrasi kaum pemahaman khilafah diberi ruang yg terang benderang.

Lihat partai Nasdem yg kuat teriak restorasi Indonesia, lha sekarang bisa menempatkan Anis sang perusak Jakarta menjadi capres urutan 1 yg dilirik Nasdem. Inikan anomali, atau paradok Sy kurang paham. Apakah SP bener nasionalis, sepertinya jauh panggang dari kambing.

Entah siapa dan bagaimana kedepan kita merawat Indonesia dan ideologi Pancasila kalau ngurus PKS sebagai sumber masalah dan partai yg terus menentang pemerintah kita tak kuasa.

Kita kan paling takut gesekan dan mencoba santun. Wong teroris kok diajak santun ya kita yg disamun.

Kita ingat JK bagaimana dia mengoyak JKT melalui tangan Anis dan politik identitas. Saat kampanye pilkada dimana dia pengusung Anis, dia mendatangkan Zakir Naik ustadz yg diusir India, dan juga menerima tamu Taliban yg jelas bukan kawan kita sebagai bangsa waras yg menjunjung demokrasi dan kesetaraan hak manusia.

Panjang urusan ini jadinya, tapi apalah daya bagi orang seperti saya yg hanya bisa teriak di medsos, paling hanya bisa merasakan kekhawatiran sebagai orang Islam yg mengkhawatirkan Islam membawa perpecahan seperti Yaman dan Afghanistan.

Kemarin waktu Yaqut diangkat jadi Menag ada harapan besar mengatasi carut marut Islam Indonesia, ada statement menarik saat baru di Lantik, bhw ia adalah Menag republik Indonesia bukan Menag islam Indonesia. Namun harapan tinggal harapan, karena urusan toa saja dia ditentang JK, sertifikasi ulama tinggal cerita.

NU dan MU ormas yg dianggap paling waras makin tak bernas, malah pagi ini headline Japos memuat berita bendum NU jadi tersangka korupsi versi KPK. Sementara Anis yg berpoya² pakai uang negara malah melenggang menghadiri acara pertemuan alumni ulama timteng dan mendengar semangat kebangkitan khilafah dari mulut Bachtiar Nasir. Celaka kita, celaka juga KPK.

Ngeri jadinya, ngeri² sedap menghadapinya. Tapi apalah daya paling kita cuma bisa menanti akibatnya, Indonesia terbelah oleh prilaku orang beragama yg punya Tuhan berbeda.

Ah andai semua itu seperti angkot bisa dgn mudah menghentikannya karena dia hanya menaikturunkan penumpang di tengah jalan. Tapi ini sebuah gerakan yg akan mengubah Pancasila dgn domain Indonesia dimana para poli-tikusnya hanya bertujuan kekuasaan.

Terbayang siapa yg akan bertahan dan siapa yg binasa, dan Indonesia akan tinggal sisa dgn batu nisan bertuliskan disini pernah ada negara bernama Indonesia yg hancur bersama nusantara. Semoga Tuhan menggagalkannya.

(Sumber: Facebook Biakto)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed