by

Merenungkan Keindonesiaan

Oleh: Supriyanto Martosuwito

Saat saya menerima kiriman postingan ustad muda keArab-araban, yang melarang umat Muslim bergaul dengan Kristen, di Youtube sedang ramai konten kolaborasi antara Livy Renata dan Komedian Tunggal (Komika) Nopek Novian.

Livy Renata anak Tionghoa yang tinggal di Pluit, Jakarta Utara, lulusan sekolah internasional dan Western Oriented, bergaya kekinian, snob, polos, ceplas ceplos, sedangkan Nopek anak petani Madiun yang dibesarkan di keluarga petani Jawa. Kuliah dan meraih gelar Sarjana Ekonomi Islam (SEI).

Extreme to extreme. Betapa jauh gap budaya di antara mereka, dalam banyak hal. Uniknya, dengan semangat pertemanan kolaborasi konten di antara mereka berlangsung intim dan kocak.

Hal yang mengejutkan konten kencan mereka, jalan bareng, jajan bareng, saling berkunjung ke kost, seharian, mendapat respon jutaan klik dari netizen. Dan tanggapannya positif, sehingga mereka membuat serialnya.

Livy Renata lagi kondang karena kepolosannya dan ketidak-tahuannya tentang banyak hal. Mengecap pendidikan internasional, celotehnyannya campur campur Tionghoa, Inggris, Indonesia.

Kehidupannya eksklusif. Dia tak banyak tahu tentang jajanan pasar, seperti seblak, cireng, klepon dll. Dia juga tak tahu tentang seleb seleb kondang Indonesia dan pengetahuannya jadi bahan tertawaan.

Kepada Boy WIlliam yang mewawancarainya, Livy menyebut Luna Maya adalah “Mom from Al, El, Dul”. Maia Estianty adalah “personil Trio Kucing” bareng Dewi Persik dan Mulan Jameela. Luna dan Maia perlu bikin konten klarifikasi yang kocak untuk itu.

Livy Renata tak semata mata pamer kepolosan. Dia pemain game online yang sudah jago dan dijadikan brand ambassador dengan gaji puluhan juta dan sudah bisa membeli mobil. Gaya hidup mahalnya sudah mulai terbayar.

Di Jawa Timur ada anak Cina yang menertawakan keCinaannya dengan aksen Jawanya yang super medok. Steven Wongso kolab dengan Youtuber Jawa yang meroastingnya habis habisan dan jadi bahan candaan yang segar. Mereka menyebut sebagai Chindo – China Indonesia.

Dari sisi ras dan budaya, jelas mereka beda. Kontras. Tapi persahabatan tanpa memandang latar belakang mereka, dengan kesadaran untuk menjalin pertemanan, sungguh hal yang menggembirakan. Dalam bingkai Indonesia.

Bhineka Tunggal Ika telah mewujud dengan cair dan enak.

Chindo Surabaya dikenal mudah membaur dengan warga lokal, dan terekspresikan dengan Jawa mereka yang super modek. Sama halnya CIna Banyumas dan Tegak, yang juga Ngapak. Mereka suka makanan Jawa, meski dalam pergaulan sehari-hari, mereka kadang masih mengelompok dan eksklusif.

RASA keIndonesiaan tak terkait dengan suku, ras, agama seseorang. Livy Renata dengan gaya generasi kekinian dan western-nya memilih tinggal di Indonesia ketimbang di Australia. Generasi ke dua ke tiga Tionghoa yang sudah nyaman di sini memilih di sini apa pun resikonya.

Sikap yang sama ditunjukan oleh Warga keturunan Arab, India, Bule, dan lainnya. Atau kaum Tionghoa di Singapura, Malaysia dan negeri Asia lainnya. Kalau sudah nyaman dan sukses – di sanalah tanah airnya.

Sebaliknya, mereka yang asli Indonesia tidak otomatis melihat Indonesia sebagai masa depan.

Sahabat saya sendiri, dua jurnalis asli Indonesia, muslim, berkerudung memilih bermukim di Amerika Serikat, dan menegaskan Indonesia hanya untuk mudik sesekali. Anak anaknya yang tumbuh besar di sana pun tak ada yang mau pulang. Padahal mereka sawo matang seperti saya, bahkan lebih taat kemuslimannya dibanding saya.

Dia masih memegang paspor Indonesia karena masih cinta Indonesia meski nyaman hidup di Negeri paman Joe Biden.

Dia sempat mengajak saya hijrah ke sana, tapi saya nggak berani. Saya menolak. Sebab saya cinta Indonesia, cinta tempe orek, kopi sasetan, tempe mendoan dan mie tek tek.

(Sumber: Facebook Supriyanto M)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed