by

Akankah Polri Transparan?

Oleh: Budhius Ma’ruff

Jelas ini pertanyaan dilema bagi Kapolri, Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo untuk dapat menjawabnya secara jujur. Secara normatif, jelas dan pasti jawabannya adalah yes, Polri akan transparan mengungkap kematian Brigadir J, di rumah atasannya Kadiv Propam non aktif, FS. Namun pelaksanaannya apakah memang demikian? Saya sangat meragukan akan benar transparan, mengingat banyaknya kejanggalan dalam proses pengungkapannya. Hingga kini, nyaris hampir satu bulan, meski sudah ditingkatkan dari Lidik ke Sidik, namun siapa TSK masih misteri.

Bagi saya yang awam dalam hal “scientific crime investigation” dan forensik digital, penelusuran dgn metode tsb belumlah cukup akurat untuk menyibak kasus, yang mencoreng wajah kepolisian RI. Sebab disamping memakan waktu yang sangat lama, bisa mencapai 4 bulan baru keluar hasilnya, juga karena alasan “negosiasi” dibalik layar yg rawan terjadi. Bisa jadi itu bisa saja terjadi karena motif demi nama baik institusi kepolisian.

Diluar itu, ada hal yg secara kasat mata yg menjadi pertanyaan publik hingga saat ini. Yakni soal belum bisanya istri FS diperiksa oleh penyidik karena alasan psikologinya yg belum stabil.

Saya menduga, shock berat itu dialami istri FS bukan karena cerita dugaan pelecehan seksual yg disampaikan Kapolres Jaksel, yg sdh dinonaktifkan itu. Jika hanya sebatas itu, dengan pengamanan yg ketat di rumah dinas FS, harusnya istri FS hanya sebatas shock sesaat dan ketika sdh Brigadir J dibekuk, kekagetan itu hilang dlm waktu yg tdk lama.

Namun faktanya istri FS diposisikan oleh sumber Mabes Polri, sbg masih belum stabil untuk diperiksa.

Saya menduga, bisa jadi istri FS shock dan trauma hingga saat ini karena dia melihat sebuah kejadian yg horor dan sadis, yg gak pernah dia bayangkan pernah dia lihat langsung sebelumnya. Adegan di depan mata yg “mengerikan” itulah mungkin, yg membuat istri FS tidak stabil psikologi nya saat ini. Dengan demikian, istri FS adalah salah seorang saksi kunci dari terbunuhnya Brigadir J di rmh Kadiv Propam non aktif Polri tersebut.

Harusnya Kapolri yg sangat berpengalaman di bidang reserse, sangat paham konstruksi kejadian dari semuanya ini. Mudah2an Jenderal Sigit, mau menyelamatkan institusi nya dgn sejujur2nya, tanpa ada satupun yg ditutupi dan dicarikan kambing hitam TSK yg gak bersalah sama sekali. Kasus ini tidak akan sampai ke pengadilan jika tidak ada yg menjadi TSK asli nya.. Dugaan ke arah itu tidak menutup kemungkinan bisa saja terjadi. Toh banyak sekali spekulasi yg muncul di ranah publik hingga saat ini.

Saya tidak yakin Kompolnas dan Komnas HAM, akan bisa mengawal pengusutan kasus ini secara profesional dan proporsional.. Bahasa tubuh pejabat2 di kedua lembaga itu dihadapan media, gesturnya terlihat sedang menutup2i sesuatu yg busuk yg terjadi pada mitra kerjanya, Kepolisian RI.

Jika ini tidak terjawab dgn apa adanya ke publik, maka inilah tragedi paling buruk yg pernah ada di tubuh kepolisian sejak tahun 1945 silam.

Tragis dan ironis.

(Sumber: Facebook Budhius M)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed