by

Agama dan Teknologi

Oleh : Munawir Azis

Dalam sebuah pengajian ramadhan di PP Muhammadiyah, Dahlan Iskan mengatakan bahwa agama dan organisasi akan mengalami 3 tantangan besar di masa depan; Pertama, oleh ilmu pengetahuan. Semakin majunya sains dan ilmu pengetahuan akan menciptakan terjadinya disorientasi atau menurunnya kepercayaaan terhadap agama. Kedua, model dakwah kaku yang tidak berorientasi kepada kedamaian dan ketentraman. Dan ketiga, adalah fenomena individual atau tidak adanya lagi ketergantungan satu sama lain termasuk kepada organisasi agama. Fenomena disrupsi, yaitu berkembang cepatnya ilmu pengetahuan dan temuan-temuan ilmiah inilah yang begitu dahsyat mengubah pola pikir umat beragama saat ini.

Karena ketika dihadapkan dengan kenyataan ilmiah kita begitu mudah mengaitkannya dengan disparitas kesenjangan yang membingungkan antara agama dan realitas di masa depan. Salah satu contoh adalah temuan ini. Problem tidak adanya oksigen di Mars saat ini sudah bisa diatasi. Tinggal setapak lagi adalah mencari sumber air. Atau setidaknya dengan formula yang sama, mengekstrak beberapa zat yang bisa memproduksi air.

Seperti halnya mengekstrak karbon dioksida yang ada di udara Mars menjadi oksigen untuk bernafas dan dihirup manusia tadi. Tentu saja mengekstrak air jauh lebih mudah dibanding mengekstrak oksigen, yaitu menguapkan udara menjadi air seperti yang sudah biasa dilakukan. Jika dua unsur utama penunjang tadi sudah ada di Mars, tentu saja kehidupan di Mars akan segera dimulai. Dan ini akan jadi momentum besar yang bisa berimplikasi mengagresi term-term agama samawi maupun agama ardhi yang ada di bumi. T

erutama term ibadah bagaimana yang harus di jalankan dalam kehidupan di planet Mars ini bagi penduduknya. Untuk agama Islam seperti arah kiblat, waktu ibadah, patokan bulan (karena Mars punya bulan sendiri), penentuan hisab/rukyat, naik haji/umroh apakah tetap harus ke bumi, dll yang harus disesuaikan dengan kondisi di sana. Ringkasnya, agama harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman dan teknologi jika tidak ingin ketinggalan atau ditinggalkan. Terutama, harus menonjolkan metode dakwah yang lebih bersifat humanis, toleran, dan menerima perbedaan. Tidak lagi terpaku kepada benar salah, halal dan haram.

Mengingat, kehidupan di Mars bisa saja tidak relevan dari sisi teologis نٓ‌ ۚ وَالۡقَلَمِ وَمَا يَسۡطُرُوۡنَۙMayday, mayday, mayday..

Sumber : Status Facebook Munawir Azis

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed