by

Ada yang Ingin NKRI Hancur

Oleh : Budi Santosa Purwokartiko

Kemarin saya diminta mengisi materi Nasionalisme dan Kebangsaan kepada para mahasiswa non muslim ITK. Mereka mengadakan Perkemahan Kebangsaan sebagai ganti acara pembinaan mahasiswa baru.Saya tentu saja senang dan bersemangat. Seperti disuruh nulis cerita Bidan Desi. Yes!Saya tunjukkan pidato Obama yang memuji Indonesia dengan Bhineka Tunggal Ikanya, Unity in Diversity . Luar biasa pidato yang menyadarkan betapa kita harus bersyukur sebagai bangsa yang besar mampu bertahan dalam kemajemukan.Lalu saya tunjukkan pidato Presiden pertama kita Soekarno di depan Konggres Amerika, tahun 1956 dimana beliau menyampaikan secara singkat Pancasila.

Pancasila dalam urutan yang berbeda: believe in one God, Nationalism, Humanity, Democracy dan Social Justice. Pidato yang disambut gemuruh tepuk tangan oleh para anggota Kongress. Sekarang nasionalisme kebangsaan dalam bahaya, ketika ada banyak oknum yang bangga menjelekkan pemerintahnya sendiri. Yang tiap hari menyebar kebencian dan berita buruk. Dalam kondisi susah dimana pun di dunia, mereka tetap tidak sadar bahwa kita berada dalam titik nadir sebagai bangsa. Kita justru perlu saling membantu, bergandeng tangan.

Adik2 mahasiswa perlu punya jiwa nasionalisme yang tinggi, agar bangsa ini tetap berdiri aman. Dengan begitu kita bisa belajar enak, bisa ke tempat ibadah dengan nyaman, bisa ke cafe dengan santai. Jangan nasionalisme dirusak seperti terjadi di Timur Tengah. Tiap hari dengar bom meledak, jutaan rakyat terbunuh karena ego para tokoh yang gila kuasa.Tentu saja juga bicara soal pemerataan pendidikan dan kesehatan serta demokrasi yang memungkinkan orang biasa jadi presiden. Juga menjaga rasa kemanusiaan yang sering harus mengalahkan nasionalisme. Ketika kita membantu sesama lupakan SARA.

Tetapi dalam rangka meningkatkan kesejahteraan sosial perlu tetap dikedepankan rasa nasionalisme.Saya lalu bercerita gimana dulu kami mendapat layanan kesehatan yang super ketika belajar di AS. Istri melahirkan 2 anak dengan gratis, dan layanan istimewa dari RS swasta di sana. Gimana polisi begitu jujur menemukan dompet saya lalu mengantar ke apartemen tanpa minta imbalan sedikit pun, malah senyum dan ucapan thank you yang saya dapat. Nasionalisme kita harus kita pupuk sehingga bisa mewujudkan social justice seperti di AS itu.

***Pagi ini seorang ibu kirim kabar bagaimana 50% dosen sebuah PTN di Sumatera menolak vaksin. Tetapi tetap selera masyarakat tinggi ingin jadi PNS. Di daerah itu banyak yang tidak suka pemerintah pusat.Ya PNS adalah kelompok paling diuntungkan selama Pandemi ini. Tetap terima gaji meski kerja dari rumah. Pemerintah tetap menjamin kelancaran gaji dan tunjangan meski dalam posisi sulit. Harus nambah utang untuk menjaga kesehatan masyarakat dari serangan covid namun tetap harus memastikan aliran gaji PNS dan juga pegawai BUMN aman.

Berulang kali saya ngomong ke anak saya, betapa beruntungnya kita karena bapak PNS. Coba bayangkan kalau karyawan swasta, pasti stress dengan kondisi sekarang. Maka sebagai PNS, selain bersyukur kita harus ikut mendukung program kerja pemerintah menahan penyebaran covid, tidak korupsi dan bekerja dengan sebaik-baiknya. Itu wujud nasionalisme yang paling mudah dilakukan oleh setiap individu.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed