by

Ada Apa Dengan Miras?

Saya menjalankan ibadah puasa karena keyakinan iman saya. Adapun jika ada orang yang berjualan makanan dan minuman di siang hari bolong, sama sekali saya tidak terganggu, saya juga tidak memerlukan penghormatan hanya karena saya puasa. Tak terkecuali Miras. Saya tahu haram, tetapi dikasih gratis pun saya tidak mau. Iman saya menolak. Termasuk, saya bukan polisi syariat yang berhak “ngamuk” dan mengadili perempuan-perempuan yang belum berjilbab dan berpakaian tertutup. Oleh karena itu, saya ingin menegaskan, dalam mengatasi masalah, tidak perlulah kita emosional, seolah-olah paling peduli sendiri.
Tak boleh kita menelan informasi mentah-mentah. Kurang apa kita di Indonesia ini. Ada Majelis Ulama Indonesia (MUI), Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Pengurus Pusat Muhammadiyah dan masih banyak lagi. Dan saya mencium ketidakobjektifan warganet dalam menyikapi masalah Miras. Benar-benar aji mumpung untuk menjatuhkan Presiden Jokowi. Lihat PBNU melalui Ketua Umumnya, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, sama menolak, tetapi menolaknya dengan cara elegan dan tetap proporsional. Lagi pula sejak lama di Jakarta dan di hampir semua daerah peredaran Miras itu sulit dikendalikan.
Wallaahu a’lam
Sumber : Status Facebook Mamang M Haerudin (Aa)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed