by

Waspadai Dampak Neo Taliban Bagi Indonesia

RedaksiIndonesia-Dalam 24 jam terakhir dunia dikejutkan dengan berita bahwa Kabul, ibu kota Afghanistan, jatuh ke tangan Taliban tanpa perlawanan dari Tentara Nasional Afghanistan alias ANA (Afghanistan National Army). Ini adalah kulminasi dari pergerakan Taliban yang sebelumnya sudah berhasil merebut dan menguasai kembali beberapa kota-kota besar di Afghanistan.

Kembalinya Taliban sebenarnya dan seharusnya tidak mengejutkan. Setelah serangan teror 9/11, pasukan koalisi yang dikomandoi Amerika Serikat mentargetkan Taliban karena dianggap memberi tempat dan bekerja sama dengan Al-Qaeda, kelompok teroris pimpinan Osama bin Laden. Kelompok ini yang ditengarai sebagai aktor dari serangkaian serangan teror yang menyerang target-target pemerintahAS, di antaranya adalah Kedutaan Besar AS di Nairobi, Kenya, kapal perang AS USS Cole di Teluk Aden, Yemen, dan puncaknya adalah menara kembar WTC di New York.

“Setelah pasukan AS ditarik dari Afghanistan, terbukti bahwa militer Afghanistan yang sejatinya terfragmentasi berdasarkan suku dan klan tidak mampu untuk bersatu dan melawan pergerakan Taliban. Sehingga, Taliban dengan gampang bisa kembali menguasai Afghanistan dan secara sepihak mendeklarasikan berdirinya Negara Koalisis Islam Afghanistan alias Islamic Emirates of Afghanistan,” ujar analis konflik dan keamanan, Alto Labetubun, di Jakarta, Selasa (17/8/2021).

Dikatakan, dari pola pergerakan Taliban, bisa dianalisis bahwa kelompok yang sekarang adalah Taliban yang secara optik berbeda dengan sebelumnya. Mereka mempertimbangkan rumitnya dinamika suku dan klan di Afghanistan, sehingga model pemerintahan yang dikedepankan adalah pemerintahan kolektif yang mengakomodasi suku dan klan di sana sehingga model yang dipakai adalah model ‘emirate’ yang merupakan koalisi suku-suku. Mereka menghindari model pemerintah Daulah Islamiyah yang lebih mengedepankan kepemimpinan tunggal ala Islamic State alias ISIS.

Kecepatan Taliban untuk kembali menguasai Afghanistan, ujar Alto, juga menunjukkan betapa rapuhnya negara itu, karena ketiadaan perekat persatuan dan kesatuan mereka sebagai bangsa. Loyalitas mereka, termasuk angkatan bersenjatanya, adalah loyalitas pragmatis pada suku dan klan. Sehingga, ketika ada ancaman nasional, mereka memilih umtuk memprioritaskan keselamatan suku dan klan dibandingkan keselamatan bangsa dan negara Afghanistan.

“Ketiadaan rasa nasionalisme itu sangat berkontribusi pada hilangnya keinginan angkatan bersenjata dan seluruh komponen masyarakat untuk menjaga dan mempertahankan keutuhan bangsa dan negara Afghanistan,” kata Alto.

Menurut dia, apa yang terjadi di Afghanistan akan memiliki dampak di Indonesia dan tentunya memberi pembelajaran yang sangat penting bagi bangsaini. Dalam jangka pendek, para pendukung Taliban di Indonesia, yang memosisikan Taliban sebagai simbol perlawanan terhadap negara-negara barat, akan memanfaatkan situasi dalam propaganda-propaganda mereka.

Mereka akan memakai kesuksesan Taliban dalam kampanye merekrut, mencari dana, dan mengobarkan semangat mendirikan negara Islam di Indonesia, termasuk mengadvokasi penggunanan berbagai cara untuk menggerus rasa nasionalisme orang Indonesia. Strategi ini akan diamplifikasi oleh kelompok-kelompok, seperti Hizbut Tahrir dan Ikhwanul Muslimin, yang selama ini mengkampanyekan penggerusan rasa cinta Tanah Air.

Maka, ujar Alto, keberhasilan Taliban menguasai Afghanistan perlu dijadikan pelajaran bagi seluruh rakyat Indonesia bahwa penanaman rasa cinta Tanah Air adalah fondasi utama perekat bangsa. Ini satu-satunya cara untuk menjaga Indonesia agar tidak terfragmentasi dan tidak gampang dihancurkan oleh kelompok-kelompok perusak persatuan dan kesatuan bangsa, seperti Taliban di Afghanistan.

“Semoga, dari apa yang terjadi di Afghanistan, kita bisa belajar bahwa hanya dengan persatuan dan kesatuan yang didasarkan pada nasionalisme dan rasa cinta Tanah Air negara kita bisa kuat menghadapi kelompok yang berniat untuk menghancurkan negara ini lewat penetrasi ideologi tunggal, yang antikeberagaman dan anti-Pancasila,” ujar Alto.

Sumber : Beritasatu.com

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed