by

Orang-Orang Tak Tahu Terima Kasih

Oleh: Supriyanto Martosuwito

Teman saya yang marah marah tak cuma Mat Bento Herman Wijaya, melainkan juga Gunawan Wibisono. Dia marah karena banyak orang Indonesia yang tidak tahu berterima kasih, tidak mensyukuri kebesaran Tuhan yang memberikan berkah ke negerinya. Sebaliknya, malah memuja muja negara lain. Baik karena agamanya, pemimpinnya maupun karena kemajuan ekonominya.

“Banyak orang yang nggak sadar sadar bahwa negeri kita surga!” katanya, dengan nada marah. “Orang orang Bule yang saya kenal, bilang ke saya: negaramu itu surga yang sesungguhnya. “ Matahari bersinar sepanjang tahun, tanaman hidup sepanjang waktu, tidak ada musim dingin. Itu yang disukai bule bule di sini”.

Gunawan lama tinggal di Belanda dan punya pengalaman mengerikan di negeri bermusim dingin itu. Sekali waktu bersama dua temannya asyik pesta di KBRI. Saat pulang dia ketinggalan kereta terakhir di Amsterdam. Akibatnya dia bermalam di stasiun. Saat itu musim dingin.

“Mula mula kami menempati masing masing satu boks telepon. Semakin malam semakin dingin, sehingga kami ngumpul dan berpelukan. Sambil menggigil, kedinginan, mereka teriak teriak dan membacakan bermacam doa, “ kenangnya. Mereka yang beberapa sebelumnya asyik berpesta, mendadak jadi religius. Karena merasa bakal mati. “Tulang tulang membeku!” katanya lagi.

Maka betapa senangnya ketika dia bisa balik ke tanah air. Nyaman di negeri tropis Indonesia.

Indonesia adalah negeri yang punya segalanya, kecuali rasa syukur sebagian warganya – kata Gun. Lebih ceaka lagi, kini sebagiannya dicuci otak untuk anti pada negeri sendiri, dan mengubah menjadi negeri lain.

Diungkapkan, di dunia ini ada negeri yang tak punya laut, seperti Austria, Belarusia, negeri negeri di Asia Tengah dan Laos. Ada negeri tak punya sungai seperti Arab dan Libya juga negeri jazirah Arab lain. Ada negeri yang minim – bahkan tak punya – tambang dan mineral seperti Jepang dan Korea Selatan. Ada juga negeri yang sama sekali tak punya hutan seperti tetangga kita, Singapura.

“Kita di Indonesia memiliki semuanya. Laut, sungai, hutan, hasil bumi, di perut bumi ada semua dan banyak, “ katanya.

DIPROVOKASI oleh kemarahan Gunawan Wibisono, saya pun jadi ikut marah juga.
Jika dia fokus kepada alam, saya mengamati kebudayaan. Bahwa kebudayaan kita bernilai tinggi, kaya, adiluhung, rumit karena dihasilkan dari proses kreatif yang panjang, penuh simbol dan dekat dengan alam.

Budaya Indonesia dipengaruhi oleh empat budaya besar dunia, yaitu India (Hindu), Arab (Islam), dan China (Budha dan Konfisius) dan belakangan budaya Barat (Kristen/Katolik). Namun dalam proses panjang, nenek moyang kita secara kreatif memadukannya.

Sehingga terciptalah baju baju adat Nusantara yang kita kenal sekarang.
Hampir semua budaya adat di bumi Nusantara mengandung garis garis dan simbol yang memiliki artis tertentu, kebajikan dan ajaran untuk pemakainya.

Anda bisa melihat pengantin Betawi, yang merupakan perbaduan China dan Arab. Tarian dan Busana Bali sama sekali lepas dari wajah India yang mengirim Hindu kepada kita.
Tapi kini datang budaya baru, atas nama agama dan atas nama Tuhan, yang menghancurkannya. Semua budaya lokal diharamkan. Seni tari, nyanyi, diharamkan. Wayang kulit, jaipong haram. Cuma ajaran dari Arab saja yang benar, yang membawa ke surga. Anak cucu kita diArabisasi. Diindoktrinasi.

Indonesia adalah negara tropis dan kita di abad 21. Para wanita pamer rambut indah dan pamer lekuk lekuk tubuh seharusnya tidak masalah. Salah satu tujuan dari belajar agama adalah menajan diri. Kalau tergoda ya jangan melihat. Jangan lari dan menutup godaan, tapi menghadapinya. Jangan hidup di goa, asyik sendiri. Anti perbedaan. Egois.

Jangan memanipulasi ayat ayat dan mengesampingkan akal sehat. Ajaran agama dipahami dengan akal, bukan keyakinan dan kepatuhan semata. Bukan semata mata membaca teks, tapi mengaji dan mendalami konteks. Jangan mau dibodohi dan pamer kebodohan.

Dan kepada anak anaku di seantero Nusantara. Pertahankan Budaya Nusantara, karena itu identitas kita sebagai bangsa. Tuhan menciptakan ras yang berbeda beda, dan kita bertahan dengan perbedaan kita. Dan diciptakan kamu bersuku suku dan berbangsa bangsa untuk menganeli satu dengan yang lain. Jangan disamaratakan.
Bagimana bisa saling kenal kalau perempuan dipaksa pakai burqa?

Kerajaan Arab Saudi tak lama lagi akan kehilangan minyaknya. Mereka sibuk mencari devisa baru. Maka sibuk kampanye budaya Arab dalam rangka menciptakan ketergantungan warga negeri mayoritas umat Islam kepada negara mereka.

Lihat saja, bahkan tukang bubur memaksakan diri menabung untuk naik haji – menjadi korban indoktrinasi. Memprioritas perjalanan ke negara asing dan mengabaikan lingkungan negara sendiri atas nama agama.

Padahal kewajibannya hanya bagi yang mampu. Sebab Allah, Tuhan yang Maha Esa ada di mana mana. Di seantero semesta. Kita bisa menjumpaiNya di mana saja dan kapan saja.
Maka utamakan keliling Indonesia, mengenali budaya bangsa sendiri. Mengenali sudara sudara seTanah Air. Kenali jiran kita sesama Melayu di Asia Tenggara.

Barulah pergi ke negeri tempat yang diyakini sebagai rumah Allah. Untuk mendapatkan berkah. ***

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed