by

Tentang Keadilan

Oleh : Gayatri Muthari

Semua orang ingin mendapat keadilan. Cobalah tanya kepada Samuel Hutabarat dan istrinya, orangtua Brigadir Joshua.

Sahabat saya seorang Kristen benar. Memang saya sering mendapat pertanyaan dari Kristen, mengapa ada orang Islam mengatakan Syiah bukan Islam. Seperti sahabat saya sewaktu di SMUN 36 Jakarta bolak-balik membagikan tautan bahwa Syiah bukan Islam. Saya sedih dan kasihan kepadanya. Baru-baru ini konon beredar surat dari Rabithah Alawiyah yaitu organisasi keturunan Imam Ali mengenai larangan memperingati Asyura. Aneh tapi nyata kalau surat itu benar. Lalu, saya temukan SS status akun official mereka tentang hal itu.

Jadi, Syiah dikafirkan dan dipersekusi oleh sesama Muslim. Muslim yang melarang peringatan Suro, padri-padri Islam sendiri yang melarang diceritakan Tragedi Karbala dengan alasan rakyat belum siap. Malah sekarang bukan hanya sembarang Muslim yang melarang peringatan Suro. Tapi juga Rabithah Alawiyah di Indonesia.

Tetangga kita Malaysia, di beberapa negara bagian, Syiah dianggap sesat, bukan Islam. Selama beberapa dekade terakhir, Muslim Hazara di Afganistan mengalami persekusi. Ya, mereka adalah Syiah. Tidak usah jauh-jauh. Bertahun-tahun kasus Syiah Sampang sehingga mereka harus bertahun-tahun di pengungsian di Sidoarjo. Hanya dapat kembali setelah “kembali” menjadi Sunni. Bulan Muharam ini saja, di New Mexico AS empat imigran Muslim Syiah ditemukan tewas terbunuh. Polisi menduga kuat karena sentimen anti-Syiah. Seorang dede Alevi di Turki diserang sepulang dari semah Muharam.

Tentu saja akan sangat mengerikan kalau ada banyak Syiah di kalangan Muslim karena memiliki tradisi peringatan Suro yang kuat. Bayangkan kalau 60% Muslim saja adalah pengikut Bektashi seperti saya. Dan tentu saja akan mengerikan jika banyak Sunni memperingati Asyura serta mengenal sejarah Karbala, misalnya orang-orang Jawa kembali mengetahui kenapa banyak pantang Suro dan tahu kisah Sayyidina Husein. Kenapa begitu? Karena dengan Suro, mengenal Din Islam, bukan milah Islam, yaitu nilai-nilai universal tentang keadilan dan melawan penindasan. Tentang tauhid adalah satu kemanusiaan. Bukan tentang perdebatan fikih, perdebatan teologi, dan semacamnya.

Kaum neoimperialis neokapitalis dengan kapitalisme ekstrem saat ini tentu tak ingin penindasan mereka melalui sistem ekonomi, dilawan bersama-sama oleh Muslim. Jadi, cara-cara seperti Snouck Hurgronje dilakukan. Muslim dialihkan berfokus pada ritus dan doktrin dan teologi. Bukan pada kemanusiaan dan keadilan, sehingga tidak protes lagi kepada kolonial Belanda. Snouck dibantu ulama, habib, pangeran, dan Muslim yang menjual diri mereka.

Dulu begitu. Sekarang masih sama. Dulu dialihkan fokus kepada haji, dibikin tren haji itu prestise. Orientalis membagi umat Islam dengan abangan dan santri dari ritus. Maka, orang yang tidak ritus salat dianggap tidak Islami. Rukun Islam dimapankan jadi kriteria iman. Dan, seterusnya. Muslim pokoknya harus lupa pada kemanusiaan dan keadilan, menurut pada imperialisme-kolonialisime. Kalau pun ingat kemanusiaan dan keadilan, disuapi dengan nilai-nilai egosektarian.

Saya tanya, seluruh masyarakat Indonesia marah dengan yang dialami Brigadir Joshua, iya kan? Dia baru satu orang itu. Bayangkan jika ada 72 Brigadir Joshua, dari bayi sampai uzur, dipanah bahkan dipenggal. Itulah Karbala. Itulah Asyura. Sejarah yang ingin dibungkam kaum penindas seperti neokapitalis saat ini yang menjalankan kapitalisme ekstrem karena jika semua Muslim sadar sepenuhnya akan makna Suro, kepentingan mereka akan tergoncang. Mereka mungkin akan mengalami seperti Jendral FS saat ini. Bayangkan jika semuanya terbongkar.

sidhamastu.

Sumber : Status Facebook Gayatri Muthari

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed