by

Soekarno, Mandela dan M Gandhi

Oleh : Deni Supriyatno

Afrika Selatan boleh berbagga memiliki Pahlawan seperti Nelson Mandela. Seorang pejuang kemanusiaan yang hampir selama dua dekade suaranya di bungkam terali besi penjara kaum minoritas kulit putih. Hingga akhirnya dunia menekan untuk pembebasan Nelson. Nobel perdamaian adalah satu bukti bahwa dirinya begitu spesial tidak hanya di afrika selatan namun juga di dunia. Berkat perjuangan dan pemikiran Nelson mandela, diskriminasi atas warna kulit atau ras terkikis bahkan hilang dari bumi afrika. Menjadi Presiden pertama kulit hitam bagi negaranya hanyalah simbol dari pembebasan berpendapat dan berekspresi (tanpa tersekat warna kulit).

Barack Obama (menjadi presiden kulit hitam pertama Amerika Serikat) adalah salah satu buah manis dari perjuangan Mandela. Dan begitulah dunia mengenal Nelson Mandela, beliau akan selalu hidup dalam pemikiran anti apartheid-nya.

India boleh berbangga karena tanah hindustan memiliki seseorang seperti Mahatma Gandhi. Ahisma (anti-kekerasan) sebuah pemikiran yang lahir dari rasa ketidak-adilan (diskriminasi) kaum kulit putih. Gandhi mengajarkan orang India yang hidup di Afrika Aelatan kala itu untuk tidak bekerjasama dengan Kulit Putih. Inilah yang sering disebut perlawanan pasif (anti – kekerasan). Lalu ada satyaghara sebuah pemikiran yang lahir akan ketidak nyamanan dirinya oleh penindasan kolonialisme Inggris. Satyaghara adalah sebuah bentuk perlawanan atas kesewenang – wenangan penjajah tanpa kekerasan. Ya tanpa kekerasan, ajaran yang selalu di tanamkan Mahatma Gandhi, bahwa kejahatan tidak perlu dibalas dengan kejahatan. Seperti api yang hanya padam oleh air, Kejahatan hanya akan luluh pada kebaikan.

Dan begitulah Mahatma Gandhi (dalam bahasa sansekerta berarti jiwa yang agung). Beliau akan selalu hidup dalam pemikiran – pemikiran luhurnya.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Kita (warga negara Indonesia) wajib berbangga dengan lahirnya putra sang fajar “Soekarno” di bumi pertiwi. Lewat pemikiran – pemikiran beliaulah NKRI berdiri kokoh hingga hari ini. Di atas pondasi (Pancasila) beragam suku terikat, beragam warna kulit bersatu, beragam Agama saling menghormati, beragam budaya saling menghargai dalam satu bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ada marhaenisme yang mengajarkan kita akan rasa senasib sepenanggungan. Rasa yang timbul akibat kesewenang – wenangan kolonialisme barat pada rakyat Indonesia. Dan Soekarno menjadi motor penggerak pergerakan – pergerakan Nasionalisme.

Ada juga prinsip non blok yang memilih sikap tidak memihak pada siapapun. Gerakan non blok bukan menggambarkan Soekarno yang plin plan, melainkan lebih kepada menunjukan sikap untuk tidak mendukung peperangan yang terus di kobarkan dua blok sekutu. Karena perdamaian diatas dunia harus di tegakan.

Dan masih banyak lagi pemikiran beliau yang mampu menggugah bukan saja untuk bangsa sendiri melainkan juga untuk kehidupan bangsa lain.

Dan begitulah Soekarno (panglima tangguh dan berwibawa). Beliau akan selalu hidup dalam pemikiran – pemikirannya.

Dan di hari lahirnya kini 06 Juni. Aku berharap pemikiran beliau akan selalu hidup di dada setiap pemuda bangsa. Karena seperti Pancasila, ide dan pemikiran beliau sangatlah dinamis. Tidak akan tersekat ruang dan waktu. Salam Marhaen .** (ak)

Sumber : blogdetik

 

 

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed