by

Salah Kuliah

Oleh : Ahmad Sarwat

Lulus SMA saya mendaftarkan kuliah di dua tempat sekaligus. Pertama mendaftar di kampus negeri yaitu UGM. Kedua mendaftar di kampus negeri juga, tapi IAIN Sunan Kalijaga Jogja (sekarang jadi UIN). Alhamdulillah dua-duanya diterima. Tapi saya akhirnya putuskan ambil satu saja yaitu UGM. Sedangkan IAIN nya tidak saya ambil. Kenapa? Karena waktu itu cuma buat jaga-jaga saja, siapa tahu di UGM nggak keterima, minimal ada back-up nya. Dan karena di UGM keterima, maka IAIN saya lepas. Lagian yang di IAIN itu saya juga nggak paham mau ngambil kuliah di fakultas apa.

Jadi cuma menerka-nerka saja. Ternyata kalau saya ingat-ingat lagi saya ambil jurusan Perbandingan Agama. Fakultasnya apa ya? Mungkin Ushuluddin.Dalam benak saya kuliah perbandingan agama itu kira-kira kayak materi kristologinya para muallaf. Isinya cari-cari kelemahan agama lain sambil memuji-muji agama kita. Tapi karena saya tidak jadi ikut kuliah disitu, sampai hari iini saya pun tidak tahu belajar apa ya. Tapi lucunya lagi akhirnya saya pun keluar juga dari UGM.

Setelah sempat ikut kuliah 3 semester. Kok saya seperti kurang dapat manfaat ya kuliah disitu. Ada yang tahu di UGM saya ambil fakultas apa? Fakultas Filsafat. Ya itu bukan jurusan. Itu nama Fakultas. Saya juga tidak paham dulu sewaktu memilih, dalam benak saya lewat filsafat itulah nanti saya bisa menemukan Tuhan, Agama dan Keimanan. Tapi begitu saya ikuti perkuliahan, malah ketemu dengan para filosof aneh-aneh. Siapa itu namanya yang bilang: saya berpikir maka saya ada. Rene Descartes atau siapa lah.

Mata kuliahnya juga aneh-aneh, rada asing bagi saya. Yang masih nyantel dulu saya beli buku Pengantar Filsafat yang ditulis oleh Katsof. Apalagi di masa itu jadi mahasiswa Fakultas Filsafat saya rada gamang nantinya mau jadi apa. Kalau mau jadi dosen kan nilainya harus tinggi. Padahal saya kuliah cuma buat menggugurkan kewajiban sebagai anak. Kepada saya di keluarga ditanamkan pesan, kudu jadi sarjana. Jangan putus kuliah.

Waktu itu tahun 1990, oleh murabbi saya di Jakarta, almarhum Ustadz Rahmat Abdullah saya ditransfer ke Alm. Ustadz Yunahar Ilyas. Jadilah beliau itu murabbi saya. Saya kok senang ikut liqo’ bersama beliau tiap malam Selasa bakda Isya’. Waktu itu kita baca kitab gundul, yaitu (ماذا يعني إنتمائي للإسلام) karya Fathi Yakan. Maka ketika saya gamang mau keluar dari kuliah di UGM, beliau tawarkan kenapa nggak pindah ke LIPIA saja? Ting . . .

Ya, kenapa saya nggak balik ke Jakarta saja. Orang dari seluruh Indonesia pada rebutan masuk LIPIA. Kenapa saya malah ke Jogja. apa yang mau dikejar? Semakin mantablah saya hengkang dari UGM dan berupaya lolos tes masuk LIPIA. Walaupun tidak mudah juga. Sebenarnya saya juga ingin kuliah di Al-Azhar Mesir seperti orang tua saya. Lagian kan saya lahir di Mesir juga. Tapi ijazah SMA saya di zaman segitu tidak diakui oleh Al-Azhar. Kalau mau nekat, kudu turun gunung sekolah Aliyah lagi di Mesir. Dan saya kok ogah. Tapi saya rugi usia kalau kuliah di LIPIA. Karena syaratnya kudu memulai dari program persiapan bahasa, I’dad Lughawi 2 tahun, tes lagi untuk masuk program Takmili 1 tahun. Tes lagi untuk bisa diterima di fakultas Syariah.

Jadi saya di kelas paling tua. Teman seangkatan saya rata-rata adik saya dua tahun di bawah. Gara-gara nyasar dulu ke UGM. Tapi tidak apa-apa rugi dua tahun dari pada tidak sama sekali. Toh karena paling tua di kelas, teman-teman saya jadi hormat pada saya. Apalagi saya anak Jakarta, yang punya wilayah. HeheKuliah di LIPIA bagi saya agak cocok, karena saya belajar apa yang memang jadi kebutuhan saya, yaitu kepengen jadi ustadz.

Habisan tiap hari saya gaulnya sama anak ROHIS, apa-apa kudu tanya ustadz. Ya, kepengen lah saya jadi ustadz. Sebelumnya di Jogja sih saya cuma sok jadi ustadz, tapi rada gadungan. Ngakunya sih ustadz tapi nggak ada ilmunya. Bahasa Arab pun nggak menguasai. Begitu kuliah di LIPIA, barulah terbuka banyak hal. Ada banyak cabang ilmu yang benar-benar baru buat saya.

Fiqih Perbandingan, Ushul Fiqih, Qawaid Fiqhiyah, Tafsir, Hadits dan lainnya. Hebatnya lagi, semua disampaikan dalam bahasa Arab oleh orang Arab. Dan mengunakan kitab berbahasa Arab. Saya kok jadi merasa menemukan apa yang sebenarnya selama ini saya cari. Tekad saya saat itu saya ingin mengajarkan semua ilmu yang saya terima kepada khalayak. Beruntung dulu saya keluar dari UGM. Kalau tidak, saya tidak membayangkan jadi apa saya hari ini.

Mungkin jadi ustadz juga, tapi mentok di ilmu dan literasi. Paling jauh bisanya cuma memberi motivasi. Ibarat makan mie instan rasa sapi. Tapi tidak ada sapinya, cuma rasa sapi bukan dagingnya. Mau baca kitab tidak bisa dan tidak punya juga. Masak mau ceramah pakai buku Pengantar Filsafatnya Kattsoff?

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed