by

Saat Jalani Isolasi Mandiri

Oleh : Rijal Mumazziq

Isolasi Mandiri itu nggak enak. Biasanya keluyuran, muter kayak kitiran kesana kemari, eh harus “ndekem”. Nggak boleh keliling. Apa boleh buat. Komitmen harus dijalankan. Dan kepatuhan atas kondisi yang tidak menentu, juga menghindari fitnah harus dijalankan.Setidaknya ini yang saya rasakan, hingga isoman saya berakhir pada 4 Agustus mendatang. Tolah-toleh sendiri di rumah milik Ustadz Aad Ainurussalam, penceramah kondang itu.

Tiap hari hanya menjalani rutinitas di kamar, duduk di ruang tamu, ke dapur, lanjut halaman belakang, kemudian ke ruang tengah. Bosan? Iya. Tambah gendut? Tentu saja. Hahahaha. Gimana nggak tambah nyempluk, wong dikirimi saudara dan para sahabat kebutuhan komplit: bebek goreng, gurami bakar, mie ayam, nasi goreng, buah pir, anggur, kelengkeng, apel, roti, dll. Ini belum lagi kepedulian sahabat lain yang mengirimi multivitamin dan obat anti virus. Bagaimana agar isoman bisa menjadi lebih bermakna? Jiaaaah….

Selain baca beberapa buku karya Mas Irfan Afifi tentang Islam Jawa, karya Mbah Yaser Muhammad Arafat tentang SLANK, juga Mas Ayung Notonegoro tentang sejarah dan kiprah kaum Nahdliyyin di Banyuwangi, tak lupa karya Mbak Afifah Ahmad tentang Jalaluddin Rumi. Setidaknya cara ini ditempuh biar otak tetap waras. Membaca karya para sahabat ini mengasikkan. Lintas genre. Di masa isoman ini, saya menghindari tontonan dan status FB tentang teori konspirasi soal Covid-19. Kalau ada sahabat yang ngeshare biasanya langsung skip. Mengapa?

Teori konspirasi ini persis jajanan Chiki. Gurih tapi nirgizi. Meyakinkan tapi seringkali gampang dipatahkan. Biar tetap waras dan tidak stress, menikmati Stand Up Commedy adalah salah satu alternatif. Komeng dan Cak Lontong jadi pilihan. Juga, mencicil kembali naskah buku “Mata Air Keteladanan Ulama Indonesia” yang sempat terlantar agar kemampua menulis tetap terjaga. Sisanya, ya menghabiskan waktu leyeh-leyeh sembari mendengarkan ceramah Gus Baha’, Habib Lutfi bin Yahya, Habib Umar Muthohar, Gus Dur, Kiai Agus Sunyoto, KH. Hasyim Muzadi, juga nyetel rekaman ngajinya Masyai Ulil Abshar Abdalla.

Ada satu hal yang bisa kita cermati dari ceramah beliau-beliau ini: tidak menggurui, penggunaan dalil yang pas, citarasa nasionalisme yang kuat, serta pembacaan sejarah yang tidak monolitik. Jika kepala mulai ngelu karena materi yang kadang sulit dicerna, saya pilih nonton film. Gus Zainil Ghulam Abd Ketua PCNU Kencong itu, sejak ngasih link Netflix, email beserta passwordnya, jadi bisa mengakses dengan mudah. Juga pilihan beberapa film yang direkomendasikan beliau. Termasuk menonton beberapa film India yang direkomendasikan Mas Uziek , pengelola website film Bollywood itu.

Dari sekalian film yang ditonton, saya memilih yang drama. Bukan eksyen, apalagi thriller atau horor. Di antara yang terbaik, menurut saya The Ultimate Gift (2006), tentang seorang pemuda yang hedonis tapi berangsur memahami makna hidup setelah mendengar rekaman pesan dari kakeknya, dan kedekatannya dengan seorang bocah pengidap kanker. The Bucket List (2007) yang dibintangi Jack Nicholson dan Morgan Freeman, bercerita dua pria sepuh yang sama-sama sakit dan diprediksi umur tak panjang lagi. Satu milyader yang kurang mensyukuri hidup dan kesepian, satu lagi pria miskin yang suka membaca dan punya cita-cita mewujudkan beberapa hal sebelum mati. Keduanya menjalani persahabatan yang unik dan berusaha menemukan makna kehidupan dan kehangatan keluarga, sebelum mati.

Castaway on the Moon (2009), film Korsel. Tentang seorang pria yang putus asa, berusaha bunuh diri tapi gagal, dan terdampar di pulau sendirian. Justru di situ dia menemukan makna hidup dan persahabatan dengan seorang gadis yang terasing dari keseharian dan keluarganya. The Boy Who Harnessed The Wind (2019). Film diangkat dari kisah nyata berdasarkan isi buku yang ditulis oleh William Kamkwamba dan Bryan Mealer dengan judul yang sama. Kisah seorang bocah miskin dari Malawi yang punya keinginan kuat mengatasi kekeringan di desanya. Dia mendayagunakan pengetahuan yang dia dapat di sekolah untuk merangkai kincir angin dengan mekanisme fisika sederhana. Survival Family (2016). Film Jepang ini asyik. Selama ini manusia bergantung pada listrik dan perangkat teknologi, dan ketika tidak berfungsi, mereka kelimpungan. Pada akhirnya jiwa penyintas muncul secara naluriah, kembali kepada alam dengan memanfaatkan tumbuhan di sekitar, dan kehangatan keluarga di tengah ketidakberdayaan menjadi titik sentral film ini.

Nil Battey Sannata (2015). Film Bollywood yang bagus. Tentang seorang single mother yang berusaha memotivasi anak ceweknya agar semangat bersekolah. Film bertema pendidikan yang layak disejajarkan dengan English Vinglish-nya Sri Devi, Taare Zameen Par dan 3 Idiots-nya Aamir Khan, Hichki-nya Rani Mukherjee, Super 30-nya Hrithik Roshan, Ratchaasi-nya Jyotika, Hindi Medium-nya Irrfan Khan, serta Chalk And Duster-nya Juhi Chawla.Kalau masih bosan, bisa nonton video bikinan Mas Agus Amarullah yang lucu dan kreatif, yang selalu dirilis di FB-nya. Ayo dulur-dulur yang sedang Isoman, tetap semangat, menjaga kewarasan nalar dan fisik, serta ruhani. Jangan lupa tetap bahagia. ❤️

Sumber : Status Facebook Rijal Mumazziq

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed