by

Bagai Langit Tanpa Biru

Oleh: Nestor Rico Tambunan

Anjir! Goblok! Kok, banyak benar yang tak wajar dan tak masuk akal begini di negara ini?

SEORANG jenderal polisi dengan enteng membunuh ajudannya sendiri di rumah dinasnya. Searogan dan sekonyol itu. Dan lebih konyol, penyidik tak mau mengungkap fakta alasan (motif) sesungguhnya pembunuhan itu.

Anjir. Berbulan, dari pagi sampai pagi lagi, ratusan juta orang di negara ini membicarakan kasus ini. Ada berjuta berita opini mengenai peristiwa ini. Berita opini mengenai fakta. Bukan berita fakta.

Opini mengenai fakta bukanlah fakta. Jadi konyol, tauk. Kenapa sih tidak diungkap saja, benar ada atau tidak pelecehan? Si ibu dilecehkan atau melecehkan diri? Dengan siapa? Si ajudan atau sopir? Atau itu hanya dalih, menyembunyikan fakta lain?

SEORANG anggota DPR dalam sebuah dengar pendapat melontarkan kalimat TNI mirip gerombolan. Lalu diributkan media-media kurang berita. Lalu muncul beribu opini mengenai fakta pendapat itu. Sekali lagi, opini mengenai opini.

Lalu komandan satuan-satuan TNI melontarkan kalimat protes campur ancaman sambil mengacungkan tinju, seraya menyebut nama si anggota DPR. Jadi benaran seperti kelompok gerombolan.

Anjir. Orang sudah tahu anggota DPR memang sering arogan dan suka ngomong seenaknya. Seperti paling benar dan pintar, meski omongnya tidak berbobot, bahkan kadang mengutip berita hoaks. Tapi mestinya pimpinan tertinggi tentara itu tak membiarkan komandan-komandan satuannya main ancam-ancam sehingga jadi benaran seperti gerombolan. Ditanggapi dan diselesaikan dengan cara jenderal lah. Mestinya.

SEORANG gubernur terpantau lembaga pengawas transaksi keuangan melakukan transaksi-transaksi keuangan tidak normal. Salah satunya transaksi ke situs judi bernilai 560 miliar.

Anjir! Dari mana uang itu? Seberapa kaya seorang gubernur? Kalau uang itu berasal dari dana APBN, APBD, atau dana keuangan negara yang lain, kurang ajar benar! Daerah dan rakyatnya masih tertinggal dan miskin, kok dana dipakai main judi?

Ya, harus diperiksa, dong. Tapi si gubernur bak raja, menolak diperiksa. Rakyatnya juga ramai-ramai membela agar gubernurnya tidak diperiksa. Anjir! Negara ini punya aturan dan hukum. Ini bukan urusan suku atau paguyuban. Negara berhak menjemput paksa kalau sudah ada bukti ketidakberesan.

SEORANG artis yang terkenal suka berpenampilan dan ngomong sesukanya muring-muring mengatai seorang jurnalis perempuan yang terkenal kritis dan punya reputasi karena si jurnalis mengkritisi kepolisian. Ucapan-ucapan si artis campur aduk antara memarahi, melecehkan, menuduh, dan memfitnah. Omongan yang cukup dijadikan bahan menuntutnya melakukan tindakan pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan.

Anjir! Orang yang waras mestinya tahu si artis berbeda kerja, wawasan dan level dengan si jurnalis. Kenapa orang bisa sekonyol ini? Untuk menaikkan follower dan subcriber? Tapi kok seperti orang frustasi, mempermalukan diri sendiri?

Toto Irianto, Supriyanto Martosuwito, dan teman jurnalis senior, termasuk para senior terhormat di Forum Pemred, ingin bertanya, apa sebenarnya yang terjadi pada masyarakat dan pers kita ini? Tidak bisakah Pers berusaha mencerdaskan sedikit bangsa ini? Mohammad Fauzy, teman yang memahami pers dan psikologi, gejala apa sebenarnya yang melanda masyarakat kita ini?

Orang berpikir besar akan bercerita tentang ide. Orang berpikir menengah akan bercerita tentang peristiwa. Dan orang yang berpikir kerdil akan bercerita tentang orang lain. Sungguh, saya jadi merasa seperti orang kerdil. Hidup ini terasa seperti langit tanpa biru. Tanpa awan. Tanpa panorama yang wajar…

(Sumber: Facebook Nestor Rico Tambunan)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed