by

Review Film, “Kucumbu Tubuh Indahku”

Kisah ini mengajak kita memahami dan berempati pada orang kecil seperti Juno, yang hidupnya keras dan problematik. Film berbahasa Jawa ini (dengan subtitle bahasa Indonesia) dikemas dengan indah, artistik dan kaya makna. Tidak heran, ia meraih berbagai penghargaan internasional. Bahkan film ini sempat diputar di kantor pusat UNESCO di Paris, sebab mendapat penghargaan “keragaman budaya.” Ironisnya, di Indonesia justru film ini diboikot karena dituduh “mempromosikan LGBT.” (For your info: yang menuduh kebanyakan belum nonton filmnya; baru nonton trailer-nya di YouTube!). Padahal kalau mau bicara film dengan “tema LGBT”, film “Bohemian Rhapsody” jauh lebih vulgar mengangkat tema gay (dan narkoba)! Anehnya film itu tidak diboikot, malah laku keras. Sebaliknya film garapan Garin Nugroho yang mengangkat tradisi budaya kita sendiri malah dicap “tidak sesuai dengan budaya dan norma kita.”

Ya udah deh. Film ini memang tidak cocok ditonton oleh mereka yang cara pikirnya hitam-putih atawa munafik. Ini film serius yang membuat kita berpikir terbuka. Open-minded. Kemarin sekeluar dari gedung bioskop, saya bersyukur bisa nonton tayangan bermutu ini. Kebanyakan pengunjung bioskop kemarin nonton “Avengers: Endgame.” Film itu memang menghibur, tetapi film yang satu ini bukan sekedar menghibur. Ia mengajak kita merenung. Ia mengajar kita berempati.

Sumber : Status Facebook Juswantori Ichwan

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed