Oleh : Musrifah Ringgo
Salah satu nama yang hampir terus menerus muncul dalam survey Capres 2024 adalah Prabowo Subianto. Mantan 2 kali Capres dalam 2 kali Pilpres dan 1 kali cawapres itu sepertinya masih dibicarakan orang. Namun benarkah bakal mendapat respon besar saat Pilpres 2024 mendatang? Tentu terlalu dini menyimpulkan hal itu saat ini dimana pemilu masih lama atau 3 tahun lagi. Peta masih mudah berubah dan gampang berganti. Publik pun belum banyak yang berpikir siapa kandidat layak menjadi Presiden berikutnya.
Dalam survey Charta Politika 12 – 20 Juli 2021, Prabowo Subianto meraih 17,5 persen dan berada diurutan ketiga dibawah Ganjar Pranowo serta Anies Baswedan. Kemudian pada survey New Indonesia Research dan Consulting yang dilakukan pada 21 – 31 Juli 2021, nama pendiri Partai Gerindra juga berada diposisi kedua dibawah nama Ganjar Pranowo dengan elektabilitas 16,7 persen dan disusul Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil yang menempel ketat dengan 16,1 persen.
Sedangkan dalam Survey Indonesia Political Opinion pada 2 – 10 Agustus 2021, nama mantan menantu Presiden ke 5 berada di posisi 5 dengan elektabilitas 7,8 persen berada dibawah Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, Sandiaga Uno serta Agus Harimurti Yudhoyono. Pada survey SMRC 15 – 21 September 2021, menempatkan Prabowo Subianto diposisi pertama dengan dukungan 18,1 persen disusul Ganjar Pranowo maupun Anies Baswedan diurutan kedua dan ketiga. Tentu 4 hasil survey tersebut menjadi pegangan seluruh jajaran Gerindra untuk mengolah dan menaikkan nama Prabowo makin kuat hingga 2024 mendatang.
Keuntungan yang dimiliki ayah 1 anak ini tidak hanya memiliki partai, namun juga pengalaman dalam pertarungan Pilpres. Apalagi suara partai berlambang burung Garuda di 2019 mampu berada di posisi kedua dibawah PDIP setelah pada Pemilu 2014 berada di urutan ketiga dibawah PDIP dan Golkar. Modal besar ini harus mampu di optimalkan dengan baik. Namun mereka harus cermat agar posisi unggul ini tidak menjadi boomerang dalam Pemilu 2024 seperti yang terjadi dalam Pemilu 2014 dan 2019.
Dengan mengusung isu rasis, memainkan isu sektarian, serta berkolaborasi dengan partai yang cara kerjanya justru malah menjatuhkan sang kandidat. Kita belum lupa pernyataan PKS yang mengklaim menemukan 7 kontainer surat suara sebagai bukti gugatan siding Pilpres di MK tahun 2014. Atau pengakuan Andi Arief yang mempertanyakan surat suara tercoblos di Pelabuhan pada 2019. Padahal saat itu, desain surat suara saja juga belum disahkan.
Pola-pola bertarung yang serampangan begini sejatinya sangat merugikan Prabowo. Apakah di 2024 nanti dirinya bakal berkoalisi dengan partai besar atau partai kecil? Bila ingin berkoalisi dengan parpol besar tentu lebih sulit sebab posisi tawar Gerindra harus menerima banyak konsesi, sedang bila didukung partai medioker, mengendalikan cara berkampanye bisa malah menjerumuskan dirinya. Maka dari itu, proses menuju Pilpres 2024, tim Prabowo harus benar-benar jeli dalam membuka ruang koalisi agar rencana berjalan dengan mulus.











Comment