by

Saatnya Menghukum Prabowo

Oleh: Kajitow Elkayeni

Langkah Jokowi untuk merangkul Prabowo-Uno ke dalam pemerintahan sebenarnya patut diapresiasi. Itu adalah contoh bagaimana politik berjalan dengan damai di Indonesia. Dan karena itu pula, professor dari Singapura, Mahbubani, memuji Jokowi.Peneliti di Asia Research Institute of the National University of Singapore itu menyebut Jokowi jenius dan teladan pemerintahan yang baik bagi dunia.

Saya setuju dengan Mahbubani, jika ukurannya adalah stabilitas politik, masuknya Prabowo merupakan langkah yang cerdas. Namun jika dilihat dari efektivitas kinerja pemerintahan dan upaya untuk meredam keterbelahan di akar rumput, jawabannya tidak.Prabowo sampai saat ini bermain dua kaki.

Satu kakinya ada di bawah kendali Jokowi sebagai menterinya. Sementara kaki yang lain adalah kaki partai yang bebas bergerak melakukan “kudeta kepercayaan” publik terhadap sosok Jokowi.Jika mengamati dari sudut pandang politik, tentu saya harus memuji langkah Prabowo itu. Tapi jika saya tambahkan beban moral dan kepentingan untuk merawat Indonesia, pendapat saya sebaliknya.

Prabowo itu tak tahu malu. Dia bukan oposisi yang tegas. Sewaktu ada di seberang barisan, Jokowi dihabisi. Namanya dicemarkan sedemikian rupa. Sampai-sampai orang yang ada di pelosok Jawa Barat percaya Jokowi itu komunis yang anti-Islam.Gara-gara serangan hitam itu pula, orang-orang di pelosok Sumatera Barat percaya Jokowi dikendalikan Cina, Indonesia menuju jurang kehancuran karenanya.

Tapi ketika melihat ada peluang untuk merapat, dia melangkah maju tanpa merasa berdosa telah merusak nama Jokowi sebelumnya.Dosa Prabowo yang paling besar adalah membiarkan pendukungnya menyebarkan hoax tentang Jokowi saat Pilpres. Untungnya Jokowi bersabar dan berbesar hati melupakan itu semua.

Namun efek buruk terus ada sampai sekarang.Itu artinya, meskipun Prabowo telah merapat, tapi racun yang disebarkan saat Pilpres terus menjalar dan menggerogoti bangsa ini. Prabowo dan partainya tidak ada niat untuk membersihkannya. Bahkan ada kesan untuk terus merawatnya sebagai aset.

Yang paling jelas terlihat adalah ulah tangan kanan Prabowo yang bernama Fadli Zon. Komentar sinisnya terhadap pemerintah dan aparat hukum sungguh mengghina nalar sehat. Pernyataannya yang meminta Densus 88 dibubarkan itu menunjukkan Fadli telah sampai titik kritis layak untuk dijadikan sebagai common enemy.

Densus 88 itu pertahanan utama kita melawan teroris. Kalau sampai kredibilitasnya di-downgrade oleh orang macam Fadli, itu akan meruntuhkan semangat dan dedikasi mereka. Masak orang yang gak ada jasanya bagi Indonesia dan keamanan masyarakat bisa seenaknya menggugat eksistensi Densus 88?

Saya paham, Fadli Zon berbuat itu demi menyelamatkan suara partai. Untuk menjaga konstituen di Sumbar dan Jabar. Agar Gerindra tetap dikenal sebagai partai oposisi yang cadas dan brutal.Tapi itu kan menyakiti Jokowi. Karena Prabowo itu ada di struktur pemerintahan Jokowi. Masih ada banyak topik untuk dijadikan strategi “bermuka palsu” di depan publik. J

adi jika seseorang yang sangat liberal seperti Fadli Zon ingin tampak agamis, masih ada banyak bahan untuk membranding dirinya demikian.Apalagi dengan ocehan Fadli itu, membuat para radikalis merasa mendapat angin segar. Mereka merasa ada yang mewakili suara mereka dari wakil rakyat dan orang dekat seorang Menteri Pertahanan.

Padahal selama ini pemerintah dan aparat mati-matian meredam mereka. Kelompok itu dipreteli satu-persatu. Ormasnya dibubarkan, rekeningnya dibekukan. Mereka gemetar di pojokan dan merasa telah kalah. Namun karena satu ocehan Fadli membuat mereka bersemangat lagi. Masih ada harapan untuk melakukan perlawanan.

Dengan dampak yang demikian hebat itu, masak Prabowo gak sanggup mengendalikan mulutnya Fadli Zon? Fadli itu kan hanya boneka. Ocehan Fadli itu ada karena mestinya ada restu dari Prabowo. Sejak Pilpres sudah begitu. Dia berani membuka front dengan banyak pihak karena merasa ada 08 yang jadi beking di belakangnya.

Di sinilah saya pikir harus ada langkah tegas dari Jokowi. Harus ada ultimatum, Prabowo tetap di gerbong pemerintah dengan jaminan mengekang mulutnya Fadli agar tidak menggigit sembarangan.Silakan bermuka palsu di depan konstituen, tapi hormati juga sosok Jokowi sebagai Presiden. Hormati jabatan Prabowo sebagai Menteri Pertahanan.

Jika itu tidak bisa dilakukan, maka Prabowo harus ditendang bokongnya. Biarkan dia jadi oposisi yang lapar sampai Pilpres berikutnya.

(Sumber: Facebook Kajitow E)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed