by

Perempuan Afgan Menggugat

Oleh : Karto Bugel

Para perempuan itu lahir, tumbuh dan berwajah Indonesia. Anehnya, banyak dari mereka yang kini justru berusaha mengharamkan warisan budaya nenek moyangnya. Kebaya dan busana khas ke-Indonesiaan lainnya kini mereka cecar sebagai hal tak baik. Dan hanya hitam saja bungkus paling layak melekat pada tubuhnya. Dengan mudah hal itu kini dapat kita jumpai dalam benderang tanpa sungkan ketika mereka berucap melakukan promosi bahkan pada ruang publik.Ini trend global. Bukan hanya negeri kita sendiri yang dilanda masalah seperti ini.

Seperti virus, dengan cepat dia hanya akan menjangkiti badan yang tak sehat. Seperti virus, proses ini hanya akan berlangsung dan sukses pada bangsa yang sedang tak bangga pada dirinya sendiri. “Adakah kita sedang tak bangga menjadi Indonesia?” Itu bukan proyek yang dibuat kemarin dan hari ini panen. TSM sebagai pola telah dijalankan jauh hari. Secara terstruktur dia telah disusun dan direncanakan menggunakan pola yang rapi dengan metode yang juga sudah mereka uji cobakan pada banyak negara. Afghanistan, Balkan hingga kawasan Arab.

Secara sistematis itu juga terlihat pada cara mereka memulainya yakni masuk pada banyak ruang kebersamaan kita. Itu dimulai dari sekolah-sekolah dan merembet pada banyak birokrasi pemerintah bahkan hingga pada aparat hukum dan keamanan. Mereka kini telah memiliki jaringan luar biasa rumit di sana. Secara massif terjadi ketika pemerintah pada periode tertentu seolah terkesan menyambut dan membuka pintunya lebar-lebar. Ingat hatei dengan paham yang yang tak ramah pada Pancasila yang diijinkan melakukan konsolidasi di Senayan? Hasilnya, kini kita memang sedang terlihat tak bangga dengan budaya kita sendiri. Meski perlu waktu bertahun-tahun, dengan sabar mereka terus bergerak. Gerakan itu kini telah memberi panen dalam rupa sukses membuat kewarasan kita tumpul. Dan itu adalah ladang subur bagi virus semacam itu.

Setumpul apa kewarasan kita kini, berbanding lurus dengan secepat apa kita terlihat semakin mudah saling menjatuhkan pada sesama anak bangsa. Dan…,itu telah terjadi.Aceh telah mampu membuat Sumatra Utara memiliki warna itu. Sumatra Barat, Jambi dan Riau pun secara perlahan mulai kehilangan budayanya. Tak terlalu berlebihan bila kita mulai khawatir bahwa tradisi pada daerah itu kini seolah hanya menjadi kepanjangan budaya Arab. Pucat wajah ke-Indonesiaan kita adalah bukti bangsa ini sedang tak sehat. Saling maki pada sesama anak bangsa dalam suara yang terdengar semakin riuh adalah tanda bahwa batuk telah terdengar dari tubuh ini. Haruskah kita tak khawatir?

Di luar sana, warna-warni sebagai milik yang telah terampas kini terdengar sedang mereka perjuangkan kembali. Perlawanan terhadap pengaruh budaya Arab atas nama agama berlangsung melalui unjuk rasa busana. Warna-warni pakaian sebagai bagian dari tradisi dan budaya asli mereka gaungkan. Afganistan menggugat.Tagar #DoNotTouchMyClothes dan #AfghanistanCulture dalam rupa foto-foto busana tradisional mereka yang penuh warna mereka bagikan secara online.

Tiba-tiba dunia menoleh. Tiba-tiba kerisauan akan identitas dan kedaulatan Afghanistan yang sedang diserang kelompok radikal palahap kebahagian menjadi trending topik dunia.Itu dimulai oleh Dr Jahar Jalali, profesor sejarah dari American University Afghanistan. Konon Jalali sendiri sudah membagikan foto dirinya memakai busana hijau khas Afghan ke Twitter. “Saya ingin menginformasikan kepada dunia bahwa busana yang Anda lihat di media (para perempuan yang berpawai mendukung Taliban di Kabul) bukanlah budaya kami, itu bukan identitas kami,” cetusnya. “Busana tradisional kami mewakili budaya yang kaya dan sejarah 5.000 tahun yang membuat setiap orang Afghan merasa bangga atas diri mereka. Budaya kami bukan gelap, bukan hitam dan putih. Budaya kami berwarna-warni dan di sanalah terdapat keindahan, terdapat seni, terdapat keahlian pengrajin, dan terdapat identitas,” ujar Lima Halima Ahmad, perempuan pendiri Asosiasi Paywand Afghan.

Bak gayung bersambut, cuitan serupa langsung memenuhi jagad media sosial. “Inilah busana otentik Afghan. Perempuan Afghan mengenakan busana yang berwarna warni dan bersahaja. Burqa hitam tidak pernah menjadi bagian dari budaya Afghan,” cuit Spozhmay Maseed, aktivis hak asasi yang berbasis di Virginia, AS. “Selama berabad-abad kami merupakan sebuah negara Islam dan nenek moyang kami berpakaian bersahaja dalam busana tradisional mereka sendiri, bukan ‘cadar’ biru dan burqa hitam dari Arab yang dibuat-buat,” lanjut Maseed.

“Adakah itu memiliki makna bagi kita Indonesia?”Mereka sudah tercaplok tanpa daya dan kini melawan. Belum dengan kita. Tapi itu bukan berarti tidak akan terjadi. Hanya masalah waktu saja dan terlambat sebagai bingkai dalam ukuran waktu seharusnya tidak untuk dinanti. Penyesalan bukan obat. Bukan pula peristiwa demi memancing iba. Penyesalan adalah bukti bahwa waras kita pada suatu saat dulu pernah tak kita perjuangkan. Dan ketika kegilaan hadir, semua sudah terlambat. Semua sudah berubah tanpa koma. Tak akan pernah ada lagi cara hidup normal hadir dalam keseharian kita. Warna-warni kita bukan hanya dalam busana dan adat. Bhineka kita tersemat dalam untaian kalimat pada pita tergenggam erat garuda lambang negara kita. Itulah takdir bangsa ini yang kinj sedang digugat para dementor perampas jiwa dan kebahagiaan manusia. Bila untuk itu kita harus bersimbah darah, Satu kata, LAWAN..!!..RAHAYU.

Sumber : Status Facebook Karto Bugel

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed