by

Pembimbingku Seorang Yahudi

Oleh : Budi Santosa Purwokartiko

Pembimbingku seorang Yahudi Saat saya dulu kuliah S3 di Oklahoma, punya 2 pembimbing. Pembimbing utama dosen dari Industrial Engineering, orang Yunani Kristen/katolik. Pembimbing kedua atau co-pembimbing dari Meteorologi, asli AS tapi nenek moyangnya dari Jerman, sepertinya sering ke gereja Kristen. Kami bertiga sering berdiskusi soal akademik, penelitian. Tapi tidak jarang soal politik, terutama saat serangan 9/11 di New York dan setelahnya. Saya bahkan sangat akrab dengan pembimbing kedua.

Beliau sering bicara hal-hal pribadi, soal rumah, soal anak, soal sosial politik. Orangnya hangat. Hubungan kami seperti teman. Hampir tidak ada hambatan psikologis dalam pengerjaan disertasi maupun pembimbingan. Kalau ada kesulitan saya akan bertanya ke keduanya atau salah satu. Pembimbing utama cenderung kalem dan sangat membantu. Pembimbing kedua kadang meledak2 jika sudah berdebat soal politik. Seru, bukan sampai marah-marah. Pernah suatu saat saya forward email soal Yahudi, lobi Yahud dalam politik AS dan hal-hal yang bernada ‘negatif’ soal Yahudi ke dosen pembimbing kedua ini.

Lalu dia menanggapi email saya jawabnya singkat “He is mentally ill” . Komentarnya soal penulis artikel yang saya forward. Belakangan saya diberitahu teman mesjid bahwa pembimbing keduaku ini seorang Yahudi, Jew.Saya kaget, nggak nyangka. Jadi nggak enak kemarin sudah kirim email yang mungkin menyinggungnya. Tapi saat ketemu sikapnya tetap. Kita diskusi dengan berbagai topik. Saya tidak tahu bahwa dia Yahudi. Karena sikap dan tingkah lakunya biasa seperti kita -kita . Bahkan dalam beberapa hal dia jauh lebih ramah dari pembimbing pertama. Beberapa waktu kemudian ada mahasiswa dari Israel.

Sempat berbincang sebentar. Agak kaku karena selama ini ditanamkan bahwa orang Israel itu begitu buruknya. Gambaran orang Yahudi yang sering diceritakan di kitab suci secara partial atau oleh para penceramah agama, jauh berbeda dengan pengalaman saya bergaul dekat dengan dosen pembimbing yang Yahudi itu. Dia sangat helpful. Saya bahkan dikenalkan dengan beberapa mahasiswanya yang membantu saya mengerjakan proyek maupun disertasi saya. Kalau saja tidak ada teman mesjid yang memberitahukan bahwa dia Yahudi, ya saya nggak tahu.

Saya tahunya dia pembimbing saya, orang baik, orang yang hangat.Ada satu hal yang saya ingat dan bikin gondok. Yaitu ketika terjadi tsunami Aceh. Saya bercerita soal mesjid-mesjid yang tetap kokoh berdiri meski diterjang ombak tsunami. Saya begitu yakinnya ini suatu keajaiban karena bangunan yang lain hanyut dan hancur. Pembimbing utamaku senyum2 mendengar ceritaku. Tapi pembimbing keduaku, si Yahudi, dia tertawa terbahak sambil berucap ” Haha Budi…you’re funny. It’s simply because the buildings are strong. Not a miracle , it’s just a normal thing..” Kira-kira begitu..

.Lanjutnya lagi, bahwa bangunan itu kuat karena bangunan untuk ibadah pasti dibuat bagus, bahan-bahannya tidak dikurangi komposisinya..Saat itu saya gondok, saya merasa dia seperti nggak percaya kejaiban yang diberikan Tuhan pada agama kami, agama yang paling benar.Tapi sekarang kalau ingat diskusi itu, saya jadi malu dan sadar. Benar dosenku itu. Bukan sebuah keajaiban, itu sekedar kewajaran hukum alam biasa. Bangunan yang berkualitas tinggi, kokoh sampai batas tertentu akan bertahan meski diterjang tsunami. Sebaliknya bangunan lain yang kekuatannya tidak sebagus rumah ibadah ya cenderung tidak kuat menahan goncangan.Bersikap wajar dan tidak terlalu berharap keajaiban adalah sikap rasional, sikap ilmiah. Kalaulah ada keajaiban mungkin satu dalam seratus kejadian.

Yang 99 adalah proses alami, siapa kerja keras dia akan menuai hasil bagus, siapa rajin berlatih dia akan terampil, siapa berbuat baik dia akan mendapat balasan kebaikan. Itulah hukum alam di dunia ini, hukum alam bersifat obyektif. Kalaupun ada anomali atau keajaiban, itu pun bisa dijelaskan, atau kalau nggak, penjelasannya belum ketemu.

Sumber : Status Facebook Budi Santosa Purwokartiko

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed