by

NU dan PKB

Oleh : Mamang Haerudin

Sungguh tidak etis jika misalnya Partai Amanat Nasional (PAN) menggelar acara dengan level nasional, yakni Saresehan Satu Abad Muhammadiyah, namun di saat yang sama Prof. Dr. Haedah Nashir tidak hadir, sama sekali tidak dilibatkan, acara jalan sendiri, seolah-olah Muhammadiyah berada dalam kendalinya. Saya yakin, para kader Muhammadiyah sejati bukan hanya tersinggung, melainkan juga akan marah. Namun, untungnya PAN tidak demikian. PAN yang dinahkodai Zulkifli Hasan, parpol yang kini juga digemari oleh para public figure melakukan kampanye politik tanpa harus mencatut lembaga Muhammadiyah. Apakah pengurus PKB tidak ada yang berpikir ke sini?

Fatalnya lagi PKB, adalah konflik dengan keluarga besar Gus Dur. Gus Dur yang mendirikan PKB, Gus Dur yang membesarkan PKB, tetapi justru keluarga Gus Dur yang malah dijauhi PKB, di saat yang sama nama besar Gus Dur terus dicatut di setiap kampanye PKB Cak Imin dan para kadernya yang lain. Kurang besar apa para kader PKB binaan Gus Dur yang telah melahirkan Mahfud MD, Khofifah Indar Parawansa dan masih banyak lagi. Yenny Wahid berulang kali menyatakan dengan lugas di berbagai kesempatan, bahwa ia mengalah ketimbang merebut PKB dengan segala cara.

Untungnya Gus Yahya, dalam struktur kepengurusan PBNU yang baru memang mengakomodir minimalnya Alissa Wahid, selain tadi Yenny Wahid. Meskipun jabatannya tinggi di PBNU, Gus Yahya sowan ke rumah keluarga Gus Dur. Gus Yahya mencium tangan Shinta Nuriyah Wahid yang notabene istri Gus Dur dan sangat hormat kepada anak-anaknya Gus Dur. Tidakkah Cak Imin terketuk hatinya untuk sekadar basa-basi sowan ke rumah keluarga Gus Dur? Saya tidak bisa membayangkan betapa marahnya para Gusdurian, komunitas pecinta Gus Dur yang jaringannya luas dan tersebar di segala pesolok Indonesia.

Saya juga yakin bahwa PKB memang partai besar, karena ia didirikan oleh para Kiai besar NU. Lika-liku konflik dan ketegangan dalam tubuh internal PKB itu sudah biasa. Namun, menyaksikan keterdiaman Cak Imin dan para kader PKB terhadap keluarga Gus Dur sekaligus termasuk kepada Gus Yahya dan PBNU, ini sama saja tengah melakukan pendegradasian diri. Saya mendo’akan semoga para kader PKB membaca catatan harian saya ini. Partai Islam yang sejak awal identik dengan warga Nahdliyin ini sangat disayangkan jika dijalankan secara tidak terbuka. PKB betul-betul berada dalam ketiak Cak Imin yang mampu membungkam secara efektif para kadernya sampai kehilangan daya kritis.

Wallahu a’lam

Sumber : Status Facebook Mamang M Haerudin (Aa)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed