by

Mengutamakan Tampilan

Oleh : Nyoto Raharjo

Isi dan karakter seseorang dapat diukur dan dinilai dari cara hidup, perilakunya, bahasa nya, dan pola berpikirnya.

Seorang yang berisi dan memiliki karakter yang baik, biasanya berpenampilan dan berperilaku biasa-biasa saja, rendah hati, ramah, tulus, memiliki toleransi yang tinggi terhadap orang lain, menghargai perbedaan, tidak berlagak sok pintar, walaupun sangat pintar, tidak berpenampilan sok suci, walaupun sebenarnya jauh dari segala kekotoran, tidak menyebut nyebut dan membawa-bawa nama Tuhan didalam percakapan nya.

Sebaliknya orang yang kosong dan memiliki karakter kurang baik, biasanya akan mematut dirinya sedemikian rupa untuk menutupi kekotorannya, terkadang angkuh, sok berwibawa, berlagak sok tau, tidak memiliki toleransi terhadap orang lain, anti perbedaan, berpenampilan sok suci, walaupun didalamnya penuh kebusukan, paling suka berbahasa menggunakan istilah-istilah bahasa agama, dan menyebut nyebut nama Tuhan dalam setiap percakapan.

Uang kertas baru gres maupun yang sudah sangat lusuh, dekil, bau, koyak, ternoda tinta atau olie, nilainya tetap sama, tidak pernah berubah sesuai nilai nominal yang tertulis disitu.

Tapi di Indonesia ada sesuatu yang unik, lucu, menggelikan, dan tidak ditemukan di negara manapun didunia, yakni demam tukar uang baru.

Ketika lebaran hampir tiba, para penjual uang baru ramai berjejer di pinggir jalanan kota menjajakan barang dagangannya, yakni uang kertas baru. Mereka menjual lembaran uang kertas baru dengan harga 10% diatas nilai mata uang itu.

Jika ada orang yang membeli 5 lembar uang kertas baru senilai @ 20 ribu, maka si pembeli harus membayar senilai 110 ribu rupiah.

Demi mendapatkan uang baru dengan nilai yang sama, orang rela kehilangan/rugi 10% … Luarbiasa sekali …┬ápadahal jika mereka mau menukarnya di bank, tidak dibebani biaya apapun.

Namun mereka lebih suka gunakan “jalan pintas”, serba instant, serba cepat, walaupun harus rela rugi 10%.

Demikian pula dibidang spiritual, orang kita “prefered” pakai jalan pintas, mau yang enak, mudah, nampak semuci, walaupun seringkali ditipu dan dibodohi, tapi tetap senang berada disitu, karena dapat menjaga tampilannya.

Banyak orang Indonesia terbukti lebih mengutamakan tampilan luar daripada isi yang terkandung didalam diri.

Lihat saja anak-anak sekolah, pegawai pemerintah, ibu-ibu rumah tangga, sampai wanita-wanita yang suka selingkuh, banyak diantara mereka yang mematut diri layaknya orang yang sangat agamis.

Anak-anak usia dini dipaksa oleh sekolah dan orang tua mereka sendiri untuk memakai pakaian model Timur Tengah, lengkap dengan kain penutup rambutnya, agar nampak agamis.

Tampilan mereka memang kelihatan “suci”, namun sama sekali tidak ada isinya, bahkan banyak yang sangat busuk didalamnya.

Dari cara berbusana, bahasa atau kalimat yang digunakan dalam percakapan sehari-hari, dimana orang lebih suka mengucapkan bahasa asing yang berkonotasi religious daripada bahasa daerahnya sendiri ; demam tukar uang baru setiap menjelang lebaran menunjukkan bahwa sebagian besar orang kita lebih mengutamakan tampilan daripada isi.

Makanya tidak heran jika banyak kejahatan dan penipuan terjadi disini dengan modus berkedok kesucian. Dan orang-orang yang suka mengutamakan tampilan banyak yang jadi korbannya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed