by

Memusuhi Sains, The Dark Age

Oleh : Ahmad Sarwat

Dahulu di abad pertengahan ketika sedang jaya-jayanya umat Islam, kita bangga dengan kemajuan sains di tengah umat Islam, sambil memandang rendah bangsa Eropa yang waktu itu masih bergelimang dengan kemunduran, kejumudan, keterbelakangan dan kegelapan.Eropa kala itu memang sangat menyedihkan, mereka masih percaya pada tayahul, bid’ah dan churafat (TBC). Mereka sangat anti dengan kemajuan ilmu pengetahuan, memusuhi sains dan menangkapi para ilmuwan. Galileo Galilei, Copernicus dan Bruno adalah conto para tokoh yang ditangkapi dan ditindas oleh pihak pemuka agama yang kala itu berkuasa dan berkolaborasi dengan pihak istana.

Jadi di zaman kegelapan atau the dark ages itu pemandangannya unik, tokoh agama bergandengan tangan dengan para penguasa lagi mengejar-ngejar para ilmuwan, saintis dan ilmu pengetahuan.

oOo

Salah satu tema besar yang diperangi pihak agamawan Barat kala itu masalah bumi sebagai pusat edar benda-benda angkasa. Pihak agamawan dengan diback-up penguasa menuduh kalangan ahli sains itu sebagai pembuat onar, bikin kekacauan dan menentang wahyu samawi dengan mengatakan bahwa matahari sebagai pusat edar alam semesta. Sebab dalam pandangan kuno mereka, bumi lah yang jadi pusat edar semua benda angkasa itu. Pemikiran itu kemudian dikuatkan dengan mengutip Bible di masa itu. Maka para ilmuwan dan ahli sains di masa itu diidentikkan dengan setan, iblis, ahli bid’ah dan teroris. Masuk akal kalau mereka dibunuh, dihukum mati, dikejar-kejar dan dimusuhi.

oOo

Namun sejarah kemudian mencatat bahwa kebenaran sains dan ilmuwan itu tidak bisa dipungkiri. Secara perlahan tapi pasti masyarakat Eropa akhir sadar bahwa hegemoni kaum agamawan yang anti dengan sains itulah yang keliru dan sesat. Saya mencatat bahwa kemunculan paham sekuler yang memisahkan agama dengan dunia, khususnya dengan ilmu pengetahuan dan kekuasaan dimulai disini. Ketika kaum agamawan Barat saat itu sudah tidak lagi rasional dan memusuhi ilmu pengetahuan.

Satu yang perlu digaris-bawahi, bangsa Eropa lalu ramai-ramai meninggal gereja orthodoks dan kaum agamawan yang tidak rasioanl itu. Gereja maih ada dan tidak hilang, tapi kepercayaan bangsa Eropa terhadap gereja itulah yang hilang. Karena agama dalam pandangan pihak gereja orthodok itu sangat bertentangan dengan logika, akal, sains dan ilmu pengetahuan. Kita semua jadi saksi bagaimana bangsa Eropa akhirnya menjadi bangsa yang maju dan menguasai dunia sains justru ketika mereka meninggalkan agama.

oOo

Kalau kita bandingkan dengan dunia Islam di masa yang sama pada waktu itu, dunia sains dan ilmu pengetahuan mendapatkan tempat yang amat mulia. Wajar kalau umat Islam di masa itu menjadi umat yang paling maju di bidang sains. Sebab sains dan ilmu pengetahuan tidak pernah dipertentangkan dengan Al-Quran. Bukan berarti di dalam Al-Quran tidak ada ayat yang sekiranya bertentangan dengan sains. Justru di dalam Al-Quran banyak sekali ayat yang terkesan bertentangan dengan sains, namun cara memahami yang dilakukan para ulama di masa itu memang sangat unik. Misalnya terkait ayat Al-Quran yang menyebutkan bahwa Allah SWT menciptakan bumi dan langit dalam enam hari. Itu sama persis dengan yang termuat di Bibel.

Ada istilah sixt day atau hari keenam. Di Barat ayat itu jadi masalah, karena kalangan agamawan ngotot bahwa bumi tercipta dalam enam hari alias 6 x 24 jam. Yang bilang bumi dan langit tercipta dalam waktu milyaran tahun dianggap kafir, ahli bid’ah dan menentang agama. Padahal tidak usah pakai ilmu sains, sekedar pakai logika sederhana saja, bagaimana menyebut angka 6 hari kalau buminya saja belum ada? Bukankah yang namanya satu hari itu adalah waktu yang dibutuhkan oleh satu titik di bumi untuk berputar pada porosnya satu kali putaran? Terus bagaimana menghitung enam putaran kalau yang berputar saja pun belum ada? Inikan amat sangat tidak masuk akal.

Logika paling dasarnya tidak dipakai. Di Barat, petikan ayat Bible itu dipungkiri dan dianggap bertentangan dengan sains. Lalu bagaimana di negeri Islam? Di negeri Islam, ayat Al-Quran tentang penciptaan bumi dan langit enam hari itu tetap diakui sebagai kebenaran wahyu samawi. Tak seorang muslim pun mengingkari ayat-ayat itu. Lalu apakah mereka tidak menerima kebenaran sains? Disini uniknya. Mereka tetap menerima kebenaran sains bahwa tidak mungkin bumi dan langit diciptakan hanya dalam hitungan enam hari. Lalu ayat itu ditafsirkan oleh banyak ulama. Misalnya, enam hari yang dimaksud bukan enam hari secara teknis 24 jam putaran bumi pada porosnya.

Tapi hari dengan hitungan lain. Misalnya sebagian ahli tafsir seperti Mujahid dan riwayat Adh-Dhahhak yang konon bersumber dari Ibnu Abbas, mengusulkan bahwa 6 hari yang dimaksud itu dikaitkan dengan enam hari di sisi Allah, sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut :وَإِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَSesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu. (QS. Al-Hajj : 47)

Setidaknya untuk menjawab hal itu di masa lalu, sudah cukup. Enam hari dalam arti 6.000 tahun lebih mudah dipahami ketimbang enam hari x 24 jam.

oOo

Intinya di kalangan umat Islam, Al-Quran dan sains itu berjalan beriringan dan tidak pernah jadi masalah. Demikian pula semua bentuk syariat Islam, tak ada satu pun yang bertentangan dengan sains. Oleh karena itu sejarah masa lalu umat Islam adalah sejarah bulan madu dengan ilmu pengetahuan dan sains. Khususnya ketika para ulama ahli syariah juga menjadi ulama di bidang sains. Lalu atas skenario Allah, dunia Islam kemudian mundur dan barat maju. Dan uniknya, bangsa Eropa maju justru ketika mereka memisahkan agama dengan ilmu pengetahuan.

Sebaliknya, mundurnya umat Islam itu seiring dengan semakin menjauhnya umat Islam dari syariat agamanya sekaligus juga menjauh dari sains dan dunia ilmu pengetahuan.

oOo

Ciri-ciri kemunduran umat Islam itu yang paling utama adalah ketika mereka bermusuhan dengan sains dan ilmu pengetahuan. Kembali ke zaman kegelapan, era para dukun sembur yang mulai menipu umat karena bawa-bawa ayat. Terkesan lah Islam itu identik dengan hal-hal berbau alam roh, jin, kesurupan, kesetanan. Ini dunia hitam zaman dulu kemudian dihidupkan, kali ini dengan kamuflase istilah agama yang terkesan syar’i yaitu ruqyah syari’yah. Ketika mereka kembali ke ‘the dark ages’ dengan melakukan praktek pertabibab abad keenam masehi, tapi bikin kamuflase seolah ini adalah praktek kedokteran nabawi. Dan uniknya, mereka malah memusuhi sains modern, tidak percaya pada ilmu kedokteran yang maju 14 abad. Hanya gara-gara kemajuan dunia kedokteran itu terjadi di Eropa.

Ada begitu banyak tuduhan yang mereka sematkan ke dunia sains dan kedokteran. Seolah-olah Islam itu anti kedokteran modern. Kalau Anda menyaksikan semua itu, ketahuilah bahwa Anda sedang melihat umat Islam yang sedang berada di masa Eropa abad pertengahan. Masa-masa ‘The Dark Ages’.

oOo

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed