by

Kita Kepung Kedegilan

Oleh: Eko Kuntadhi

Mungkin benar, kita bangsa yang sakit. Entahlah. Mungkin sebagian dari kita. 

Tapi rasanya saya sukar menolak anggapan itu. Ketika menyaksikan acara TV, saya merinding. 

Sekeluarga di Gowa, Sulawesi tega mencungkil mata anaknya sendiri. Ibu, bapak, paman, kakek, merajang ramai-ramai gadis mungil itu. Mata indah yang mestinya penuh sinar keceriaan, kini lunglai. Pikiran busuk keluarganya merusak telaga bening itu. 

Saya gak sanggup mencari kata yang tepat menceritakan kejadian itu. Melukiskan kengerian hanya dengan kata, rasanya mendangkalkan jeritan pilu gadis kecil yang malang itu. 

Kakaknya tahun lalu juga mati. Di tangan orang-orang sakit ini. Dia dipaksa makan 2 kilo garam. Digelontorkan dalam mulutnya. 

Dan anak kecil itu, dijemput malaikat. Tangannya ditutun. “Bermainlah dengan kami, dek. Biarkan keluargamu hidup dalam kegilaan. Kamu terlalu manis untuk ikut menjadi gila, ” ujar Malaikat sambil tersenyum. 

Anak itu tercekat. Rasa asin dan perih di kerongkongannya mendadak hilang. Tapi ia kini bersedih. Ia menangisi mata adiknya yang kembali jadi korban. 

“Tidakkah mereka melihat danau tenang di mata itu? Mengapa mereka mau merusaknya? “

Tapi memang, kita tidak pernah menduga apa isi kepala orang. Mungkin karena sebagian kita sakit. 

Di Sintang. Sebuah desa dikagetkan oleh serbuan laskar berjanggut. Mereka ngamuk. LMembakar sebuah rumah dan musholla. Menghancurkan properti orang lain. 

Atas nama agama! 

Rumah dan musholla yang dibakar itu dituduh sebagai milik pengikut Ahmadiyah. Karena itulah mereka merasa berhak membakarnya. Untuk melindungi iman yang setipis karet kondom? 

Kita yang punya adab tentu gak bisa mikir. Bagaimana hanya karena beda keyakinan orang bisa begitu beringas memusnahkan orang lain. 

Apakah membakar mereka yang berbeda, otomatis mereka menjadi benar? Apakah Tuhan mengikhlaskan agamanya dibela dengan kebiadaban seperti itu? 

Ahmadiyah diserang. Syiah dikafirkan. Tawasul dan ziarah dilaknat. Dan mereka merasa pemegang otoritas tunggal kebenaran. Betapa piciknya. 

Iya, sebagian kita mungkin gak sepakat dengan cara berfikir atau berkeyakinan teman-teman Ahmadiyah. Atau berbagai mazhab agama lainnya. Tapi bukan berarti kita bisa bertindak biadab terhadap mereka. 

Sebab sebelum jadi Ahmadiyah. Sebelum menganut agama. Sebelum ditempelkan status sosial. Mereka adalah manusia. Punya hak. Punya hidup. Punya keluarga. Dan punya harta benda yang pantas dilindungi. 

“Umatku adalah mereka yang berbuat baik pada tetangganya, ” ujar Nabi Mulia. Orang-orang yang menjaga kehormatan orang lain. Nabi memberi apresiasi kepada mereka. 

Tapi memang kita masyarakat yang sakit. 

Di TV, saya menyaksikan Saiful Jamil disambut bak pahlawan. Berdiri gagah di mobil terbuka. Wartawan berkerumun. Leher Saiful dikalungi bunga seperti pejuang baru pulang perang. 

Padahal Saiful baru keluar dari penjara. Kesalahannya karena melakukan pedofilia, pada anak lelaki di bawah umur. 

Dan stasiun TV yang ngehek itu, gak peduli dengan luka bathin korban. Anak lelaki yang mungkin seumur hidupnya menanggung beban atas perilaku Saiful. Stasiun TV itu hanya sibuk memikirkan rating. Dan iklan. Dan uang. 

Saya pasti akan mencatat produk apa yang beriklan di acara itu. Saya pasti mencatat televisi apa yang menyiarkan kedegilan seperti itu. Dan catatan itu menjadi bahan boikot saya peribadi. 

Bagi saya, merekalah sesungguhnya pada peruntuh peradaban. 

Iya, Saiful sudah menjalani masa hukuman. Hak sipilnya sudah kembali. Tapi ketika disambut bak pahlawan, rasanya mau muntah juga. 

Stasiun TV kita. Penceramah agama kita. Bahkan pembiaran kita atas semua kedegilan ini makin menjadikan sakit akut masyarakat ini. Kita dikepung kemuakan saban hari. 

Dimanakah sisa nurani dan akal sehat, disembunyikan? 

“Mas, Saiful itu kalau makan sosis, langsung hap, ya?, ” celetuk Abu Kumkum. 

Mbuhhh…

(Sumber: Facebook Eko Kuntadhi)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed