Masih Tentang UU Omnibus Law dan Cinta yang Tak Ambyar

Timeline masih dipenuhi postingan tentang demo Omnibus Law. Apalagi menjelang rencana pelaksanaan demo akbar hari ini. Banyak postingan saling mengatai, dan taksedikit postingan yang mengganggu akal sehat. Bahkan dari orang2 yang mestinya memiliki hal tersebut.

Aku termasuk orang2 yang skeptis pada orang2 yang turun demo itu, walau takmembantah bahwa beberapa isi UU Omnibus Law kurang pas dan harus disempurnakan. Aku sangat menyayangkan ketika membaca tulisan beberapa akademisi yang mengatai sejawatnya yang tidak menolak UU Omnibus Law sebagai antek pemerintah, orang2 yang tidak memiliki kepedulian pada rakyat, pada negara dan pada isu2 sosial. Aku menolak generalisasi yang dilakukan atas permasalahan Omnibus Law ini. Aku menolak dibego2kan ketika mewaspadai bahwa demo ini ditungganggi.

Seperti aku jelaskan beberapa hari ini pada anak2ku, melihat demo ini harus teliti. Jangan sampai melakukan gebyah uyah pada spektrum manapun. Menurut apa yang aku amati, aku membagi peserta demo ini menjadi 2 faksi.

Satu, adalah faksi yang turun berdemo karena ideologinya. Mereka adalah para penikmat teori2 Marxisme. Meminjam kata2 Che Guevarra, mereka adalah orang2 yang bergetar marah melihat ketidakadilan terjadi di sekeliling mereka. Melihat banyak orang2 susah hidupnya. Mereka kamradnya Che, Karl Marx, Tan Malaka, Haji Misbakh, DN Aidit, Njoto dll. Mereka gemetar sedih dengan isu2 buruh, suku Badui dalam yang makin terpinggirkan, Papua, ketidakadilan pada kelompok minoritas di Indonesia, dan sebagainya. Mereka adalah orang2 anti kapitalisme, kolonialisme, fasisme dan drakulaisme. Isme2 yang memiliki kecemderungan melakukan penghisapan darah manusia lain yang lemah, untuk kepentingan kelompoknya.

Aku masukkan ke dalam kelompok ini pula – walau sebenarnya gradasinya agak berbeda – adalah buruh2 yang memperjuangkan nasibnya menjadi lebih baik.

Kelompok kedua, adalah kelompok yang memakai isu ini untuk menjatuhkan pemerintahan ini. Mereka adalah kelompok yang masih sakit hati dengan hasil pilpres beberapa saat lalu. Mereka dinasti politik yang mungkin memiliki dana yang takhabis dimakan tujuh turunan, yang masih ingin kembali menancapkan kuku di bumi nusantara ini walau mungkin hanya mampu dari balik layar. Mereka kelompok2 yang memiliki agenda lain, yang ingin mengganti dasar negara kita dengan suatu prinsip yang menepikan orang lain yang memiliki keyakinan berbeda. Kelompok yang menyatakan diri aliansi anti komunis, sedang nyata2 permasalahan yang paling digugat berkaitan dengan UU ini adalah klaster ketenagakerjaan, sebuah tema yang sejak jaman dahulu merupakan keprihatinan kaum sosialis/komunis. Bagaimana mungkin mereka berteriak anti komunis sedang mereka bergandengan dengan orang yang memiliki keprihatinan seorang komunis dalam bergerak di demo ini.

Menutup mata pada kehadiran kelompok kedua ini, adalah tindakan yang patut dicurigai. Apalagi jika aksi pura2 bodoh itu dilakukan oleh orang yang kita tahu tidak bodoh sama sekali.

Akademisi2 yang menuduh teman akademisinya takmemiliki kepedulian sosial dan nasionalisme jika taksudi bergabung dengan barisan pendemo hari ini, apa memiliki basis argumentasi ilmiah untuk mendukung dakwaannya itu? Jangan hanya dengan dasar ‘kalian takpunya hati nurani’ untuk memojokkan kami. ‘Hei, kami punya hati nurani tapi juga punya akal sehat. Kami bisa membedakan antara berempati dengan menjadi realis, mencari jalan keluar yang lebih masuk akal. Kami berusaha sekuat tenaga menggabungkan kedua hal tersebut.’

Sumber : Status Facebook Rani Rumita

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *