by

Indonesia Tanpa Jokowi?

Oleh: Iyyas Subiakto

Saya berani jamin ratusan juta rakyat Indonesia masih menginginkan Jokowi lanjut memimpin, karena beberapa pandangan kenapa Jokowi masih di perlukan.

Pertama adalah bahwa pembangunan yg dilakukan Jokowi adalah repondasi bangsa besar ini, baik dari pemb infrastruktur, pemerataan, pelurusan mental, sekaligus contoh panutan ditengah rusaknya moral pejabat dan penguasa baik pusat dan daerah.

Jokowi adalah EVIDEN. Dia adalah ujud nyata dan fakta sebagai penggerak, bukan pelengkap peserta yg cuma asal ada.

Perdebatan soal amandemen UU no 7’45 yg disarankan banyak pihak dan atas desakan rakyat telah di jawab beberapa kali oleh Jokowi, bahwa dia menolak untuk di calonkan karena secara konstitusi sudah diatur demikian, jabatan presiden hanya maksimum 2×5 tahun. Walau peluang itu ada andai inisiatif dari awal adalah parlemen yg bersuara untuk kebaikan Indonesia dimana pemimpin yg baik bisa diteruskan. Kan UU bukan kitab suci yg tidak bisa di revisi.

Hanya saja politik kita ini politik ” kegatelan ” karena ada agenda agar calonnya bisa di jadikan presiden, walau kapasitasnya kelas Cemen. Modal pede gak bisa gawe.

Kita siapkan mental yg paling jelek andai memang Jokowi harus di ganti. Dari calon yg dijual sekarang belum ada yg sekelas Jokowi, tapi kan presiden harus tetap ada. Masih banyak yg baik yg tune in dgn cara Jokowi bekerja.

Diseputar partai politik ada Ahok dan Ganjar di PDIP, sayang billboardnya keduluan Puan. Sehingga perlu usaha yg tidak gampang menggeser keinginan sang ratu.
Diluar partai juga ada beberapa yg mumpuni, ada Sri Mulyani, ada Andhika Perkasa, ada Moeldoko.

Kenapa tidak Anis, AHY, PS. Mohon maaf 3 sosok ini sangat rentan akan kepentingan pihak² masa lalu. Anis adalah bonekanya JK dan sangat berbahaya karena tingkat kepribadiannya yg kacau dan bertabiat pembohong kelas Wahid.

PS, tidak bisa dilepaskan atas hubungannya dgn Cendana dan kaum radikal gerombolan FPI, apalagi sekarang sudah di rancang FPI bungkus baru. Juga hubungan PS dgn PKS. Kita masih ingat bagaimana PS menyusupkan orang PKS menjadi salah satu direktur di PT PAL, konon khabarnya pakai marah segala. Untung saat ini zaman medsos yg membantu kontrol sosial, kalau tidak bablas semua.

AHY, kita tau dia anak SBY dgn pakem dan style yg sama. Panutannya pastilah bapaknya presiden gagal yg banyak gaya tapi tak bisa kerja. Anak muda ini sudah salah sejak awal. Dia orientasinya berkuasa bukan kerja buat membangun negara.

Ingat 3 sosok diatas yg tak pantas semua menjadi presiden, orientasinya kekuasaan, sehingga berpotensi melakukan kerusakan apa yg sudah di kerjakan. Jakarta menjadi contoh penghancuran yg parah oleh seorang Pinokio yg suka asap hio.

Kasus DKI menjadikan kita mawas diri, bahwa memilih pemimpin bukan hanya seiman, sepaham, separtai, sesuku, sedulur. Tapi lebih kepada yg terukur apakah yg bersangkutan bisa meneruskan pembangunan atau malah sebagai penghancur yg sudah di kerjakan.

Kita sadar sangat sosok Jokowi pastilah akan lepas oleh waktu, hanya saja ibarat buku, lembaran itu menjadi isi buku kebangsaan yg terus bisa di baca sampai ke anak cucu, bahwa kita pernah di pimpin oleh seorang yg begitu hidup di hati rakyatnya karena dia adalah sosok pelindung bagi rakyat dan bangsanya dari cabikan pemangsa yg ada dalam ruh Indonesia. Iya, musuh dari dalam dgn samaran kepura²an yg mengancam kelangsungan kebhinekaan.

Di amandemen atau tidak UU No.7’45, lanjut atau tidak Jokowi menjadi presiden adalah soal waktu dan niat para pembuat keputusan. Tapi yg pasti Jokowi tidak tinggal sendiri untuk terus mengawal negeri ini apalagi hasil kerjanya yg nyata tidak pula di lepas begitu saja. Dia pasti menyiapkan penggantinya, mungkin saja bisa jeda waktu, tapi ada Gibran yg hadir sebagai kandidat meneruskan, ini hanya masalah waktu.

Semoga Jokowi tetap sehat lahir batin, dan Indonesia terus terjaga dalam lingkup kebaikan atas izin Tuhan.

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed