by

Haji Kecil Saja

Oleh: Iyyas Subiakto

Hingar bingar masalah haji, buntutnya masuk ke ranah politik, komen bombastis itu bukan dari pinggir Embong yg dihuni orang kecil dgn uang tabungan haji yg dikais dari hasil keringat halalnya, melainkan dari mulut intelektual tak bermoral.

Dari Senayan sampai jalanan mulut mereka menyembur bak preman, tapi diam saat ada potensi patgulipat anggaran alutsista 1.760 T di depan mata. Berat menggeser budaya jahiliah yg dibentuk orba, kalau tidak bodoh intelektualnya, bodoh emosinya, juga bodoh spiritualnya.

Konon teorinya kita butuh waktu yg sama merubah budaya/ kebiasaan yg sudah menjadi sifat, sehingga kita butuh 30 tahun untuk merubah kondisi ini, namun didalam koridor waktu 32 tahun dan plus 10 tahun telah ribuan keturunan lahir, dari anak dan cucu yg melihat prilaku bejat bapak dan eyangnya sebagai manusia serigala yg melahap kebejatan tanpa sisa.

Mereka menjadi koruptor tanpa sensor, anak cucunya menikmati hasilnya, berpolitik kotor, anak cucunya melihat dan menirunya, dan banyak lagi kelakuan tak terpuji tersemai di sanubari Ibu Pertiwi dan ditauladani anak keturunan dengan hidup berprilaku bejat rasa manfaat.

Ini jadi seperti tai kucing rasa coklat. Kita tau celometan mulut jahat ini kan karena ada kepentingan, hebatnya kadar jahatnya sudah gak kira2, mereka merambah dari ranah biasa sampai ranah agama.

Dana haji itu dikelola pemerintah di audit BPK, gak tau lagi kalau kelas BPK seperti yg memberi nilai WTP ke Pemda DKI kemudian ada tanah 70 ha raib. Apa dana haji akan bernasib sama, harusnya tidak. Anggito Abimanyu itu orang lurus yg tak mau terjerumus, jadi kalau dia bcr kita patut percaya, dia bukan kelas AB, RG, dan sejenisnya.

Haji adalah rukun ke 5 dalam rukun Islam, Syahadat, Shalat, Puasa, Berzakat dan Haji. Entah mana nilai ritual dan spiritualnya yg paling tinggi, karena semuanya menyangkut ketaqwaan, hanya Allah yg tau, karena Dia yg mencatat di Lauh Mahfudz.

Kalau menyimak pentingnya shalat karena bisa menghindarkan perbuatan keji dan mungkar, sepertinya kadar shalat adalah yg utama, tentunya shalat yg ngefek kepada akhlak kehidupan, bukan asal nungging, jidat hitam, pantat santri di hantam, ini mah jahanam.

Jadi kalau sudah curiga dgn pemerintah kenapa nggak berangkat sendiri saja, tapi kan pemerintah Arab Saudi nggak menerima visa turis saat musim haji. Andai dana haji yg tersimpan di kelola pemerintah wajar juga, subsidi 9,6T itu kan tidak bisa diambil dari APBN, karena APBN milik semua warga negara.

Kalau nanti dipakai subsidi keluarga kita yg Nasrani utk ziarah ke Yerusalem ribut lagi.So, biar sama2 puas, umroh saja, bisa kapan saja, pakai jasa travel gak diurus negara. Dananya jg murah 35 jt, hanya titel hajinya “haji kecil”, jadi tulisan gelar gak boleh didepan tapi di belakang nama.

Misal, Dasco,h., bukan H. Dasco. pahalanya gimana, ya nanti saja kalau sudah di surga kan bidadari gak nanya apakah Abang HAJI, atau haji, yg penting bertaji. 72-4.900 bidadari itu gak bth gelar, yg penting Abang bisa nyakar… Gherrrrh.

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed