by

GoS(i)PP Pak Menteri

Komentar-komentar dari pengamat yang biasanya merupakan orang yang merasa dirinya sok pintar bertebaran dikutip oleh berbagai media. Yang mengatakan kalau urusan seperti ini seharusnya ditangani oleh pemerintah dan bukan pihak swasta. Seperti yang sudah sama-sama kita ketahui kalau berurusan dengan pemerintah akan banyak memakan waktu dengan kemungkinan terjadinya penyimpangan dan segala macam blah blah blah. Silahkan saja kalau ada pihak swasta yang lain atau BUMN yang ingin turut serta bermain, selama tidak ada aturan yang terkesan untuk memonopoli, rasanya sah sah saja.

Memang di jaman sekarang yang serba eletronik, membawa uang di saku bagi sebagian orang sudah tidak lagi menarik. Apalagi dengan begitu banyak pecahan koin yang seperti di Eropah, dari mulai satu sen hingga 2 Euro yang bikin kantong gemericik. Kadang terasa berat bergondal gandul, sehingga membuat tonjolan baru dan agak berisik. Permah alarm security di airport berbunyi kencang saat saya melewati gerbang metal detector, setelah dicari ke sana sini ternyata masih ada koin yang terselip disela-sela kantong super kecil di kanan atas celana jeans yang sudah burik.

Di New York, selama beberapa tahun belakangan ini banyak berdiri establishment baru yang hanya melakukan transaksi pembayaran dengan menggunakan kartu kredit atau debit. Juga berlaku untuk segala macam applikasi e-wallet, yang dengan hanya menyentuhkan smartphone ke register dan kemudian terdengar bunyi tuit. Biasanya ada batasan jumlah transaksi minimum, tetapi banyak yang protes karena menurut mereka aturan tersebut melanggar hak asasi duit. Sehingga suka bikin kesal para penjual, karena transaksi satu dollarpun mereka menggunakannya dengan alasan sama sekali nga pegang duit walaupun cuma sedikit.

Sedang establishment yang dimiliki orang-orang keturunan China atau India, biasanya mereka tidak begitu perduli. Mereka hanya menerima uang tunai dan sudah memasang tanda di pintu masuk atau di mesin cash register dengan tulisan besar-besar ‘cash only’. Saya tidak tahu bagaimana cara mereka bisa melakukannya, padahal ada satu toko yang mempunyai cukup banyak jaringan dan spesial menjual roti. Memang sih, dalam bisnis retail seperti ini, lebih enak mendapat uang tunai karena bisa diotak-atik untuk laporan jual beli.

Walaupun saya mempunyai banyak kartu kredit dan applikasi e-wallet tapi kalau keluar rumah saya selalu memastikan untuk ada membawa uang kontan. Ngeri rasanya membayangkan kalau ada kasus emergency, tidak ada sepeserpun duit di tangan. Untuk belanja yang bernilai nominal kecil saya malas menggunakan kartu karena nanti terlalu banyak items di laporan tagihan. Hanya untuk pembelian yang berjumlah besar saja, tapi itu juga harus berhati-hati supaya tidak kebablasan.

Tapi sejak beberapa minggu yang lalu, pemerintahan kota New York melarang untuk bertransaksi dengan hanya menggunakan sistem pembayaran elektronik atau kartu saja. Karena tidak semua orang bisa dengan mudah mempunyai akses untuk memiliki salah satu diantara dua. Dari hasil sensus tahun 2017, diperkirakan ada sekitar 25 persen dari total penduduk Amerika yang sama sekali tidak mempunyai bank account. Mungkin jangan-jangan mereka menganggap hal ini sesuatu yang riba seperti orang-orang yang sudah ketularan virus kadrun.

Tabik.

Sumber : Status Facebook B. Uster Kadrisson

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed