by

Cinderella

Oleh : B Uster Kadrisson

Kisah klasik yang sangat dikenal ini sudah berusia ratusan bahkan ribuan tahun yang ditandai dari catatan folklore abad ke enam sebelum Masehi. Dalam cerita yang berasal dari kebudayaan Yunani kuno tertulis tentang seorang dayang-dayang istana yang bernama Rhodopis yang sepatunya diambil oleh seekor burung elang yang membawanya jauh pergi. Setelah melintasi lautan Mediterania sepatu kemudian terjatuh di pangkuan seorang raja Mesir yang tengah galau dalam menanti ilham untuk memilih calon istri. Yang kemudian membuatnya berkelana untuk mencari sang pemilik sepatu dengan mencocokkannya di kaki-kaki para dara dari satu negara ke lain negeri.

Dalam literature China abad ke-9 juga ada cerita yang hampir sama yaitu tentang seorang gadis bernama Ye Xian yang hidup bersama dengan ibu dan saudara tiri yang kejam. Dia bersahabat dengan seekor ikan raksasa yang kemudian dimasak oleh sang ibu tiri sehingga yang tertinggal hanyalah tulang belulang. Dalam sebuah festival tahunan, Ye Xian mendapat hadiah gaun yang sangat cantik lengkap dengan sepatu dengan pola yang mirip dengan sirip ikan. Sepatu itu kemudian tertinggal dan sampai ke tangan sang raja yang kelimpungan mencari sang pemilik tetapi Ye Xian justru tertangkap tangan ketika hendak mengambil kembali sepatunya yang tengah dipajang.

Pada abad 17 ada kumpulan cerita pendek berbahasa Italia yang berjudul Cenerentola yang mirip dengan kisah Cinderella yang kini dikenal. Sang tokoh bernama Zezolla yang mempunyai ibu tiri yang jahat serta enam saudara tiri yang nakal dan binal. Juga bercerita tentang magic yang memberinya gaun cantik dan menarik serta sepatu yang nanti akan tertinggal. Kata cerene sendiri berarti abu dapur yang mempunyai kesamaan dengan cinder dari mana kata tersebut diperkirakan berasal.

Kisah berbahasa Italia ini kemudian diadaptasi oleh seorang penulis asal Prancis yang bernama Charles Perrault dan diberi judul Cendrillion. Charles kemudian menambahkan tokoh fairy godmother, kereta kencana dari labu, serta tikus-tikus dan kadal yang menjadi kusir serta footman yang menjadi penolong. Tak lupa dia menyelipkan sepatu yang bening dan terbuat dari kaca yang bisa lentur saat berdansa dengan sang pangeran yang sedikit gondrong. Cendrillion bolak balik tiga kali ke istana sebelum akhirnya sang pangeran melumuri tangga dengan madu sehingga sebelah sepatu tertinggal di belakang lorong.

Dua bersaudara Grimm dari Jerman dalam buku yang mengumpulkan cerita rakyat juga mempunyai cerita yang mirip dengan Cinderella tetapi mempunyai sisi yang gelap. Ketika hendak mencoba sepatu kaca, kedua saudara tirinya sampai memotong jari kaki dan tumit mereka supaya bisa muat. Dan saat acara pernikahan, burung gagak mematuk mata mereka sehingga menjadi buta dan jatuh terjerembab. Rata-rata kisah dongeng klasik yang diceritakan kembali oleh Grimm bersaudara memang sedikit menakutkan, dengan memasukkan unsur seperti canibalisme serta pembunuhan yang biadab.

Pada tahun 1950 Disney membuat film animasi Cinderella berdasarkan karya Charles Perrault yang kemudian menyebabkan kisah ini menjadi mendunia. Hanya saja cerita agak dipersingkat dengan hanya ada satu kali saja kunjungan sang tokoh Ella bertandang ke istana. Ketika jam 12 malam berdentang, semua kembali ke wujud asalnya kecuali sepatu kaca karena merupakan pemberian dari ibu peri yang bijaksana. Ibu dan saudara tirinya tidak mengenalinya ketika bertemu di dalam pesta dansa karena dia dalam pengaruh make-up dari produk kosmetik kelas utama.

Para kaum feminist paling tidak suka dengan kisah-kisah Disney karena sang wanita digambarkan selalu lemah dan tidak berdaya. Hanya menyerah kepada nasib dan berharap kalau pada suatu hari nanti ada datang pangeran tampan berkuda yang langsung jatuh cinta. Belakangan mereka membuat tokoh-tokoh utama yang tidak memerlukan pria seperti Merida dalam animasi Brave atau Moana. Dari berbagai film yang merupakan adaptasi kisah Cinderella, saya paling suka dengan Ever After yang dibintangi oleh Drew Barrymore sebagai Danielle yang tidak mudah untuk menyerah.

Kisah Cinderella dengan ibu tirinya mengingatkan saya akan seorang ibu ketua partai yang memaksa sang anak untuk menjajal sepatu kaca walaupun harus menggerus tumit serta memotong jari-jarinya. Sedangkan Cinderello yang rambutnya telah memutih tertutup abu perapian, dibiarkan kedinginan di luar rumah dan dengan segala cara berusaha untuk dijegal supaya tidak bisa ikutan berpesta. Atau anak sang mantan yang selalu menjual nama bapaknya bagaikan sang pangeran yang merupakan typical anak manja yang hanya mengandalkan koneksi semata. Mereka mengira kalau gadis-gadis akan berlari mendekat begitu celana ditanggalkan atau kekuasaan yang bisa dipetik dengan mudah bagaikan panen buah mangga.

Tabik.

Sumber : Status Facebook B. Uster Kadrisson

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed