by

Cawet Pink

Oleh: Sumanto Al Qurtuby

Ada pengalaman yang tak terlupakan saat saya dulu penelitian disertasi di Ambon. Kala itu, saya diajak pergi oleh teman dan sekaligus papa piara Pdt. Elifas Maspaitella (sekarang Bung Eli terpilih menjadi Ketua Sinode Gereja Protestan Maluku) ke sebuah kampung pelosok di Pulau Seram, Maluku Tengah. Kalau nggak salah nama kampungnya adalah Uweth.

Tujuan pergi ke kampung itu kalau nggak salah ingat untuk menjenguk atau mengunjungi “mama piara” (istri Bung Eli), Pdt. Desi Aipassa, yang kebetulan bertugas sebagai pendeta di kampung itu.

Saya sendiri waktu itu ngekos dan tinggal di sebuah pastori Wailela, Rumah Tiga, Ambon, karena Bung Eli bertugas disitu. Pikirku waktu itu sangat senang kalau bisa “jelong-jelong” dan berpetualang Pulau Seram. 

“Jangan lupa bawa pakaian secukupnya bu (bung) karena katong (kita) mau tinggal beberapa hari di Uweth,” kata Bung Eli yang kala itu menjabat sebagai Ketua Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (semacam Gerakan Pemuda Ansor kalau di NU). 

Saya pun “cekat-cekot” menyiapkan sejumlah pakaian secukupnya lalu saya taruh di koper andalan.

“Kira-kira berapa lama bu perjalanan ke Uweth?”, tanyaku ke Bung Eli. 

“Mungkin 1-2 hari,” timpal Bung Eli. “Tergantung jadwal kapal dan ada-tidaknya oto” (mobil angkutan), tambahnya. 

Singkat cerita, setelah semua siap, kami pun berangkat ke Kota Ambon. Seperti biasa saya “mbonceng” sepeda motor butut milik Bung Eli yang hobi mogok “mati segan hidup tak mau” alias byar pett kek PLN.¬†Lalu menyeberang naik kapal feri ke Teluk Ambon.¬†

Sesampai di Ambon kami langsung menuju ke terminal untuk naik si oto tadi yang menuju Pulau Seram. Oto-nya berbentuk semacam angkot metromini. Di dalam oto itu penuh sesak dengan manusia dan barang sampai hewan-hewan seperti ayam. Bukan hanya di dalam oto, diatas dan “pantat” (belakang) oto pun penuh sesak dengan barang seperti tampak di foto ini.  

Maklum, oto itu adalah satu-satunya angkutan rute Ambon-Seram Timur “kombak-kambek”. Dan tidak banyak jumlahnya. Jadwal berangkatnya pun tidak tentu. Penduduk yang tinggal di kampung-kampung di Pulau Seram memanfaatkan oto itu untuk menjual hasil-hasil kebun di Ambon lalu belanja keperluan sehari-hari. Para pedagang atau yang punya toko juga belanjanya di Ambon.

Oto pun berangkat menuju tempat penyeberangan kalau nggak salah ingat di ujung Pulau Leihitu. Disitulah tempat kapal lumayan besar yang akan membawa penumpang menuju Pulau Seram. Sepertinya butuh waktu 2-3 jam untuk menyeberang. Oto yang kami naiki juga ikut naik kapal itu. 

Sesampai di Pulau Seram kami pun kembali menuju oto dan melanjutkan perjalanan ke kampung Uweth. Alamak dilaur dugaan ternyata memang jauh bangeett itu kampung. Bukan hanya itu saja. Jalannya susah sekali naik-turun gunung dan tidak semua beraspal. Hujan lebat membuat jalan semakin parah dan susah dilalui sehingga harus didorong dan beberapa kali mogok.  

Tapi Puji Tuhan, alhamdulilah, setelah semua “cobaan” berhasil dilalui, kami pun akhirnya sampai di desa Uweth. Sesamai di rumah pastori mama piara (Pdt, Desi), saya langsung “ndelosor”. 

Tetapi betapa kagetnya sayah setelah buka-buka koper mau ganti pakaian, sayah lupa membawa sempak (celana dalam). Alamak. Bijimana ini? 

Akhirnya, saya ditemani Bung Eli pergi ke pasar / toko kecil di sebuah kecamatan lumayan jauh dari kampung. Tapi apa daya sempak pun tak ada. Satu-satunya stok yang ada adalah cawet. Itupun pink warnanya dan agak besar ukurannya qiqiqi. Ya sudahlah daripada tak pakai celdam gondal-gandul, cawet pink kombor pun bolehlah.

(Sumber: Facebook Sumanto Alqurtuby)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed