by

Orang Saudi tentang Haji dan Umrah

Oleh: Sumanto Al Qurtuby

Mungkin anda mengira kalau semua warga Saudi (selain anak-anak) sudah menjalankan ibadah haji dan umroh karena lokasinya yang deket dengan Ka’bah. Dugaan anda itu keliru. Keliru besar. Besar sekali.

Tidak semua warga Saudi (yang secara fisik dan finansial mampu berhaji) itu menjalankan ibadah haji/umroh. Bahkan mereka yang tinggal di Makkah pun tidak jaminan sudah berhaji.
Saya tahunya informasi ini dari kolega, teman, dan murid-muridku yang warga Saudi. Saya tanya ke kolega-kolegaku yang warga Saudi yang sudah berumur juga belum berhaji apalagi mahasiswa yang muda-muda.

Jawaban mereka rata-rata sama: “Entar saja wong dekat”. Mereka kurang bergairah untuk berhaji karena menurut mereka sumpek umpel-umpelan banyak orang, panas. Akhirnya menunda-nunda. Tentu itu bukan berarti tidak ada warga Saudi yang menunaikan ibadah haji. Sama sekali bukan.

Saat musim haji tiba, Arab Saudi libur nasional (sekitar 10-14 hari). Kesempatan itu dimanfaatkan untuk plesiran ke Luar Negeri (bagi yang berduit) atau mudik dan reuni/ngumpul dengan anggota keluarga besar seperti hari Lebaran di Indonesia.

Sedangkan penduduk Makkah untuk sementara “mengungsi” keluar teritori Makkah karena kawasan ini akan menjadi “lautan manusia”. Mereka biasanya mempunyai backup rumah atau villa untuk retreat diluar Makkah (seperti di Jeddah, Taif, dlsb). Selain itu, sebagian penduduk Makkah biasanya memanfaatkan momen haji untuk berjualan atau menyewakan apartemen & penginapan.

Saya perhatikan yang “semangat 45” menunaikan ibadah haji dan umroh bolak-balik kek setrikaan itu para ekspat atau pekerja migran non-Saudi seperti dari India, Pakistan, Bangladesh, Indonesia, Turki, negara-negara di Afrika, Asia Tengah, dlsb.

Pemerintah Saudi sendiri membatasi penduduk yang tinggal di Arab Saudi (citizen atau resident) tidak boleh berhaji selama 5 tahun kalau sudah menunaikan ibadah haji. Aturan ini untuk memberi kesempatan terlebih dulu pada mereka yang belum sempat berhaji.

Jadi, dekat dengan lokasi tempat ibadah/ziarah tidak menjamin yang bersangkutan itu rajin melakukannya. Kecenderungan ini juga terjadi dimana-mana. Sewaktu saya mudik biasanya saya manfaatkan untuk jalan-jalan ziarah ke makam atau situs-situs sejarah tertentu, masyarakat di sekitar atau tidak jauh dari lokasi juga tidak menjamin pernah melakukan ritual di tempat tersebut.

Mereka biasanya hanya memanfaatkan untuk berjualan di sekitar kompleks. Yang melakukan ritual orang-orang dari jauh yang tinggal di daerah-daerah lain. Pernah suatu ketika di kompleks Trowulan (area arkeologis Kerajaan Majapahit dulu), saya tanya orang-orang di sekitar malah nggak ngerti tentang informasi ini-itu seputaran kompleks Trowulan.

Lalu, apakah sayah sendiri sudah “naik haji”? RHS dong mau tau ajah sih. Pak, RHS itu apanya HRS?

(Sumber: facebook Sumanto Al Qurtuby)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed