by

BPKH Akan Injek Bank Muamalat

Oleh: Erizeli Bandaro

“Saya mendorong supaya Bank Muamalat segera diselesaikan. Saya pernah bilang bahwa Bank Muamalat itu boleh sakit, tapi tidak boleh mati,” kata Ma’ruf Amin dilansir dari Antara, Selasa (9/3/2021).

Itu berkaitan dengan rencana investasi BPKH ke bank muamalat sebesar Rp 3 triliun. Tanggal 14 Maret pihak BPKH mengatakan bahwa, “Kajian dari lembaga eksternal sudah ada. Sekarang proses internal di kami. Tentu prosesnya setelah dengan dewan pengawas, akan kami laksanakan sesuai dengan perencanaan di RIT dan RKAT.“

Yang jadi masalah adalah tidak mudah dapatkan izin dari OJK. Karena hasil temuan BPK bahwa Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tidak boleh merekomendasikan Bank Muamalat untuk melakukan koreksi atas non-performing loan, cadangan kerugian penurunan nilai, dan/atau kewajiban penyediaan modal minimum sesuai dengan hasil pemeriksaan Tahun 2018.

Artinya OJK tidak bisa beri kemudahan atau kelonggaran kepada bank muamalat untuk bebas beroperasi sepeti bank sehat. Bank dalam status sakit.Kemudiaan 25 Maret , wapres meminta penyelamatan bank muamalat oleh Otoritas Jasa Keuangan tak berlarut-larut.

Permintaan itu ia sampaikan melalui juru bicaranya, Masduki Baidlowi. Itu sinyal keras kepada OJK. Sementara BPKH tetap berharap proses Investasi itu bisa terlaksana tahun ini. Apakah layak? Saya akan sampaikan tiga hal saja.Pertama. Bahwa pada dana BPKH itu ada subsidi negara lewat bebas pajak/ PPH, itu sesuai UU No. 11/2020 tentang Cipta Kerja dan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 18/2021.

Artinya tidak seharusnya dana subsidi dipakai untuk injek modal pada bank sakit. Apalagi risiko investasi BPKH dijamin negara. Dan lagi masalah bank muamalat itu butuh Rp 10 T untuk sehat. Rp 3 T rencana invest BPKH jelas sama saja buang garam di laut.

Itu hanya menunda kebangkrutan.Kedua. Bank muamalat itu mayoritas pemegang saham adalah Asing, yaitu Islamic Development Bank sebanyak 32,74%, Bank Boubyan sebanyak 22% saham, dan Atwill Hodlings Limited 17,91%. Kalau BPKH injek modal, itu sama saja menyelamatkan investor asing.

Pertanyaan lagi, siapa nasabah besar (debitur) yang bikin Bank Muamalat bermasalah? Apakah pantas mereka di bailout lewat write off NPL? Atau dibiarkan begitu saja tanpa diharapkan sebagai solusi? Dan berharap BPKH sebagai solusi ?

Ketiga. Kalau alasan bank mualamat sebagai pionir bank Islam yang harus dijaga tidak boleh mati, lantas mengapa selama ini dibiarkan bermasalah? Mengapa tidak hati hati mengelolanya? Kalau semua kesalahan selalu ditolong, yakinlah hal yang sama akan terulang lagi.

Dan akhirnya bisa saja Bank muamalat sebagai pintu masuk orang untuk bancakin BPKH. Alasan demi syariah. Pada akhirnya APBN harus bailout. Kan malu sama rakyat.

Semoga masukan saya bisa jadi bahan pertimbangan BPKH. Amankan uang jamaah haji agar negara tidak sampai bailout lewat APBN.

(Sumber: Facebook DDB)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed