by

Hallyusinasi

Oleh : Olenka Priyadarsani

“Edan kali pagi-pagi beranda sudah dipenuhi foto manusia plastik,” kata yang ga suka. “Wah, pagi-pagi lumayan ada penyegaran linimasa,” kata yang suka. What wave lasts longer than the corona waves? It is Korean wave alias hallyu. Berawal pada tahun 1990an namun melejit pada tahun 1999 pasca krisis moneter. And it is here to stay. Hallyu yang identik dengan musik, drama, tren, budaya Korea menyumbang banyak GDP Korea Selatan. Pada medio 2015 diperkirakan lebih dari 55,3% turis asing datang ke Korea Selatan karena terpengaruh oleh hallyu ini. BTS saja — takbaleni hanya BTS — menyumbang 0,3% GDP Korsel.

Itu setara dengan sumbangan Korean Airlines. Bandingkan sekelompok grup penyanyi bisa sebanding dengan national carrier yang umurnya udah puluhan tahun.Kesuksesan pengaruh budaya Korsel di luar negeri tidak lepas dari dukungan pemerintah, misalnya pendirian kementerian budaya dan olahraga, juga peran Korean Tourism Office. Suntikan dana masif. Pasca krismon 1998 sektor hiburan ini menjadi salah satu bidang vital menyembuhkan dari krisis karena mampu menyerap banyak sekali tenaga kerja.

Diakui saja bagaimana pandainya Korea merajut cerita. Orang beranggapan K-Pop isinya cowok cantik-cantik lemah gemulai. Haisshhh. Saya tidak mendengarkan musik jadi kurang paham musiknya sendiri, tapi yang jelas tidak seperti anggapan banyak pembenci. Etos kerjanya ngeri. Fanbasenya pun ngeri. Fanatik di seanteron bumi dan itu mendatangkan banyak revenue untuk negara. Coba aja beli official merchandise Army-Army apa gitu. Barangnya paling gitu aja, tapi stempel merchandise resmi yang bikin mahal. Karena kita beli brand, bukan produk. Drama yang dulu dianggap genre menye-menye, ternyata banyak genre action, horor, dan mengangkat social taboo.

Puncaknya Parasite menang Oscar. Sepuluh tahun yang lalu, ga kenal lah berbagai makanan susah namanya. Sekarang, kimchi ada di tiap supermarket. Samyang jadi idola, pun dengan pandainya dia bikin sertifikasi halal. Samyang yang beredar di Eropa pun kebanyakan malah yang halal lho. Bahkan, mi-mi instan lokal pun beramai-ramai bikin rasa-rasa Korea. Orang ramai bikin kimchi, gochujang, ttkboeki ~~ aku ga bisa nulisnya hahaha. Ya semua pengaruh drama. Pinternya writernim, selalu menyisipkan adegan makan makanan khas Korea. Dan kayanya scene makan jadi hal penting, juga dipertontonkan makan apa sehingga khalayak tahu. Yang nonton kan jadi pengen nyoba. Saya nggak tahu apakah di sinetron Indonesia ada adegan semacam itu, mendetail tentang makanan tertentu lalu ada percakapan semacam. “Enak sekali ya gudeg Jogja ini, arehnya sungguh lumer di mulut. Manis.

Membuatku ingin selalu berkata manis kepadamu, yeobo.”Produk placementnya pun halus. Samsung, selalu muncul. Hyundai sering. Seo Dal-mi pakai Lancome. Ah ah ah, kalau udah ngomongin keberhasilan Korea dalam pasar skincare. Luar biasa bener. Dia menembus hegemoni Amerika dan Perancis dan memang produknya lebih cocok untuk kulit Asia. Kalau kita ke Seoul aja, setiap sudut isinya toko skincare. Apalagi di Myeongdong. Tumpah ruah diskonan Nature Republic, Laneige, COSRX, ga apal aku apa lagi.Belum lagi ngiklanin wisatanya.

Kaya Winter Sonata yang sukses ngangkat Nami. Itaewon Class secara tidak langsung juga promosi betapa internasionalnya Itaewon. Namsan Tower seriiiiing banget nongol. Dulu FTV Indonesia sering memunculkan lokasi wisata di daerah. Ga tahu sekarang. Dan yang paling kacau dari TV Indonesia selain akting, product placementnya yang…..iklan bukan….terintegrasi dalam konten juga bukan. Tur bintang-bintang iklane wagu banget le berperan aigoo

Ya wajar kalau budaya Korsel mampu merangsek di dunia. Halus bikinnya. Dan serius. Semua lini bisa diborong sekaligus. Ya jualan drama, jualan musik, jualan skincare, jualan mobil, jualan HP, jualan Subway, jualan pariwisata bisa dilakukan dalam satu drama. Pernah saya liat mas-mas India nonton drakor di pesawat. Padahal orang subkontinen India biasamya fanatik sama Bollywood. Kalau kita nonton drakor di VikiRakuten punya US, ngidupin komennya, kelihatan banget betapa orang ‘bule-bule’ pun banyak yang ndrakor — bukan cuma Asia.

Buat ibu-ibu Indonesia dan Asia Tenggara, nonton drama hiburan banget. Bisa disambi setrika. Kadang dramanya ga seru banget, tapi ‘banter’-nya lebih seru. Kaya tim Ji-pyeong vs Do-san. Pada kreatif bikin ‘perang’. Bagi yang ga tahu bilang drama aja war-waran. Padahal, ya ampuuuun, itu cuma seru-seruan aja kali. Sengaja cari tema buat ngolok tim satunya. Tapi ya cuma gitu doang. Yang bener ajah. Emang guweh pikirin Dal-mi mau ends up sama siapa? Hahahahaha. Entar juga langsung move on kalau ada drama baru.

Karena tidak selamanya Hyun Bin jadi tentara Korea Utara eeaaaa ~~Korea-koreaan ini sering diserang oleh pihak-pihak yang tidak berkepentingan. Dianggap ini, itu, pengaruh buruk, menjauhkan dari agama, menuntut suami menjadi orang lain. Wakakakaka ku pengen ngakak kalau ada yang nulis gitu. Yang bener aja. Bikin pengen makan Samyang 2× spicy. Pohon yang makin tinggi, anginnya memang makin kencang, eonnie. Halusinasi enggak. Hallyusinasi iya

Sumber : Status Facebook Olenka Priyadarsani

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed