by

BLT Bukan Produk Cikeas

Oleh : Karto Bugel

Tiba-tiba Ketum Demokrat itu berungkap galau atas harga BBM yang dinaikkan oleh pemerintah. Dia seperti berusaha tak mau mengerti apa itu esensi memerintah. Padahal, 10 tahun sudah bapaknya pernah menjadi orang nomor 1 di negeri ini.

“Saya ulangi turunkan kembali harga BBM kita, jangan sebaliknya. Jangan sebaliknya ketika harga minyak dunia turun kok harga BBM malah dinaikkan?” demikian kata AHY saat Rapimnas.

Di sisi lain, AHY pun menyinggung bahwa program BLT adalah program milik bapak nya. Program itu kurang lebih adalah ide jenius dari sang ayah saat jadi Presiden dan kini diadopsi oleh Jokowi.

“BLT produk kebijakan Presiden SBY yang dulu ditentang oleh sebagian kalangan justru sekarang ditiru dan menjadi penyangga utama daya beli masyarakat,” ungkapnya.

Benarkah?

Yang jelas, bila pak Jokowi hanya peduli pada reputasi dirinya belaka, mudah baginya untuk tidak menaikkan harga BBM itu. Bukankah waktu pemerintahannya hanya tinggal 2 tahun saja? Dia benar – benar bisa melakukan hal itu bila sikap egois adalah pilihannya.

Bila beliau mau ndableg, dengan mudah subsidi itu akan dia berikan. Tak ada yang mampu melarangnya. Bahwa kemudian muncul potensi terjadinya kekacauan pada ruang fiskal yang kelak akan dinikmati oleh Presiden berikutnya yakni sang terpilih pilpres 2024, dia bisa saja berkilah bahwa itu bukan urusannya.

Bisa jadi, hal seperti itulah yang justru terjadi pada saat ayahnya menjadi Presiden pada jabatan ke duanya. Bisa jadi, dalam benak pak SBY muncul bisikan ‘bukan urusannya’ saat beliau tahu akan ada akibat fatal kelak atas putusannya hari ini.

Harga minyak dunia yang tinggi melambung di akhir masa jabatannya, tak membuat SBY menaikan harga BBM. Subsidi super besar itu tetap diberikan tanpa pikir panjang hanya karena beliau tahu bahwa pada 2014 nanti dirinya sudah bukan lagi sebagai Presiden.

Baginya, yang penting adalah citra dirinya terus terlihat baik, kerusakan fiskal presiden berikutnya adalah bukan urusannya. Dan itu makin masuk akal manakala dia memang tak memiliki penerima estafet. Dia terlihat tak mau ambil pusing selama itu bukan urusannya.

Dan benar, Jokowi sebagai presiden terpilih langsung dibuat pusing. APBN miliknya kacau balau. Merasa tak ada pilihan, tak ada cara lain selain satu itu, Jokowi pun menaikkan harga BBM sesaat setelah dia dilantik. Faktanya, tak ada rakyat yang marah atas keputusannya tersebut.

Keputusannya dalam menaikkan harga BBM itu pun serta merta memberi lega ruang fiskal miliknya yang kemarin berantakan. Serta merta dia pun memiliki anggaran dan kemudian mampu membangun infrastruktur negara ini dengan cepat.

“Bagaimana dengan BLT yang adalah ide bapaknya yang kini ditiru oleh Jokowi?”

Program BLT dilakukan pertama kali adalah pada tahun 2005. Dia berlanjut pada tahun 2009 dan kemudian di 2013 dia berganti nama menjadi Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM).

Bila melihat tahunnya, itu memang tahun dimana pak SBY sedang berkuasa. Namun benarkah itu berarti adalah juga sama dengan ide pak SBY?

Pada tahun 2004 harga minyak dunia naik. Pemerintah pun memutuskan memotong subsidi minyak. Sama dengan alasan hari ini, hal ini dilakukan dengan alasan BBM bersubsidi lebih ternyata banyak digunakan oleh orang-orang dari kalangan industri dan berstatus mampu.

Lalu, setelah pendataan lebih lanjut, didapatlah fakta ahwa dari tahun 1998 sampai dengan 2005 penggunaan bahan bakar bersubsidi telah salah digunakan sebanyak 75 persen.

Karena harga minyak dunia terus naik, lalu dibuatlah pemotongan subsidi dan terus terjadi hingga tahun 2008 dengan kenaikan sebesar 50 persen dari harga awal.

Akibatnya, harga bahan-bahan pokok pun ikut naik.

Dan maka, demi menanggulangi efek kenaikan harga bagi kelompok masyarakat miskin dan terdampak langsung, pemerintah memperkenalkan program BLT kepada masyarakat. Dan untuk pertama kalinya dilakukan pada tahun 2005.

Menurut catatan yang ada, ternyata, program ini pertama kali justru dicetuskan oleh Jusuf Kalla tepat setelah dirinya dan Susilo Bambang Yudhoyono memenangkan pemilihan umum presiden dan wakil presiden Indonesia pada tahun 2004.

Akhirnya, berdasarkan instruksi presiden nomor 12, digalakanlah program Bantuan Langsung Tunai tidak bersyarat pada Oktober tahun 2005 hingga Desember 2006 dengan target 19,2 juta keluarga miskin.

Lalu, karena harga minyak dunia sekali lagi kembali naik, BLT pun kembali diselenggarakan pada tahun 2008. Dia dihidupkan dengan instrumen Inpres nomor 3 tahun 2008, dia hidup kembali.

“Jadi bukan ide pak SBY gitu?”

Pada tahun 2013, saat pak JK sudah bukan jadi Wapresnya, pemerintah kembali menyelenggarakan BLT tetapi dengan nama baru, Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM).

Bisa jadi AHY saja yang lupa bahwa ide BLT bukan dari bapaknya. Mungkin juga dia lupa bahwa ide bapaknya itu bernama BLSM yang entah kenapa justru tertukar nama dengan BLT hanya karena nama itu masih dipakai oleh Jokowi.

Secara mekanisme, BLSM sama seperti BLT, dan jumlah anggaran yang dikeluarkan untuk program ini adalah 3,8 triliun rupiah untuk 18,5 juta keluarga miskin, dengan uang tunai 100 ribu rupiah per bulannya.

“Tapi benar dong BLT adalah murni ide yang lahir dari pemerintahan SBY?”

Menurut catatan, bantuan langsung tunai, pertama kali justru diciptakan di Brasil pada tahun 1990-an dengan nama Bolsa Escola dan kelak berganti nama menjadi Bolsa Familia.

Program ini sifatnya adalah bantuan langsung tunai bersyarat yang diprakarsai oleh Luiz Inácio Lula da Silva, presiden Brasil ke-35. Konon Bolsa Familia masih bertahan hingga saat ini sebagai bantuan langsung tunai bersyarat terbesar di dunia, dan telah berhasil menolong sekitar 26 persen penduduk miskin di Brasil hingga tahun 2011.

Untuk itulah sehingga program tersebut kemudian ditiru oleh negara-negara lain dan Indonesia adalah salah satunya. Di Turki dia bernama Şartlı Nakit Transferi, di Mesir dengan nama Program Minhet El-Osra, di Malaysia disebut Bantuan Rakyat 1 Malaysia (BR1M), di India bernama Janani Suraksha Yojana dan banyak negara yang lain di dunia memggunakan skema yang sama.

“Trus kalau emang begitu, ngapain AHY ributin terus?”

Seolah tak mau kalah dengan anaknya sendiri, Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono pun berungkap galak. Kali ini terkait dengan Pemilu 2024. Dia menduga ada upaya agar Pilpres 2024 nanti diatur hanya akan diikuti oleh dua pasangan capres-cawapres.

Dugaan SBY itu pun ternyata juga disampaikan saat Rapimnas Partai Demokrat 2022 di Jakarta Convention Center, Jakarta Pusat.

“Para kader mengapa saya harus turun gunung menghadapi Pemilihan Umum 2024, saya mendengar mengetahui bahwa ada tanda-tanda Pemilu 2024 bisa tidak jujur dan tidak adil,” kata SBY seperti dilihat detikcom di akun Tiktok @pdemokrat.sumut.

Dari sini kita jadi makin tahu, apapun bunyi yang keluar dari dalam tembok keluarga itu, itu pasti tentang rasa galau. Apapun masalah yang sedang akan mereka sampaikan, itu terkait erat dengan galau keluarga itu terlalu sulit ikut Pilpres 2024 nanti.

Paling tidak, AHY sang Ketum dan sekaligus sang Pangeran Putra Mahkota itu pun kini sedang tak tahu ikut siapa pada pilpres 2024 nanti. Presidential Threshold, aturan yang muncul saat bapaknya berkuasa dan saat partai milik bapaknya juga masih jadi raksasa, kini justru muncul menjadi penjegal.

Diri dan partainya saat ini telah menjadi mungil bila tak mau disebut liliput . Partainya hanya memiliki 7,7 persen suara saja dan maka butuh lebih dari satu teman bila ingin untuk ikut dalam kontestasi yang butuh syarat 20 peraen tersebut.

Sialnya, jangankan dua teman, satu partai sebagai partner saja akan menjadi terlalu sulit manakala bersyarat AHY sebagai Capres.

Bahkan, bisa jadi, itu pun masih sangat sulit dan masih sangat mahal meski bersyarat Cawapres sekalipun. Jadi tahu kan kenapa keluarga itu jadi terlihat sensi akhir-akhir ini?

RAHAYU

Sumber : Status Facebook Karto Bugel

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed