Benarkah Malam Ini Brimob Dorr 14 Terpidana Narkoba?

Redaksiindonesia – Upaya pemberantasan narkoba bagi Indonesia ternyata tidak hanya berjalan dilapangan baik bagi pelaku, konsumen, pengedar dan lainnya. Namun juga bagi para terpidana yang sudah memiliki hukuman inkracht untuk di eksekusi mati berdasar putusan sidang. Setidaknya di jaman Jokowi sudah 2 kali eksekusi hukuman mati pada para terpidana narkoba dan malam ini diprediksi eksekusi pada 14 narapidana makin mendekati.

Sudah sejak siang (Kamis), ada pemberlakuan pembatasan kunjungan hingga pukul 12.00 saja. Pasukan Brigadir Mobil Polri juga sudah menyeberang ke Pulau Nusakambangan dimana para narapidana itu ditahan. Kesibukan di Kota Cilacap juga bertambah meningkat. Hingga berita ini ditulis, belum ada media massa online yang memberitakan eksekusi malam ini.

Penjagaan diperketat tidak hanya jalur pelabuhan dari dan menuju ke Nusakambangan tetapi di seputar Kota Cilacap terlihat aktivitas aparat meningkat.

Ditambah informasi yang patut dipercaya, kepastian eksekusi malam ini makin jelas. Selain eskalasi hilir mudik meningkat juga berbagai persiapan dilapangan terlihat jelas. “Tidak boleh ada yang ijin” jawab informan redaksiindonesia dari Cilacap menjawab pertanyaan kapan eksekusi akan dilakukan.

Eksekusi para terpidana ini menunjukkan keseriusan pemerintah untuk tidak main-main dengan para gembong narkoba yang bisa merusak masa depan bangsa. Mereka inilah yang diketahui memiliki sindikat dan jaringan besar.

Bedanya kali ini mayoritas narapidana yang berjumlah 14 orang itu berasal dari Asia dan Afrika. Dalam berbagai berita direlease nama  Ozias Sibanda dan Fredderikk Luttar (Zimbabwe), Obina Nwajagu dan Humprey Ejike (Nigeria), Seck Osmane (Afrika Selatan),  Zu Xu Xhiong, Cheng Hong,  Gang Chung Yi, Jian Yu Xin (Tiongkok), Zulfiqar Ali (Pakistan). Sementara dari Indonesia ada Merri Utami, Suryanto, Agus Hadi, Pujo Lestari dan gembong kakap Freddy Budiman.

Nama terakhir ini sangat kondang dan terkenal sulit ditangkap. Meski berada di sel tahanan, Freddy masih mengatur jual beli benda terlarang itu. Dia juga mengganti penampilan yang terlihat sangat agamis tentu dengan harapan akan dilepaskan.

Meski diluaran ada polemik terkait hukuman mati, faktanya ribuan generasi muda Indonesia mati sia-sia. Ketidaktegasan hukum juga menjadikan Indonesia sebagai pasar jual beli barang haram itu.

Nampaknya Presiden Joko Widodo ingin mengehentikan tidak hanya persepsi tapi benar-benar terealisasi. Dirinya menempatkan Letjen (Pol) Budi Waseso yang terkenal garang pada pelaku kejahatan sementara dirinya tetap saja menolak PK para narapidana Narkoba.

Semoga dengan dilaksanakannya eksekusi tahap III ini, para penjual hingga pengedar narkoba berpikir panjang untuk mengirim barang ke Indonesia. Tidak hanya dari eropa namun juga dari kawasan Asia.

Mari kita dukung pemerintah untuk memberantas narkoba dan melindungi generasi muda kita bertambah rusak atau mati sia-sia. (#AK)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *