Bagaimana Cara Menghitung Kerugian?

Demikian juga dengan karyawan-karyawan toko itu. Berapa kerugiannya?
Nilai kerugian mungkin setara dengan makanan anak-anaknya, bayar listrik dan sewa rumah kontrakan, nafkah istrinya, dan sedikit biaya pulsa. Bulan depan ia gak bisa memastika lagi, apakah semua itu bisa terbayar. Tempatnya mencari nafkah kini hangus.
Toko buku di seputar Senen, adalah salah satu tenpat favorit saya saat kuliah dulu. Disana saya bisa dapatkan buku bagus dengan harga miring. Kini sebagian tinggal puing. Dibakar oleh orang yang demo demi ‘membela’ rakyat.
Jika ditanya apa harapanmu sebagai rakyat yabg kau titipkan ke pundak mahasiswa yang demo? Mungmin jawabannya simpel : Kami rakyat. Gak perlu Anda dibela. Cukup jangan ganggu usaha kami. Jangan bakar tenpat cari nafkah kami.
Barangkali itu juga yang ingin disampaikan pemilik toko dan reatoran di Malioboro, Jogja, kemarin. Sebagian kios terbakar. Sebuab restoran hangus menjadi puing. Orang-orang yang mencari nafkah disana langsung kehilangan mata pencarian. Pemiliknya menangis sejadi-jadinya.
Selama ini mereka coba menahan gempuran pandemi yang membuat usahanya limbung. Tapi gempuran demonstran yang brutal, bukan saja telah membuatnya nyusruk. Juga kini menenggelamkan hidupnya.
Bagaimana cara menghitung kerugian?
Saya sendiri gak tahu. Sebab kerugian bukan hanya soal angka-angka. Disana ada keringat yang tumpah. Kesedihan yang merembes. Rasa khawatir dengan masa depan. Dan air mata yang kering.
Tapi mungkin Gatot Nurmantyo tahu cara menghitungnya. Atau Rizieq dan pentolan 212 Atau Agus Yudhoyono. Atau orang-orang PKS. Atau Said Iqbal. Atau buruh yang ngamuk di jalananan didasarkan kabar hoax. Atau para mahasiswa yang kemarin meruah ke jalan dan foto-foto ria buat konten IG-nya. Lantas pulang kekosan dengan perasaan bangga sebagai pejuang.
Bagaimana cara menghitung kerugian?
Tanyakan pada pemilik kios di Senen atau di Malioboro yang tempat usahanya tinggal abu. Tanyakan kepada karyawan yang memgandalkan nafkah dari tenpat itu. Tanyakan kepada mereka, berapa kerugian mereka?
Anda akan dijawab dengan diperlihatkan foto anak-anak mereka. “Inilah total kerugian kami, yaitu masa depan anak-anak kami.”
Kita perlu bertanya : pasal berapakah dalam UU Cipta Kerja, yang perlu dihapus. Sedemikian pentingnya untuk dihapus, meskipun biayanya harus dengan membakar tenpat orang mencari nafkah.
Apakah masa depan anak-anak mereka setara dengan apa yang sedang Anda perjuangkan?

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *