by

Ayo Berkebaya

Oleh : Harun Iskandar

Beberapa Ibu ada yang omong, sebenarnya ingin berkebaya dan berkain, tapi terkendala ‘dana’. Mahal diongkos, maksudnya . . .

Benarkah ?

Bisa benar bisa tidak. Tergantung.

Ambil contoh Nyonya saya. Beberapa kebaya yang dia punya memang ‘relatif’ mahal. Kain juga. Batik ‘Bayi’ atau tenun ‘Gringsing’ Bali, misal, harganya memang bisa bikin saya sendiri ‘kringetan’, meski cuma dengar, dan ndak ikut mbayar.

Tapi ‘wortit’. ‘Nawaitu’ juga koleksi, agar para Pengrajin dapurnya tetap berasap, produk budaya tetap eksis.

Mahal, relatif, karena ‘handmade’. Dibuat satu2 dengan tangan. Rumit. Butuh waktu lama. Mingguan, bulanan, bahkan tahunan . . .

Tapi ada juga beberapa yang seharga ‘daster’. Dalam arti harfiah. Nyata di dunia. Silakan pilih saja yang ‘pabrikan’. Pergi ke ‘Tamsis’ kalo orang Jakarta, atau ‘onlen’. Tentu saja dengan resiko ada ketemu ‘kembaran’ . . .

Foto2 terlampir, momen saat Nyonya temani teman2nya PBN, Perempuan Bersanggul Nusantara, wilayah Surabaya. Datang ke Jakarta kemaren.

Coba tebak, berapa harga total busana Nyonya saya. Tentu saja diluar arloji, sandal, kalung, tas tangan dan kacamata.

Kain ‘sèwèk’ harganya 150 ribu, kebaya 50 ribu. Harga dalam ‘Rupiah’, bukan ‘Dollar’ . . .

Murah bukan ? Relatif tapi. Untuk yang masih mikir hari ini ‘makan apa’, atau bahkan ‘ada ndak’ yang dimakan, tentu saja kata ‘murah’ ya ndak pas dan kurang pantes diucapkan. Tapi buat Ibu2 yang masih mampu beli ‘pulsa’, harga itu biasa . . .

Tapi itu diluar konteks . . .

Kebaya, karena beli ‘jadi’, ukuran kurang pas. Nyonya saya ini, kalau beli ukuran ‘S’ kekecilan, pilih ‘M’ kadang kedodoran.

Untuk itu perlu dikirim ke Tukang Jahit langganan. Butik ? Bukan . . .

Tapi seorang ‘Bapak Tua’, yang mukim di kampung ‘mepet’ kompleks. Dalam gang sempit. Naik sepeda montor saja sungkan. Takut berisik. Naik mobil parkir di ujung gang.

Mahal ongkos vermaknya ? Murah juga. Relatip . . .

Coba lihat juga gambar ‘coat’ terlampir. Kain tenun mungkin mahal. Namun ongkos jahit coat yang dipersiapkan untuk ‘musim dingin’, kayak dalam ‘Drakor’, juga murah. Relatip.

Sudah dilengkapi dengan ‘daleman’, lapisan kain tambahan, yang disiapkan oleh bapak Tukang Jahit. Kancing juga.

Ongkos jahitnya hanya ‘seupil’ dibanding harga kain tenunnya.

Berapa ? Rahasia . . .

Ayo Berkebaya . . .

Campur jilbab atau ndak, sak karepmu . . .

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed