by

Sultan HB X Hentikan Jilbabisasi

Oleh: Supriyanto Martosuwito

Sri Sultan Hamengku Buwana X mengambil tindakan cepat dan tegas terkait pemaksaan menggunakan jilbab di SMAN 1 Banguntapan yang mengakibatkan seorang siswanya depresi.

Selaku Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan HB X menyatakan, Pemda DIY telah membebastugaskan kepala sekolah dan tiga guru di sekolah tersebut. Mereka yang dinonaktifkan menjalani pemeriksaan dan tidak boleh ke sekolah dan mengajar. “Saya menunggu tim melakukan pemeriksaan, perlu diteliti yang benar bagaimana, “ tambahnya.

Sri Sultan menyesalkan, kebijakan sekolah negeri yang mewajibkan siswi muslim untuk berjilbab itu sampai harus membuat siswi bersangkutan depresi hingga memutuskan pindah sekolah. “Yang salah itu kebijakan sekolah yang melanggar itu, bukan anaknya, kenapa yang harus pindah sekolah anaknya?” tanya Sultan.

Menurut Aliansi Masyarakat Peduli Pendidikan Yogyakarta (AMPPY), pemaksaan jilbab terjadi saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Pada 18 Juli 2022, siswi baru 16 tahun itu masuk sekolah tanpa mengenakan hijab itu mendapat panggilan dari bagian Bimbingan Konseling (BK) di sekolahnya.

Setelah menerima panggilan itu, siswi itu disebut menangis selama 1 jam di toilet sekolah karena depresi. Yuli menduga siswi itu mengalami trauma karena dua kali dipanggil oleh BK. Selain itu, siswi juga mengurung diri seharian di kamar rumahnya pada 24 Juli 2022 dan tidak mau berbicara dengan keluarga.

Kepala SMAN 1 Banguntapan Bantul, Agung Istiyanto membantah guru BK dan wali kelas di sekolahnya memaksa siswi memakai jilbab. Guru BK hanya menyarankan siswa untuk mengenakan jilbab sebagai bagian dari “pembentukan karakter”.

Namun pernyataan Agung ini dibantah oleh Yuliani. Ia menyebut ada indikasi sekolah memaksa siswi mengenakan jilbab. Seperti misalnya label sekolah yang ada di jilbab.

“Jilbab wajib dibeli (di sekolah). Dari situ sudah jelas, kalau dia memaksakan kenapa bikin hijab. Dan itu kan sudah melanggar di aturan PP dan Permendikbud itu kan jelas enggak boleh kayak gitu,” kata Yuliani

Yuliani menyebut guru BK memaksanya mengenakan jilbab. Sejumlah guru di sekolah itu menegur siswa itu, lalu guru BK dan wali kelas mengundangnya datang ke ruangan melalui pesan WhatsApp. Dalam perundungan itu guru BK sempat menyebut orangtua siswi yang “mualaf” dan “tidak shalat”.

BERALASAN “tidak memaksa” tapi tak memberikan pilihan lain, kecuali mengundurkan diri atau keluar dari sekolah, dengan perundungan dan pengucilan, adalah modus standar para kepala sekolah dan guru untuk memaksakan para siswanya berjilbab dan itu berlaku secara merata di sebagian besar sekolah negeri saat ini – notabene sekolah yang dibiayai negara.

Kepala sekolah dan guru sudah menjadi agen ajaran puritanisme dan radikalisme, kerasukan agama tafsir intoleran – karena sudah terpapar ajaran Islam – Intoleran, keArab Araban.

Hampir di seluruh sekolah negeri di seluruh provinsi dilanda gerakan jilbabisasi dan Arabisasi.

Gerakan jilbabisasi di Indonesia dan Asia Tenggara sudah begitu masif, sistematis dan terstruktur, karena didukung kampanye dan pendanaan internasional khususnya dari jazirah Arab. Indonesia dan negeri mayoritas muslim Asia lainnya tengah didorong ke arah puritanisme, konservatifisme, yang mengarah ke intoleran ke dunia Arab di abad 6 Masehi. Dalam rangka hegemoni Arab di Indonesia melalui penjajahan budaya mereka.

Akhir Maret 2022 lalu, Jogya digemparkan oleh sekumpulan orang mengaji bersama di Jalan Malioboro, yang menjadi viral di media sosial. Dalam video tersebut tampak sebagian peserta duduk di kursi-kursi yang ada di pinggir Jalan Malioboro sembari membaca kitab. Sedangkan kelompok yang membaca selawat berdiri mengenakan kaus hijau di tepi jalan.

Tampil pamer ngaji di jalan raya di tempat ramai, bukanlah watak warga DIY selama ini. Jogya adalah kota pelajar, kota budaya dan kota seniman. Bukan kota santri, meski gerakan Muhamadiyah lahir di kota ini. Gerakan Islam Modernis.

Dan belakangan ini gerakan jilbabisasi dan Arabisasi mulai menggunakan cara cara fasis : memaksakan kehendak dan kepatuhan mutlak, melalui lembaga pendidikan resmi milik negara.

Bahkan di DKI Jakarta, notabene Kota Megapolitan, sebagian sekolah menengah negeri mewajibkan mengaji Al Quran sebelum pelajaran sekolah. Padahal sekolah negeri, sekolah negara, sekolah untuk semua agama.

Sempat viral juga, dua sekolah negeri di Jakarta Barat dan satu sekolah di Jakarta Selatan yang disebut memaksa murid-muridnya mengenakan jilbab. Anggota DPRD DKI Jakarta Imah Mahdiah mengunggah foto sedang memberikan baju seragam kepada salah seorang anak SD. Dalam foto diunggah itu dia memberikan keterangan bahwa beberapa siswi SMP muslim di wilayah Jakarta Barat dipaksa memakai jilbab.

Hampir dipastikan di belakang ini ada ideolog yang gencar mencuci otak dan melakukan agitasi untuk menjadikan jilbab sebagai busana nasional. Juga guyuran pendanaan asing yang mendorong Indonesia bergantung pada budaya Arab dan budaya Islam masa lalu.

Padahal jelas, jilbab bukan busana Indonesia dan bukan busana Islam. Jilbab merupakan produk budaya jazirah Arab dan tidak sesuai dengan budaya Indonesia yang beraneka suku dan adat istiadat Nusantara.

Negeri Nusantara kaya dengan aneka corak busana dan warna juga bentuk yang seharusnya dikembangkan dan dilestarikan dan bukan diseragamkan dalam bentuk jilbab.

Di jazirah Arab Saudi selama ini semua penganut agama mengenakan jilbab. Islam, Kristen, Yahudi Majusi dan penganut aliran lainnya. Jilbab jelas bukan busana muslimah.

Perkembangan mutakhir, negara negara Arab membuka diri ke modernism dan ikut globalisasi, menyekolahkan anak anak mereka dengan seragam elegan ala Eropa. Namun di negeri jajahan budaya Arab seperti Indonesia dan Malaysia dipaksa untuk mengikuti budaya Arab masa lalu.

Langkah Sri Sultan Hamengku Buwono X layak didukung dan diapresiasi. Semoga menjadi gerakan awal untuk membersihkan jilbabisasi di sekolah umum, di sekolah negeri, sekolah yang dibiayai negara untuk warga semua agama, semua aliran, yang menerima modernitas dan hidup sesuai jamannya. Bukan merindu rindu kehidupan Arab abad 6 Masehi di hari ini sementara Arab sendiri sudah ikut globalisasi. Bikin konser jazz dan festival film, pantainya terbuka untuk turis berbikini, dan anak anak mereka berseragam layaknya anak sekolah di Eropa.

(Sumber: Facebook Facebook Supriyanto M)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed