by

Rumitnya Memahami Muslim di Indonesia

Oleh : Ahmad Tsauri

Mungkin muslim gak ada yang jadi CEO raksasa teknologi dunia, karena kebanyakan rutinitas. Kabanyakan distraksi, pikirane jadi cupet, bebal, gak bisa mikir yang detail-detail, gak bisa mikir berat, apalagi mikir inovasi. Kewajiban yang tercover dalam rukun Islam gak usah disebut ya, itu kebutuhan tiap individu. Sebut saja hari raya idul Fitri, hari rayanya sehari, seremonialnya sudah sebulan sendiri, demikian juga idul adha, muharaman, syakbanan, rajaban, maulid di instansi, masjid Jami, Pemkot, pemkab, pemprov samalpai istana negara, haul, manaqiban, dan buanyak lagi.

Masih ditambahi reuni haji, reuni 212. Yang terakhir ini seakan-akan kalau tidak dilakukan berdosa. Tidak heran kalau jamaahnya maksa mengadakan walaupun sudah jelas dilarang pemerintah. Tolonglah tokoh-tokoh ini, jangan egois dengan agenda pribadi yang melibatkan masyarakat kita ini, pikir-pikir dulu. Jangan sampai umat ini merasa terbebani dengan ritual yang sebenarnya bagi Anda agenda temporal tapi bagi umat jadi agenda abadi. Harus, kalau tidak melakukan mereka merasa bersalah. Gunungan rutinitas yang terus bertambah tiap abad, sudah banyak ditanggung umat. Abad 1-14 ngasih wadzifah, amalan kolektif, sampai bungkuk punggung umat ini.

Rasulullah Saw sendiri punya banyak amalan yang ingin sekali dilakukan umat, tapi beliau menahan diri karena takut menjadi beban, kemudian taharuj, تحرج , ada perasaan bersalah jika tidak melakukan. Padahal adanya Islam ini untuk menjernihkan apa yang harus dilakukan apa yang tidak boleh, apa yang wajib mana yang tidak. Clear. Salah satu misi Rasulullah Saw itu دفع التحرج, menghilangkan ambiguitas dalam menyembah Tuhan. Diseluruh dunia bukan hanya di Arab, manusia berimajinasi bagaimana cara mereka “memuaskan hasrat tuhan untuk disembah” misalnya era kakek Nabi, Abdul Muthalib itu masih ada nadzar mengorbankan putra, era Nabi masih ada anggapan menikah dengan mantan istri anak angkat kita itu haram. Hal-hal begitu yang jumlahnya ribuan kasus, di clear-kan oleh Islam.

Ada sabda Nabi Saw yang terkenal, لو أن أشق على أمتى لامرتهم بالسواكSeandainya aku tidak khawatir membebani umatku, maka aku akan mewajibkan kepada mereka menyikat gigi. Dan Rasulullah Saw tidak mewajibkan karena takut membebani umat. Lalu kenapa yang ngaku umatnya banyak nambah beban, Datuk ke 7 diperinati haul, ke 6 haul, 5 haul, 4 haul, 3 haul, nanti dirinya wafat gaul juga. Ia Anda ngurusi itu saja dapat duit, hidup mewah, sedangkan umat ini perlu kerja buat makan sehari-hari. Gak mikiri nasib umat malah ngerepotin saja. Maulid yang sudah berjalan dari datuknya jalan, dia bikin juga, anak-anak bikin juga. Lah ini orang cuman kepentingan politik sesaat menumbangkan Ahok, untuk menaikan Anis, yang ngarang cerita saja, yang mendanai saja sudah gak peduli, ini umat merasa bersalah kalau 212 tidak diperingati.

Menurut saya ini dosa, dosa menambah beban hidup umat. Ritual boleh, kita juga butuh, tapi jangan maniak juga. Apa-apa ko harus di ceremonial kan.

Sumber : Status Facebook Ahmad Tsauri

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed