by

“Revolusi” Media di Era Disrupsi

Oleh : Agung Wibawanto

Setelah diamati, peran media sdh berubah drastis… Dulu media adalah “perantara” antara peristiwa dan pelaku dengan masyarakat pemirsa, untuk itu disebut pewarta. Masyarakat dulu selalu menunggu ataupun mendapatkan info berita dari media mainstream akan sebuah peristiwa yang terjadi.Sekarang, siapapun dapat menyampaikan langsung kepada publik, tidak membutuhkan lembaga media lagi. Bahkan bisa dengan cepat dan sampai kemana-mana (luas jangkauannya).

Karena itu terkadang jurnalis bukan lagi menyampaikan sebuah kejadian, melainkan harus kreatif membuat berita (newsmaker). Dan hal “aneh’ lainnya, pernah membaca atau lihat postingan selebgram di instagramnya? Mengapa begitu laris manis? Jawabannya adalah, “karena tidak penting”. Ya ini yang terjadi, semakin tidak penting dan konyol makin dicari. Yang kategori “penting” menjadi tidak laku. Ini karakter para pembaca muda milenial. Semakin jungkir balik ya? Ke depan, media cetak dan elektronik (TV dan radio) semakin tidak laku. Perhatikan saja seberapa lama anak-anak muda membaca koran dan nonton tivi?

Sementara itu, kapan mereka tidak bersama gadgetnya? Mengingat kuota semakin tidak terbatas, bisa didapatkan secara mandiri (beli) ataupun menumpang WiFi yang penting bisa online.Kebutuhan anak muda sekarang itu seperti: youtube, vlog, tiktok dan sejenisnya. Mereka juga lebih mengkonsumsi game dan paling jauh kalau bacaan itu adalah LINE Today. Apa isinya? Hal yang sangat remeh temeh sesungguhnya dan tidak penting. Tapi itulah perubahan zaman menyebabkan perubahan selera konsumen (terutama anak muda). Yang tua pun banyak yang mengikuti.Kalau mau terlalu idealis bakal tenggelam (ditinggalkan), kalau mau laris ya ikuti trend nya. Dilema dunia media? Saya kira tidak juga, orang kreatif tidak bergantung kepada eranya. Ia bisa tumbuh sedemikian rupa menyesuaikan tantangan zamannya tanpa perlu mengubah visi. Orang kreatif selalu bisa berinovasi dan berpikir out of the box.

Dengan itu, kemasan menjadi penting dengan tidak mengubah isi. Tubuh kita itu kan ya segitu aja gak bisa di-bodyover (kecuali mengikuti program penggemukan atau diet), tinggal sandangan apa yang dipakai supaya bisa lebih menarik, ikuti selera zaman nya. Itu yang tengah dikerjakan sebuah berita portal baru. Hanya saja harus tetap sesuai kaedah penulisan jurnalistik. Dalam arti tidak semata mencari untung dengan menipu berita. Kata orang sekarang kan demi konten, maka melakukan apapun dengan segala cara yang di luar kaedah jurnalistik. Seperti contohnya: mencari atau membuat berita kontroversi dengan tujuan provokatif. Atau mengarang berita, menyebar hoax dll. Clickbait dan judul bombastis sebagai strategi yang kerap dipakai untuk meraih viewer.

Selain mengkhawatirkan bagi media dan pemilik media yang seperti itu, tentu juga menjadi penting bagi pembaca, pemirsa dan penonton agar lebih cerdas memilih dan memilah konten. Banyak netizen yang langsung percaya begitu saja kepada sebuah judul berita. Tanpa melihat isi dan melakukan crosscheck, langsung meyakini, menyebar dan menambah-nambahkan narasinya. Ini bahaya. Bagaimana agar media-media portal bisa tumbuh dan berkembang secara sehat dan cerdas juga edukatif, dibutuhkan masyarakat ataupun warganet yang cerdas pula. Konsumen bisa melakukan kontrol langsung kepada media portal yang “miring-miring” tadi dengan melakukan kritik langsung ataupun melaporkan media berikut kontennya. Dengan begitu kita semua bisa saling belajar dan menjadikan media online lebih manfaat.

Tabik.————————————-

Sumber : Status Facebook Agung Wibawanto

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed