by

Politisasi Agama

Oleh : Islah Bahrawi

Lagi-lagi soal politisasi agama, penggunaan narasi agama sebagai alat propaganda meraih kekuasaan. Sepanjang sejarah, politisasi agama hanya melahirkan kisah getir, konflik kekuasaan yang beranak-pinak. Karena bagaimanapun politik adalah kepentingan dan agama berisikan perbedaan dalam tafsir-tafsir. Ketika keduanya bertemu, seringkali hanya menciptakan sekat-sekat dan tembok tinggi yang sulit untuk terciptanya jembatan.

Politisasi agama pada akhirnya menjebak suatu bangsa ke dalam pertikaian yang tak berkesudahan. Kita bisa melihat apa yang terjadi di Somalia, Nigeria, Sudan, Libya, Suriah, Yaman dan kali ini di Afghanistan. Ada kepentingan politik atas nama agama dan ada kepentingan agama atas nama politik, yang menghalalkan praktik brutalitas atas nama Tuhan. Selama berabad-abad politik membuat manusia berperang, selama berabad-abad agama juga membuat manusia bermusuhan. Lalu bayangkan ketika keduanya dikolaborasikan paksa dan dijadikan siasat untuk kepentingan kekuasaan.

Dalam konteks Indonesia, upaya-upaya politisasi agama mulai dijalankan tidak lama pasca reformasi. Pada Pemilu 2004 mulai tumbuh berbagai gerakan politik yang menjadikan agama sebagai kanal-kanal politik. 2009 berbagai akomodasi terhadap politisasi agama semakin menjadi.

Tahun 2014 hingga terakhir Pemilu 2019, mereka menggunakan berbagai cara untuk mempengaruhi masyarakat, merawat kebencian satu sama lain atas nama agama demi menjaga kekuatan elektoral.Pada Pemilu 2024 nanti akan menjadi “gateway” menuju “zero sum game” politisasi agama. FPI baru yang belakangan ini bermunculan adalah bagian dari upaya menciptakan bejana “hipnotisasi” masyarakat demi kepentingan politik itu tadi. Mereka memolesnya untuk didudukkan dalam etalase pragmatisme politik sebagai barang dagangan. Siapa tahu ada cukong yang sedang “window shopping”, lalu tertarik untuk membelinya.

Sumber : Status Facebook Islah Bahrawi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed