Oleh : Agung Wibawanto
Jika tidak suka atau tidak ingin mengikuti suatu tradisi (bahkan dianggap haram) ya gak apa-apa, karena bangsa ini bebas dalam berkeyakinan. Tuh contoh babi dah lama dianggap haram bagi kaum muslim, gak pernah masalah kan? Menolak silahkan tapi tidak perlu pula ditambahkan menghasut untuk memusnahkan (apa lagi itu budaya adi luhung turun temurun), karena bagaimana jika pengikutmu pada ikutan akan memusnahkan? Sudah ada kasus sebuah kelompok membubarkan paksa dan merusak tradisi yang sedang berlangsung di masyarakat (hati-hati dengan pengikut yang bodoh).
Itu yang pertama. Yang kedua, tidak perlu dikoar-koarkan keluar komunitasmu. Karena kalau pakai dipublikasikan, apa tidak boleh kemudian orang lain tersinggung dengan perkataanmu ingin memusnahkan itu? Patung, dianggap berhala dan haram juga tetap berdiri dan anteng, karena tidak ada yang masalahin. Jadi, jangan mulai yang aneh-aneh terlebih dipublikasikan, bahaya. Wayang (kulit) adalah budaya yang sudah dikenal dunia bahkan diakui UNESCO sebagai warisan budaya asli Indonesia. Masyarakat Indonesia sempat bersitegang dengan Malaysia yang dianggap telah mengklaim wayang sebagai produk asli Malaysia, begitu juga dengan batik.
Artinya apa, wayang yang ingin dimusnahkan ini adalah sebuah simbol bangsa (budaya) yang begitu dipertahankan keberadaannya. Selain harus dijaga juga patut dilestarikan secara turun temurun, terutama oleh komunitas masyarakat Jawa. Bagi komunitas Islam tertentu, mengikuti apa yang pernah dilakukan oleh Sunan Kalijaga, wayang justru dijadikan sebagai media dakwah bagi penyebaran agama Islam. Beliau (Kalijaga/Raden Sahid) pada masa itu tidak menggunakan cara memaksa orang-orang untuk mengikuti ajaran lalu memeluk Islam. Kalijaga orang yang cerdas, menggunakan pendekatan budaya melalui wayang.Mengapa wayang? Karena orang Jawa (sebagai tempat penyebaran agama Islam) sangat suka menonton wayang dan juga sudah tradisi.
Cerita, dialog bahkan lakonnya dapat disesuaikan dengan ajaran agama (selain ada pula cerita yang sudah pakem). Wayang ibarat sebuah media penyampai pesan (dakwah), baik itu cetak maupun elektronik. Seperti juga sebuah film dan video. Media tersebut memang diproduk untuk memberi hiburan sekaligus menyampaikan pesan-pesan tadi, terutama kepada rakyat kecil. Para penceramah atau pendakwah zaman kini pun memakai sebuah media bernama video youtube, agar lebih didengar banyak dan mendapat pengikut lebih banyak. Lantas dimana haramnya wayang sebagai sebuah media dakwah? Terlebih dahulu, perlu dijelaskan. “Wayang” dalam pengertian orang Jawa memang bisa memiliki dua arti. Wayang sebagai sebuah acara/tontonan, dan juga wayang sebagai sebuah benda (puppet/boneka).
Mungkin yang dimaksud pendakwah adalah “wayang” sebagai benda (menyerupai orang namun berasal kulit/wayang kulit). Memang ada keyakinan sebagian ahli agama Islam yang tidak membolehkan manusia ke dalam bentuk simbol (boneka, patung, foto dll). Tidak boleh ada personifikasi dalam sebuah benda, bahkan tidak boleh diberi nama layaknya manusia. Ya silahkan saja berkeyakinan demikian. Hanya saja tafsir tersebut masih debatable di kalangan ulama. Yang pasti, wayang tidak bermaksud memanusiakan benda mati. Ada nih ceritanya bagaimana awal mula muncul wayang.
Sumber ini berasal dari simbah saya langsung ketika saya tanya dari mana awal mula munculnya wayang? Jujur, Simbah saya mengatakan tidak tahu, tapi menurut Simbah, bisa saja dari kemiskinan. Lho kok bisa? Untuk hiburan rakyat kecil pada waktu dulu, saking miskin dan tidak punya apa-apa, mana mungkin bisa nonton film bergambar meski cuma hitam putih dan tanpa suara? Juga tidak mungkin nonton pertunjukan teater dipanggung-panggung Opera. Bahkan sekadar nonton tonil (semacam wayang orang ataupun ketoprak/ludruk) pun harus bayar.
Yang tidak bayar dan berbahan murah ketika itu ya wayang kulit. Dulu hanya dari kertas biasa yang dibentuk menyerupai tokoh pewayangan. Lalu dipasangkan kayu kecil (biting) sebagai penyangga dan untuk menggerakkan tangan wayang. Lantas mengapa namanya menjadi wayang? Sekali lagi Simbah mengaku tidak tahu. Dan sekali lagi dia hanya menduga bahwa bisa saja itu berasal dari kata “bayang” atau “bayangan”. Dalam pertunjukan wayang, karena sangat miskinnya rakyat hanya punya lampu sentir ketika itu (lentera bersumbu kain menggunakan minyak goreng di dalam kaleng).
Supaya terlihat besar maka nontonnya harus di balik layar putih (geber). Penyebutan wayang atau bayangan juga bisa bermakna bahwa apa yang ditampilkan bukanlah sungguhan (tidak nyata). Atau bisa juga bermakna, inilah bayangan lain dari sifat dan watak manusia. Wayang kerap bercerita tentang hidup dan kehidupan di dunia ini di masa lalu. Berkisah tentang para dewa yang kemudian diartikan sebagai sisi baik dan buruk manusia. Meski sudah memiliki pakem, kisah pewayangan ini masih kerap disukai untuk ditonton rakyat kecil. Kadang yang mereka tunggu saat goro-goronya.
Di sana akan muncul punakawan yang selalu lucu dan bisa menghibur penonton (dagelan). Jadi, bukan berarti kemudian mereka yang menonton jadi ikut menyembah dewa yang ada dalam lakon pewayangan. Penonton biasanya lebih merekam pesan apa yang disampaikan oleh Sang Dalang, tentu pesan-pesan yang baik. Belum pernah ada Dalang memberi pesan yang buruk kepada penonton dalam pementasannya. Kadang juga menyentil atau kritik membangun kepada para penguasa atau orang-orang yang berlaku tidak benar. Budaya Jawa sangat mengindahkan etika dan adab, maka dalam filosofinya, wayang pun berkonsep kebaikan akan mengalahkan kejahatan.
Mungkin pendakwah itu perlu sesekali ikut wayangan, asal kuat aja “lek-lekan” (begadang).
Sumber : Status Facebook Agung Wibawanto











Comment