Oleh : Bintang Prabowo
tutorial penetrasi yang baik.. sejarah membuktikan bahwa “Penetration Pacifique” atau “Perembesan Damai” merupakan penetrasi budaya yang paling langgeng dan awet. Penetratrion Pasifique adalah masuknya unsur-unsur baru dalam masyarakat yang berlangsung dengan cara damai tanpa melibatkan unsur paksaan atau kekerasan sehingga minim konflik dan justru menambah kekayaan budaya masyarakat.. salah satu contoh penetrasi damai yang berhasil adalah masuknya Islam di Indonesia.. patut disyukuri bahwa islam masuk ke tanah air melalui jalur perdagangan dari wilayah Gujarat/Gujarati.. ini teoritis, boleh didebat..
Natur pedagang adalah ramah dan mudah beradaptasi.. kalau ada pedagang yang songong, suka marah-marah, sumbu pendek, dan gemar menghina budaya setempat, niscaya dagangannya tidak akan laku.. jangankan menyebarkan agama, menyebarkan diskon saja pasti tetap ditolak.. perlu diingat, waktu itu Islam adalah agama pendatang.. Hindu dan Budha lebih dahulu sampai dan menjadi mayoritas di Nusantara.. jejaknya masih ada hingga sekarang: Borobudur, Prambanan, dan ratusan situs kuno lainnya.. itupun masih ada yang nekat mengklaim bahwa Borobudur merupakan peninggalan Nabi Sulaiman (karena dekat Sleman), dan situs Ratu Boko adalah kerajaan Ratu Balqis.. sehingga, layak disebut sebagai peninggalan islam.. itu yang ngomong rada halu, soalnya Sulaiman (Solomon) adalah putra Raja Daud (David) yang merupakan raja terhebat Yahudi yang dahulu mengalahkan Jalud (Goliath) dari bangsa Filistine (Palestina?)..
Seharusnya, mereka mengklaim bahwa Borobudur adalah peninggalan Yahudi.. nah, bingung kan mereka? sama.. Masuknya Islam melalui penetrasi pasif dalam bentuk perdagangan memberikan kesempatan kepada para pedagang Islam untuk mempraktekkan adab dan perilaku islami yang damai dan sejuk.. jujur, ramah, egaliter, dan adil.. sedikit demi sedikit, penduduk pribumi tertarik untuk ikut masuk Islam demi melihat teladan yang baik tersebut.. ada yang dari jalur ngobrol (alias dakwah).. ada juga yang melalui jalur pernikahan.. legenda yang paling terkenal dalam penyebaran Islam di Jawa dan Sumatra adalah WaliSongo.. atau Sembilan Wali..
Kesembilan wali ini, umumnya sepakat dalam model dakwah yang damai dan merangkul budaya setempat.. jika dahulu ada sesajian yang dipersembahkan bagi pohon dan batu besar, Walisongo memperkenalkan model selamatan (slametan) ketika ada hajat (misal: membangun rumah, kelahiran anak, dll) dengan hidangan yang mirip sajen (sesajian), tetapi untuk dimakan bersama.. demikian juga wayang.. Sunan Kalijaga adalah salah satu wali yang memperkenalkan asimilasi gamelan, tembang jawa (mocopat), dan wayang, dengan pesan moral islami di dalamnya.. demikian halusnya sehingga tidak terjadi gesekan yang tidak perlu, sehingga masyarakat bersimpati pada agama baru ini, yang lalu di kemudian hari menjadi agama mayoritas di Indonesia.. berbeda dengan penetrasi kekhalifahan Islam ke Eropa, misalnya..
Setelah berhasil menaklukkan Konstantinopel, kekhalifahan Islam juga berjaya menyeberangi selat Gibraltar menuju Andalusia (Spanyol Selatan), lalu menaklukkan banyak kerajaan Kristen di sana.. itu sebabnya di Spanyol mudah kita jumpai peradaban Islam dan orang-orang Kaukasia berkulit agak gelap mirip ras Arabic, karena kekhalifahan islam berkuasa di sana selama sekitar 700 tahun.. menariknya, meskipun berkuasa, tidak dilakukan pemaksaan pindah agama.. mereka yang tetap memilih akidah Kristen dan Judaism tetap boleh tinggal dan beribadah di wilayah yang dikuasai Khalifah.. bahkan mereka juga dilindungi ketika terjadi perang dengan kelompok lain.. tapi yang namanya masuk secara paksa, cepat atau lambat setelah Kekhalifahan memudar dan melemah, pasukan aliansi kerajaan Kristen di sekitar Spanyol memukul mundur kekhalifahan islam dari Andalusia..
Bukan cuma mundur.. perang tersebut diperluas menjadi Perang Salib yang terkenal itu.. pesan moralnya adalah, penetrasi secara asik itu lebih menyenangkan daripada penetrasi secara paksa.. yang disayangkan adalah, saat ini banyak kelompok-kelompok fundamentalis yang sok kearab-araban justru menempuh cara-cara kasar dan kurang adab dalam menghormati budaya nusantara.. misalnya dengan membid’ah-bid’ahkan praktek pelestarian tradisi yang berasimilasi dengan “budaya” islami.. termasuk yang terakhir tentang pemusnahan wayang oleh Ustad Bermasalah.. padahal wayang itulah yang dahulu merupakan metode dakwah yang terbukti berhasil mengislamkan Nusantara..
Saat ini, populasi muslim di Indonesia terus menurun, dan kini “hanya” tinggal 87% saja, menurut Wikwikpedia.. tetapi tidak di Madura.. menurut seorang pengayuh becak setempat ketika diwawancara mantan rektor saya dulu, populasi muslim di Madura adalah 99%.. mantan Rektor saya itu lalu bertanya, “berarti yang satu persen lainnya adalah Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Kong Hu Chu?”.. dengan logat Madura yang kental, dan percaya diri yang tinggi, pak tukang becak menjawab, “..endak, Pak.. yang sattu persen ittu Muhammadiyyah..”
Sumber : Status Facebook Bintang Prabowo











Comment