Oleh: Gunawan Wibisono
Ada kabar baik hari ini, Rusia menarik sebagian pasukannya yang sudah siaga satu dari perbatasan Ukraina. Ketegangan kedua negara pun menurun. Baguslah, tak perlu ada perang besar lagi.
Dengan kemajuan teknologi sekarang, bila terjadi perang semua akan rugi, semua hancur, dan efeknya merembet kemana-mana. Ujungnya rakyat jelata yang susah. Pasti.
Tak ada bangunan yang tak bisa dijebol, tak ada baja yang bisa menahan peluru pintar, semua bisa ditembus!
Rusia, sebagai negara besar ya jangan arogan. Ingat waktu jaman susah, bro. Siapa yang dahulu menolong Rusia saat mereka berkeringat dingin, karena – di timur negaranya- Jepang menggelar pasukan besar-besaran di perbatasan China-Sovyet, dan dari arah barat dihajar sampai babak belur oleh Nazi Jerman? Nah, siapa lagi yang membantu kalau bukan Paman Sam yang dulu lagi makmur?
11 Maret 1941, atas inisiatif presiden AS, Franklin Delano Roosevelt (FDR), Konggres Amerika menyetujui pinjaman sangat lunak kepada Uni Sovyet sebesar 1 milyar dollar (bujubuneng, nilai sekarang setara 20 milyar dollar- 300T), yang dibutuhkan Sovyet sebagai bekal menghadapi invasi Jerman dan membangun AB-nya.
Kelonggaran yang diberikan FDR adalah pinjaman itu tanpa bunga dan boleh mulai dicicil lima tahun setelah ditandatangani. Alias terima duit tahun 1941, mulai bayar cicilan 1946, ringan, kan?
Selain Sovyet, Inggris juga mendapat jumlah pinjaman yang sama. Karena letaknya yang terisolir di pulau, Inggris minta dikirim bahan makanan. Gandum, daging, tepung terigu dll.
Itu sebabnya sejak 1941 ribuan kapan dagang Amerika hilir mudik New York ke berbagai pelabuhan di Inggris. Tugasnya ya memasok makanan, kalau gak ada paket sembako ini rakyat Inggris kelaparan!
Maka dalam film Greyhound kita merasakan ketegangan kapal perusak mengawal puluhan kapal dagang dalam menghadapi serbuan Wolf Pack/ kawanan srigala (beberapa kapal selam Jerman -U-boat- yang menyerang secara bersamaan)
Secara berkala, 3-5 hari sekali, secara rahasia, ada iring-iringan kapal dagang membawa gandum, bertolak dari sebuah pelabuhan kecil di Skotlandia.
Kapal ini dengan nekad mengarungi laut Utara yang dinginnya luar biasa, sementara bahaya mengintai dari kapal selam dan pesawat pembom ringan Jerman. Komplet.
Lautnya dingin bikin tulang linu, dari bawah air mengintip kapal selam, dan dari atas bisa muncul pembom! Sebuah penderitaan yang lengkap!
Toh, para pelaut itu tetap berjibaku berlayar! Tujuannya? Apalagi kalau bukan pelabuhan Murmansk, sebuah pelabuhan milik Sovyet!
Kota Leningrad di utara Sovyet, sekarang bernama St. Petersburg, sedang dikepung Jerman, dan penduduk Sovyet utara menderita kelaparan.
Nah, gandum kiriman ini ibarat beras Bulog bagi mereka yang pas lagi butuh dan lapar!
Selama PD 2 berlangsung pun Inggris mengirim ribuan tank Matilda dan Churchill. Dan Amerika mensuplai peluru, bom dan ribuan truk. Kurang apa lagi?
Di China sama saja. Siapa yang dulu melatih pilot, mengirim peluru, pesawat, kapal dan banyak lagi..ya negara barat.
Hidup memang harus saling tolong menolong, dan bukan bersitegang.
Semua tahu bila peluru kendali sampai diluncurkan, faktor melesetnya hanya 1 meter alias kena-kena juga, dan ketika satu peluru ditembakkan, pasti akan merembet kemana-mana.
Subuh, 1 September 1939, kapal perang Jerman, Schleswig-Holstein, rada sulit mengejanya, yang sedang sandar di pelabuhan Danzig, Polandia, secara mendadak menembakkan pelurunya ke wilayah Polandia!
Dan kita tahu kejadian itu segera merembet kemana-mana. Jerman dibela Italia dan Jepang, sementara Perancis dan Inggris siap melindungi Polandia. Dunia terbelah. Itulah awal mula PD 2 meletus di Eropa.
Ada pemeo “Sejarah terulang dengan sendirinya”, nah, tindakan Rusia menarik pasukannya dari Ukraina, diharapkan sebagai upaya mencegah sejarah agar tak terulang kembali!
Manusia sudah seharusnya saling tolong, bukan bersitegang. Peace!
Ditulis di Solo, 16 Feb 2022, di kamar mandi hotel
Foto: ribuan truk Amerika masuk ke Sovyet untuk membantu mobilitas pasukan.











Comment