Oleh : Sunardian Wirodono
Setelah survey demi melihat buku Nietzsche di Toko Buku Kwitang, Jakarta, Chairil Anwar mengajak Asrul Sani merancang perbuatan kriminal. Mencuri buku berjudul Zarathustra nan sohor itu.
Chairil mengatur siasat, Asrul Sani berperan memecah perhatian penjaga toko. Chairil mempersiapkan celana kombor dengan dua saku di pinggul kanan-kiri itu. Satu saku cukup untuk buku Nietzsche tersebut.
Aksi berlangsung. Pencurian sukses. Tapi tak jauh dari toko buku di Kwitang itu, Chairil menyumpah-serapah kebodohannya. Yang diembatnya bukan buku Nietzsche, melainkan Kitab Injil. Buku Nietzsche, ukurannya memang persis kitab-kitab Injil umumnya, juga bercover warna hitam
Entahlah, mungkin dari membaca kitab curian itu, Chairil bisa menulis puisi bagus berjudul ‘Isa ‘.
Saya nggak ada hubungan dengan Chairil Anwar yang beken itu. Ini hanya cerita kenangan masa lalu. Karena ingin memiliki buku ‘Sebuah Pertemuan’ (semacam biografi Chairil Anwar dan tinjauan psikologi sang penyair, yang sebetulnya skripsi Arief Budiman di Fakultas Psikologi UI), saya ketularan mencuri buku.
Karena tak ada temen seide, aksi dijalanklan sendirian. Waktu itu saya kelas dua SMP Negeri VI di Jetis, Yogya (1977). Di jalan pulang sekolah, saya pakai rute melingkar dengan sepeda doltrap, kadang singgah di Toko Buku Gunung Agung di pojok Tugu, kadang di Malioboro di Perpustakaan Daerah.
Kisahnya, ketika pulang sekolah melewati jalan Magelang, deket kerusuhan suporter Persis Solo gelelengan di Yogya kemarin itu, dulu ada toko buku kecil dan agen koran Titalina Agensi. Mampir di situ, saya melihat buku ‘Sebuah Pertemuan’ Arif Budiman itu. Jangkrik. Ide brilian pun muncul, gimana nggak puynya duit cukup tapi bisa memiliki buku itu?
Saya pun kemudian membeli koran di situ, tetapi diam-diam buku Chairil Anwar itu saya masukkan dalam lipatan koran. Hingga buku aman sesampai di rumah.
Beberapa puluh tahun kemudian, terbit rasa sesal saya atas aksi kriminal itu. Tapi penyesalan selalu terlambat. Entah kenapa, saya sering heran. Metultah ke-100 Chairil Anwar yang mulia. Maaf, saya mengurungkan diri jadi penyair, meski dulu pernah ikut lomba esai nasional dengan judul ‘Surat Penyair Muda Kepada Chairil Anwar’, jadi juara dua (1980), mengalahkan beberapa penulis sohor dan senior.
Sumber : Status Facebook Sunardian Wirodono











Comment