by

Pemilihan Dagelan

Oleh : Zainal Abidin M Sidik

Sesuai nilai-nilai yang saya yakini, pemilihan pemimpin yang paling ideal (dalam berbagai level, di berbagai lembaga atau organisasi) adalah musyawarah mufakat. Realitanya, tidak selamanya cara itu bisa dilaksanakan, karena berbagai kondisi. Sebagai alternatif, pemilihan dilakukan dengan pemungutan suara (voting).

Masih terbayang jelas pemilihan kepala daerah DKI Jakarta 2017 yang ‘berdarah-darah’, dan berlangsung dalam dua putaran. Semua pasangan calon mengerahkan segala kemampuannya untuk menarik dukungan suara masyarakat, sampai ‘titik darah penghabisan’. Akhirnya pasangan Anies-Sandi mendapatkan suara terbanyak.

Demikian juga saat pemilihan presiden 2019, yang merupakan tarung ulang antara Jokowi dan Prabowo, walaupun keduanya menggandeng calon wakil presiden yang berbeda. Persaingan sengit terjadi sejak masa kampanye, bahkan melampaui saat pengumuman pemenang pilpres. Residu kekecewaan karena kalah dua kali masih bersisa di kalangan pendukung pasangan yang kalah. Padahal, Jokowi dengan legawa merangkul mantan lawannya, dan merekrutnya menjadi salah satu menteri dalam kabinetnya. Tujuannya? Entahlah.

Tapi saya mencoba berpikir positif. Perpecahan itu tidak baik. Belajar dari lima tahun sebelumnya, Jokowi merangkul Prabowo agar disintegrasi tidak menjurus pada terbelahnya para pendukung mereka.Anies-Sandi menang. Ahok-Djarot kalah. Jokowi-Ma’ruf menang. Prabowo-Sandi kalah. Pemilihannya fair, tidak ada negosiasi untuk bagi-bagi jabatan, sampai akhir masa pemilihan. Kalaupun akhirnya Prabowo, – Sandi pun menyusul, menjadi anggota kabinet Jokowi-Ma’ruf, itu bukanlah bagian yang terencana sejak awal persaingan mereka.

Bagi saya, itulah pertarungan yang gentle. Saya suka …Percaya atau tidak, ternyata ada juga pemilihan dagelan. Entah banyak atau tidak, karena saya belum pernah ketemu risetnya di jurnal ilmiah. Apa itu pemilihan dagelan?Itulah pemilihan pimpinan organisasi, yang penuh dengan rekayasa. Sejumlah calon diusung dalam pemilihan, tapi ada satu dua calon yang ‘merasa’ superior dibanding calon lainnya, menawarkan jabatan tertentu, – dengan catatan ikut mendukung sang calon ‘superior’ tersebut. Padahal pemilihan belum dilangsungkan.

Ini kan bikin ngakak!Sang calon (yang merasa superior itu), – secara langsung maupun melalui kaki tangannya, memberi tugas kepada calon yang dianggapnya inferior, untuk melakukan dan tidak melakukan sesuatu. Di bagian akhir, tak lupa disisipkan janji-janji, kalau sang calon (yang merasa superior itu) berhasil menang, maka si petugas itu bakal jadi pejabat tertentu di kabinetnya.

Saya tidak tahu, apakah penawaran itu dilakukan sebagai bentuk negosiasi, atau bahkan subordinasi. Yang pasti, saya mau ketawa lebar, tapi takut dosa …Catatan:Jangan kaitkan tulisan di atas dengan gambar di bawah. Kagak ada hubungannya …Thanks oom telo Selo Sumarsono

Sumber : Status Facebook Zainal Abidin M Sidik

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed