by

Badai Sitokin SBY, JK

Oleh: Iyyas Subiakto

SBY dan JK adalah dua orang yg baru saja menyelesaikan tugas sebagai presiden dan wapres, dimana keduanya adalah orang yg digantikan Jokowi, bahkan JK sempat mendampingi Jokowi setelah jeda dilepas SBY dan di gantikan Boediono si kalem yg baik kerjasamanya dgn atasannya.

Entah kenapa SBY memgganti JK saat itu, tapi memang scr kasat mata JK lebih kelihatan wapres rasa presiden. Dia terlalu lincah melampaui kapasitasnya.
Nasib JK sama juga saat bersama Jokowi, bedanya kelincahannya agak tertahan karena style dan akhlak Jokowi beda frekuensi.

Jokowi berakhlak pengabdian, JK berorientasi kekuasaan agar urusan pekerjaan dan usahanya, kroninya, bisa terjaga dalam membangun kelanggengan.

Badai sitokin adalah kelebihan pemakaian imun tubuh yg pada akhirnya bukan menyerang virus tapi malah melumpuhkan organ yg baik dan rusak serta mengakibatkan kematian.
Dua tokoh mantan penguasa yg sama-sama mengecam jabatan dgn waktu yg sama, walau JK pakai jeda, tapi hrs diakui saat bersama Jokowi JK mendapat hasil berbeda, langkahnya tak se leluasa saat bersama SBY.

Kerjanya yg terbiasa mengintervensi proyek pemerintah dan membuka kemudahan akses pada sumber pendanaan termasuk perbankan, jadi tertahan.
Kasus pada bank Mandiri, Bukopin, dan lembaga keuangan lainnya praktis dia lakukan saat satu frekuensi bersama SBY.

Kesuksesan JK saat bersama Jokowi hanya saat dia mengakuisisi gubernur DKI, dimana anak didiknya dia dudukkan melalui usaha jualan mayat dan agama, dgn output merusak ibu kota dan citra indonesia Dimata dunia.

Lihat saja setelah pensiun isu kecacatan moralnya sama, keduanya tertimpa isu masalah keuangan dan

Korupsi, walau belum terbukti karena penegak hukum masih hengki pengki, atau meluaskan samudra tempat pelaku pelanggaran hukum bisa menyelam asal bisa membayar oksigen jangka panjang, mereka pasti aman.

Indonesia adalah negara dgn banyak lembaga penegak hukum yg vakum. Prestasinya hanya menyapu daun kering, tapi tak mampu melakukan amanah sebagai wakil Tuhan didunia keadilan. Bahkan para aktivis semua beriman tipis.

Hanya pernah ada almhm Artidjo dan beberapa orang yg tak kedengaran dari ribuan orang yg bermain dgn jabatannya serta membina keakraban dgn kejahatan.
Inilah salah satu buah hasil tempaan orba yg menjadi budaya.
Membenarkan yg biasa (korupsi), bukan membiasakan yg benar.
Sehingga kalau ada kasus besar mata kita hanya bisa nanar, karena kesalahan bisa disulap jadi pembenaran.

Bahkan sampai di Lembaga pemasyarakatan mereka masih bisa pesta bak merasakan kebebasan, keluar masuk atur saja, asal ada biayanya.

SBY dan JK adalah mantan petinggi negara yg akhlaknya tak bisa jadi panutan.
Manuvernya berpolitik hanya berorientasi kekuasaan utk menutup cacat masa lalu dgn terus berusaha kembali berkuasa, apakah dgn cara membuat boneka, atau memaksa mengorbitkan anaknya yg dipaksa besar tanpa dasar. Semua prilakunya artifisial, karena tumbuh tak wajar sehingga akhlaknya kurang ajar.

Reaksi atau rencana yg terus mencampuri urusan pemerintahan dgn cara pura-pura sudah selalu bisa di baca. Benang merahnya selalu dapat di tebak, pada setiap ada gerakan dimana hulunya dan siapa bohirnya.

Jadi sebaiknya SBY dan JK jaga imun diatas rata-rata saja, tak usah digunakan sekarang, tak perlu juga di gunakan utk menyerang, karena serangan virus kebenaran pasti datang. Apakah nanti imun yg ada bisa bertahan atau tumbang, kita tunggu bersama sejauh mana gelombang pasang kebenaran yg akan datang.

Kita akan lihat saat pasukan munafik yg mengaku pejuang akhirnya jadi pecundang.
Sekarang kita konsentrasi bersama Jokowi memerangi pandemi.
Salam Buzzer NKRI.



Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed