by

Orang Waras Tak Boleh Mengalah

Oleh : Efron Bayern

Hari ini merupakan Minggu terakhir Tahun B Kalender Gerejawi . Minggu depan kita memasuki Masa Raya Adven dan Minggu depan merupakan awal Tahun C Kalender Gerejawi. Itu artinya tahun baru gerejawi dimula pada 28 November 2021, bukan pada 1 Januari 2022.Bacaan Alkitab secara ekumenis pada Minggu ini diambil dari Injil Yohanes 18:33-37 yang didahului dengan 2Samuel 23:1-7, Mazmur 132:1-12, (13-18), dan Wahyu 1:4b-8.

Dalam bacaan Injil Yohanes ini kita melihat cuplikan adegan pengadilan Yesus oleh Pilatus. Di dalam gedung pengadilan Pilatus bertanya kepada Yesus, “Engkau inikah raja orang Yahudi?“ Jawab Yesus, “Apakah engkau katakan hal itu dari hatimu sendiri atau adakah orang lain yang mengatakannya kepadamu tentang Aku?” Kata Pilatus, “Apakah aku seorang Yahudi? Bangsa-Mu sendiri dan imam-imam kepala yang telah menyerahkan Engkau kepadaku; apakah yang telah Engkau perbuat?” Jawab Yesus, “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini ; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi,” jawab Yesus lagi, “akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini.” Kata Pilatus kepada-Nya, “Jadi Engkau adalah raja?” Jawab Yesus:

“Engkau mengatakan bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku.” Kata Pilatus, “Apakah kebenaran itu?”Dalam adegan ini terjadi interograsi dan intimidasi oleh Pilatus kepada Yesus di dalam gedung pengadilan. Mengapa Yesus harus ke pengadilan? Para elit agama Yahudi ingin membunuh Yesus, namun berisiko besar, karena Tanah Yudea di bawah hukum Romawi. Para elit agama itu bisa dipenjara atau bahkan dihukum mati karena pasal pembunuhan. Untuk itulah Yesus kemudian difitnah menista agama dan digiring ke pengadilan negara di bawah hukum Romawi agar Yesus dijatuhi hukuman mati. Di gedung pengadilan itulah Pilatus, Gubernur Provinsi Yudea, berusaha mengorek keterangan dari Yesus dengan menanyakan apakah Ia adalah Raja orang Yahudi. Jika Yesus mengaku sebagai Raja orang Yahudi, maka Ia bisa dituduh bersalah karena pemberontakan. Pilatus tetap ingin Yesus mengakui bahwa Diri-Nya adalah Raja, tetapi Yesus membalikkan pernyataan tersebut (ay. 37).

Yesus sebenarnya sedang memberikan kesempatan kepada Pilatus agar ia tidak mendengarkan perkataan orang-orang Yahudi, tetapi mendengarkan Yesus tentang kebenaran. Pada akhir kisah kita sudah tahu bahwa Pilatus tidak menemukan kesalahan Yesus, tetapi ia didesak oleh khalayak untuk menghukum mati Yesus. Pilatus menyerah dan cuci tangan.Beberapa hari lalu Densus 88 mencokok Farid Okbah, anggota komisi fatwa MUI, karena ditengarai terlibat dalam jaringan terorisme. Apa kata pengurus MUI atas penangkapan itu? Anwar Abbas, Wakil Ketua MUI, menyampaikan bahwa Farid Okbah adalah orang yang anti tindakan kekerasan tak mungkin terlibat dalam jaringan terorisme.Kalau kita tarik kembali ke masa empat tahun lalu MUI bersemangat mengeluarkan fatwa bahwa Ahok menista agama.

Bacaan hari ini mengingatkan kita pada peristiwa itu: pengadilan Ahok atas dakwaan menista agama yang diperkuat oleh fatwa MUI. Perbedaan sistem peradilannya, pada tempo dulu yudikatif dan eksekutif menjadi satu, pada masa modern yudikatif dan eksekutif terpisah. Persamaannya: (1) hakim sama-sama ketakutan atas tekanan massa termasuk pemuka agama dan (2) kedua terdakwa sama-sama melantangkan kebenaran.Yang menarik dalam sidang itu Pilatus mengajukan pertanyaan yang kemudian menjadi legendaris, karena tidak ada penjelasannya di Kitab Suci: “Apakah kebenaran itu?” Secara filsafati kebenaran adalah (1) sesuatu yang sesuai dengan realitas, (2) sesuatu yang sesuai dengan objeknya, dan (3) mengatakan sesuatu dengan apa adanya. Tentu masih panjang senarai takrif mengenai kebenaran.

Yesus dan Ahok mengatakan kebenaran, tetapi Pilatus atau hakim tidak mau mendengarkan. Mereka lebih takut pada tekanan khalayak dan para pemuka agama termasuk MUI. Ahok menjawab pertanyaan Pilatus secara sederhana: “Kamu kafir-kafirkan saya, kamu tetap saya beri KJP. Itulah kebenaran!”Pesan akhir Tahun B Kalender Gerejawi ini cukup keras disampaikan kepada seluruh orang waras untuk selalu memegang teguh kebenaran apa pun risikonya. Memang berat untuk menjadi orang waras. Orang waras tidak boleh mengalah dalam kebenaran.Quote of the day: “The only thing worse than a liar is a liar that’s also a hypocrite!” Tennessee WilliamsWassalam,

Sumber : Status Facebook Efron Bayern

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed