by

Ngaji Kitab

Oleh : Ahmad Sarwat

Ada banyak model untuk ngaji kitab. Sama-sama kitabnya, tapi cara ngajinya yang beda. Yang biasanya dijalankan di pondok, kiyai dan santri masing-masing pegang kitab. Kiyai membacakan kata per kata sambil dimaknai satu persatu. Tergantung lokasinya. Kalau di Jawa pasti diterjemahkan ke bahasa Jawa. Utawi Iki iku. Di Jawa Barat jadi bahasa Sunda. Di daerah lain juga begitu. Tapi intinya diterjemahkan kata per kata. Santrinya pegang pena atau pulpen, tiap terjemahan itu kemudian dicatat diselip-selipkan di antara teks aslinya.

Jadi ketahuan ikut ngaji atau tidak cukup melihat kitabnya sudah ada teks terjemahannya atau belum. Metode kayak gini kalau dilakukan tiap hari, apalagi sehari tiga kali lumayan mantab dan cepat.Tapi kalau ngajinya seminggu sekali, atau malah dua minggu sekali, apalagi sebulan sekali, wah wah bisa lupa alur. Sekedar kitab Taklimul Mutaallim yang singkat, tipis dan simpel bisa bertahun-tahun tidak selesai. Apalagi baca Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib, Fathul Mu’in, Riyadhus-Shalihin, Ihya Ulumuddin, bisa bertahun-tahun tidak selesai. Di Masjid depan rumah saya pernah ‘dipaksa’ mengajarkan Taklimul Mutaallim sebulan sekali.

Itu pun kalau menjelang Ramadhan sampai habis lebaran diliburkan. Rasanya kitab itu tidak selesai-selesai dibaca. Bolak-balik temanya masih itu-itu lagi. Sampai saya sebagai yang mengajar ikutan bosan. Namun kelebihannya adalah santri jadi paham kata perkata. Khususnya bagi yang membawa kitab dan alat tulis. Sayangnya di banyak majelis taklim di Jakarta, jamaahnya ngaji tapa modal. Tidak bawa kitab juga pulpen. Mereka terbiasa ji-ping alias ngaji nguping. Modalnya kuping doang. Diterjemahkan kata perkata malah kurangefektif

oOo

Maka kajian kitab kuning yang saya temui kebanyakannya gaya bebas. Tidak ada penerjemahan kata per kata. Tidak ada Utawi Iki iku. Akhirnya kayak pengajian lepas. Hanya awalnya saja yang baca beberapa kalimat dari kitab. Sebagai bumper saja. Berikutnya jadi pengajian umum.Kiyainya malah cerita yang lain-lain, mungkin bosen juga memberi Syarah atas isi kitab. Bisa cerita politik, sosial, bahkan ditambah lawakan-lawakan segar. Justru selipan-selipan itu yang banyak ditunggu oleh jamaah. Teks kitabnya sih biasa-biasa saja. Yang bikin ramai justru selingannnya.

oOo

Ada lagi yang lebih lucu. Ngaji kitab tapi kiyainya tidak pakai kitab berbahasa Arab. Kitabnya sudah hasil terjemahan orang lain. Yang kayak gini sebenarnya sah-sah saja. Cuma tentu jadi rawan kritik. Kesannya kiyainya kok nggak bisa bahasa Arab. Padahal judulnya ngaji kitab, kenyataannya bukan kitab yang dibaca tapi buku. Lho bukannya kitab dan buku sama saja? Kitab itu bahasa Arab, bahasa Indonesia nya buku. Bukan begitu?

Jawabnya bukan. Memang bukan begitu. Sebab yang namanya kitab itu bukan sekedar teks berbahasa Arab. Dan terjemahannya pun biasanya sangat rawan dari ketidak-akuratan. Apa jadinya kalau kajian kitab hanya bermodal terjemahan? Yang pasti ke-kiyai-annya pasti akan dipertanyakan dari sisi keilmuannya. Kiyai kok nggak bisa bahasa Arab? Kiyai apa bukan sih? Ukuran seseorang disebut kiyai paling minimal itu sudah menguasai Nahwu Sharaf. Namun yang paling utama bukan itu. Yang paling utama, apakah dia sudah dapat ‘ijazah’ dari gurunya untuk mengajarkan kitab itu. Pertanyaannya lagi : siapakah guru yang mengajarkan kitab itu kepadanya? Jangan-jangan memang tidak pernah belajar kitab itu? Wah gawat. Tidak belajar kok ngajar?

oOo

Dari fenoma di atas, saya sendiri mengalami hal yang berbeda. Kalau dibilang ngaji pakai kitab, itu sudah pasti. Namun metodenya tidak lagi dimaknai kata per kata. Mungkin sewaktu kecil di pondok atau di pengajian memang seperti itu.Tapi sewaktu naik lagi ke jenjang yang lebih tinggi, kemampuan bahasa kita yang digeber habis. Belajar bahasa Arabnya ngotot sengototnya. Setiap hari dari Senin sampai Jumat, dalam sehari ada lima sesi. Yang paling penting dari kuantitas yang sangat banyak itu adalah guru yang ngajar itu orang Arab betulan. Native speaker. Jadi berbahasa itu bukan sekedar teori dan pasif, namun langsung praktek secara aktif.

Digeber kayak gitu tidak kurang dari tiga tahun lamanya. Sampai akhirnya bisa baca teks Arab tanpa harus dimaknai kata per kata. Bahkan kadang kita tahu makna dan maksudnya, meski padanan katanya dalam bahasa Indonesia yang secara tepat mewakilinya malah belum ketemu. Atau karena memang tidak ada padanan kata dalam bahasa Indonesia.Namun meski bisa baca teks Arab, tetap saja setiap kitab yang kita baca diampu oleh doktor yang ahli di bidang ilmu tersebut.

Sebut misalnya belajar Tafsir Fathul Qadir karya Asy-Syaukani. Tiap lembar dibaca secara lancar tanpa berhenti untuk dimaknai. Tinggal nanti doktor Umar memberikan ta’liq atau komentarnya. Kuliah tafsir kayak gini bukan seminggu sekali, tapi seminggu tiga kali. Senin, Rabu dan Jumat. Belajar Fiqih pakai kitab Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd. Dibaca lembar demi lembar, kadang bergantian. Tidak perlu dimaknani kata per kata. Lalu diberi Syarah oleh doktor Salim. Ngaji kitab ini setiap hari, seminggu lima kali. Belajar Ilmu Ushul Fiqih pakai kitab Raudhatun Nazhir karya Ibnu Qudamah. Dibaca lembar per lembar kadang bergantian, lalu doktor Ahmad Al-Khatam menjelaskan. Ngaji kitab Ushul fiqih ini seminggu empat kali. Senin, Selasa, Rabu dan Kamis.

oOo

Sayangnya metode yang bagus kayak gini giliran mau kita terapkan kok nggak bisa. Yang paling blangsak karena kita bukan orang Arab. Lalu muridnya tak satu pun yang bisa bahasa arab.Lha kok mau ngaji kitab? Kitab apa? . . .

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed