by

Negara Kita Negara Thaghut?

Oleh : Muhammad Abdulkadir Martoprawiro

  1. Sayang sekali, masih cukup banyak orang terdidik, yang tidak tahu, bahwa dirinya telah ditulari mindset yang keliru. Pandangan itu menganggap bahwa kesepakatan bersama yang dicapai secara luar biasa oleh founding fathers bangsa kita, sebagai kesepakatan yang menciptakan “negara thaghut”, negara yang salah. Muncullah gagasan untuk mengubahnya menjadi khilafah Islam, dll. Padahal mindset itu serupa dengan mindset kesombongan Yahudi pada masa rasulullah. Mengapa?

Rasulullah TIDAK menciptakan sesuatu yang ideal dengan Piagam Madinah (dalam bahasa Inggris: Constitution of Medina) yang disepakatinya bersama seluruh utusan kelompok. Rasulullah hanya berusaha untuk menciptakan kesepakatan sederhana, dengan bahasa sederhana, yang mudah difahami oleh seluruh kelompok. Juga dengan masukan dari seluruh kelompok. Rasulullah tidak memaksakan untuk menciptakan sesuatu yang sempurna, dari rembugan manusia yang memang tidak pernah sempurna. Tapi dengan kesombongannya, beberapa kelompok Yahudi merasa BOLEH mengkhianati The Constitution of Medina, yang SUDAH disepakatinya itu.

2. Seorang sejarawan AS, Robert N. Bellah, mengatakan, The Constitution of Medina, baru berulang 1000 tahun kemudian di Amerika, saat berbagai negara bagian di Amerika Serikat, membuat kesepakatan bersama yang menjadi konstitusi Amerika. Sebelum itu, setelah Piagam Madinah, tidak ada lagi contoh, karena jauh di timur Madinah, contohnya adalah kerajaan Persia, dan jauh di barat ada imperium Romawi. Tentu saja keduanya tidak punya konstitusi hasil kesepakatan bersama di antara perwakilan masyarakat yang plural.

Pergantian kekuasaan yang ada di masa itu, di berbagai tempat di bumi, hanya terjadi dengan darah, pertalian darah, atau pertumpahan darah. Raja berikut adalah anaknya, atau orang yang membunuhnya, seperti Ken Arok yang membunuh lalu menjadi raja. Ketika mengomentari masa setelah 4 khalifah pertama, yang kembali lewat pertalian darah, Robert N. Bellah menulis: “Islam was too modern to succeed”. Islam terlalu modern untuk bisa berhasil. 3Dan founding fathers bangsa kita yang muslim, telah meneladani rasulullah. Mereka tidak datang ke perundingan dengan klaim sepihak, bahwa kami pasti benar. Mereka mendengarkan setiap pandangan, untuk menemukan landasan yang bisa diterima oleh semua. F

ounding fathers bangsa kita, yang mewakili berbagai agama, suku, dan etnis, memang luar biasa. Karena itu saya pernah menulis, Indonesia akan menjadi pusat peradaban masa depan.

Sumber : Status Facebook Muhammad Abdulkadir Martoprawiro (MAM)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed