Oleh : Tito Gatsu
Sungguh miris ketika melihat beberapa orang yang menjual ayat dengan harga rendah , seperti ustad seleb yang memanfaatkan sedekah untuk mempercayai orang dan memperkaya diri sendiri kemudian tak kalah prihatin lagi beberapa ulama yang berbuat asusila terhadap santrinya bahkan yang lebih menyeramkan lagi ulama dan anggota Parlemen terang- terangan membela teroris!… Sebenarnya kajian Islam Nusantara yang sudah dirumuskan oleh para pendahulu kita adalah islam yang Paling cerdas coba bandingkan dengan luluh lantaknya negara-negara di Timur Tengah dan Afghanistan itu karena Islam tidak dibarengi moralitas dan akhlak !PANCASILA SEBAGAI WAY OF LIFE ORANG INDONESIA
Saya tak bosan memposting tulisan saya ini karena Islam memang sudah diselewengkan sedemikian rupa di Indonesia bahkan diparlemenpun sudah ada Partai yang mengusung syariat Islam sebagai ideologi negara (PKS) yang sebenarnya hanya menginginkan pengkhianatan kepada Pancasila. Sebenarnya Indonesia adalah negara berdasarkan Pancasila yang menerima keberagaman bagi seluruh penduduknya dan itu disesuaikan dengan komitmen kebangsaan , yaitu Pancasila sebagai dasar negara , dimana meletakkan nasionalisme diatas agama dalam kehidupan berbangsa tapi falsafah itu diporak peradaban semenjak masa orde baru yang justru melepaskan para tahanan DI/TII melawan faham Pancasila dan Bung Karno dan bersama-sama militer menghabisi golongan kiri di Indonesia dengan sangat kejam.
Kita tau bahwa Pancsila adalah terdiri dari 5 sila yang merupakan komitmen kebangsaan sebagai dasar negara , dengan bahasa universal , sebagai berikut :
1. Religius (artinya semua agama di Indonesia harus toleran dan mendahulukan nasionalisme )
2. Humanity ( bahwa seluruh warga negara Indonesia harus berperikemanisiaan artinya tidak membenci satu sama lain baik golongan , suku agama dan ras.
3. Nationality (bahwa seluruh warga negara Indonesia adalah mempunyai jiwa nasionalisme Indonesia dan tidak akan mendahulukan negara lain selain Indonesia)
4. Demokrasi ( bahwa seluruh rakyat Indonesia berdaulat terlibat dan punya hak yang sama dalam mengatur dan mengetahui jalannya pemerintahan)
5. Sosialis (Artinya seluruh masyarakat Indonesia adalah setara tidak ada pembedaan mengenai hak dan kewajibannya terhadap negara).
Jika merujuk pada komitnen kebangsaan yang benar afalah justru islam Nusantara atau NU dan yang menjadi pengkhianat bangsa adalah islam Orde Baru yang dipelopori Partai Keadilan Sejahtera (PKS) , mari kita lihat faktanya : Kita bersyukur pada saat Sultan Agung Raja Mataram 1613 hingga 1645 yang diakui pemerintah Belanda menjadi representasi kerajaan di Nusantara (hingga Sultan HB IX pada saat kemerdekaan RI tahun 1965 ) mengukuhkan bahwa islam yang ada di jawa atau Nusantara adalah islam yang berasimilasi dengan budaya asli Indonesia dan kemudian dipertegas oleh K.H. . Hasyim Asy’ari dengan mendirikan NU pada tahun 1926. Menjadi kesepakatan Penetapan Pancasila oleh BPUPKI pada 1 Juni 1945 ketika Pancasila menjadi Dasar Negara jadi segyogianya Islam yang ada di Indonesia adalah islam Nasionalis dan toleran jika ada aliran islam yang ada di Indonesia harus menghormati islam Nusantara.
Kita tentu Masih ingat ketika Bung Karno berpidato Jikalau jadi Islam di Indonesia jangan jadi Islam yang ke arab-araban , jika jadi Hindu jangan seperti orang India , jika jadi Kristen jangan jadi orang Eropa. Hal ini adalah kesepakatan nasional yang sebenarnya sudah tidak bisa diganggu gugat sebagai jati diri bangsa. Di Indonesia sesuai kesepakatan para pendiri Negri tersebut sebenarnya Sudah menciptakan dasar Negara yang sempurna yang melalui proses berabad- abad lamanya Islam masuk ke Indonesia dimana semua Agama bisa Hidup berdampingan bahkan Tak ada satu Pulau pun di Indonesia yang agamanya seragam dari mulai Pulau Sumatera , jawa, Kalimantan , Sulawesi hingga Irian begitu pula pulau-pulau kecilnya .
Walaupun mayoritas muslim penduduk Indonesia dikenal Relijius baik penduduk muslimnya ataupun penganut Agama lain , seperti nasrani anda akan sangat kagum melihat Sebagian besar suku batak dari tapanuli utara di pulau Sumatera begitu taat beragama kristen , begitupula orang bali dalam menjalankan ibadah agama hindu atau orang- orang flores mereka sangat taat menjalankan agama katholik, begitupula jika Kita pergi ke Singkawang di Kalimantan barat Kita akan menjumpai orang-orang yang taat beragama Budha , bahkan Candi Borobudur ditetapkan sebagai situs pusat Agama Budha di Asia Tenggara, jadi sejak dulu Kala Indonesia telah beradaptasi dengan kebhinekaan , tentunya islam yang bisa diterima di Indonesia adalah islam yang bisa menerima keberagaman.
NU ADALAH REPRESENTASI UMAT ISLAM INDONESIA
NU adalah representasi islam.di Indonesia atau yang sekarang dikenal dengan islam Nusantara karena pada masa orde baru dihilangkan istilah Islam Indonesia , maka istilah tersebut berubah menjadi representasi NU dan mewakili Islam Nusantara yang sudah ada di Indonesia berabad- abad lamanya walaupun dikatakan islam tradisional tapi mempunyai cara pandang yang maju dan sangat toleran NU selalu menghargai keberagaman dan mengakui keberadaan Agama lain karena NU selalu berpegang pada Rahmatan lil Alamiin atau Islam adalah rahmat untuk seluruh alam yang artinya juga harus menjadi rahmat seluruh manusia bukan orang islam saja tapi Juga bagi agama lain, inilah yang sering menjadi serangan aliran Islam lainnya dan dianggap islam puritan atau abangan.
Bagi NU mengislamkan bukan berarti memaksa semua orang masuk Islam karena menganggap perbedaan Itu sunatullah atau ketentuan Tuhan dan keyakinan adalah hidayah masing -masing manusia merupakan hak Allah untuk memberinya, justru karena Itulah penyebaran Agama Islam di Indonesia adalah puncak keemasan kejayaan Islam sejak abad ke 12 hingga sekarang . Semenjak runtuhnya Kekhalifahan di Andalusia justru Islam berjaya di Indonesia bahkan penganutnya mengalahkan jumlah pemeluk islam di Negara -negara Arab sendiri. Semenjak reformasi islam memang terpolarisasi menjadi beberapa aliran ada islam indonesia atau Islam Nusantara yang direpresentasikan oleh NU, (karena Saya menganggap Muhammadiyah adalah lebih cenderung ke pendidikan atau tarbiyah sedangkan NU adalah perilaku atau amaliyah).
Selama reformasi banyak aliran islam yang masuk ke Indonesia yang mengadopsi langsung dari tanah Arab atau entah darimana yang jelas sangat berbeda dengan ciri islam Nusantara yang cenderung ramah, mereka adalah islam yang berkecenderungan Intoleran atau saya istilahkan dengan Islam perang lihat saja islam Itu ketika mengacak -acak Negara Arab seperti Iraq , Lybia dan Syria yang menjadi Negara porak poranda. NU adalah benar benar penjaga negeri ini dan penjaga Pancasila.Menurut Gus Dur Pancasila adalah sebagai perekat bangsa, secara teoritis tata negara yang dianut Ahlussunnah wal Jama’ah, yakni Imam Al-mawardi, Ibnu Khaldun, Imam Syafii dsb. Beliau berpendapat bahwa agama saja tidak cukup untuk membentuk Negara.
Pembentukan Negara disamping mazhab atau paham, keagamaan juga diperlukan rasa ashabiyah (rasa keterikatan). Tujuannya untuk membentuk ikatan sosial kemasyarakatan. Karena alasan berdirinya Negara adalah adanya perasaan kebangsaan.Walaupun demikian NU selalu mendapatkan tuduhan keji dari para lawan politik yang Ingin menjatuhkan Pancasila terutama Islam Orde Baru. NU PENJAGA KEBANGSAAN DAN FAKTA SEJARAH Masih ingat ketika terjadi Dentuman bom di pelataran Gereja Eben Haezer Mojokerto, Desember 2000 silam membuat heboh warga sekitar. Jamaah Misa Natal berhasil selamat, namun nahas bagi Riyanto, aktivis Nahdlatul Ulama (NU) berusia 25 tahun itu tewas. Pemuda itu berlari menggondol bom ke luar gereja namun keburu meledak di pelukannya. Seragam Barisan Anshor Serbaguna (Banser) yang dikenakannya robek, jasadnya gosong penuh luka. Kontras dengan situasi di gereja, berulangkali Banser memprotes pengajian “umat Islam”.
Di Jakarta 26 Juni 2019 misalnya, ratusan laskar Gerakan Pemuda Anshor itu berunjukrasa di depan Balai Kota. Nahdliyin berseragam loreng itu memprotes pengajian yang digelar di Masjid Fatahillah Balai Kota lantaran nama Felix Siauw masuk dalam jadwal ceramah keagamaan. Felix adalah aktivis Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Sikap NU dituding “mendua”. Prinsip tawasuth (moderat), tawazun(seimbang), dan tasamuh (toleran) yang diusung para kyai NU hanya berlaku bagi non-muslim, namun tidak demikian dengan umat Islam yang tak sehaluan. Nada sumbang tersebut terus diulang setiap kali Banser tersandung blunder. Gempuran narasi negatif secara masif diarahkan ke jantung NU, berupaya memisahkan jam’iyah (organisasi) dengan jama’ah-nya. Tudingan miring terhadap NU bukan serangan anyar bagi nahdliyin. Dengan menggunakan analisis sejarah, akan terungkap silang sengkarut jejaring yang acap kali berhadapan dengan NU.
Tulisan ini tidak untuk mempertajam koflik, namun mencoba membuka peristiwa sejarah yang melatarbelakangi ketegangan NU dengan kelompok Islam pendatang atau Islam orde baru atau istilah Gus Dur “Islam Marah”. Ada Tiga fakta sejarah yang melatarbelakangi sikap keras NU menjaga nasionalisme bangsa : FAKTA SEJARAH PERTAMA : Munculnya Darul Islam (DI) dengan Tentara Islam Indonesia (TII) berawal dari ketidakpuasan S.M. Kartosuwiryo dan Kahar Muzakkar atas dasar negara Indonesia Pancasila dan penghapusan tujuh kata dalam piagam Jakarta sehingga pada 7 Agustus 1949 di Tasikmalaya Jawa Barat mendeklarasikan Darul Islam (DI) bersama Tentara Islam Indonesia (TII) dengan cita-cita menerapkan syariat Islam, DI/TII mendapatkan pengaruh dan melakukan pembrontakan di berbagai daerah di Indonesia seperti Aceh, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan, pada akhirnya setelah 13 tahun membrontak tahun 1962 Darul Islam dapat dipadamkan dan Karto Suwiryo dieksekusi mati.
Bagi NU , azas Pancasila adalah hasil ijtihad terbaik bagi Indonesia lantaran penduduk Indonesia tidak hanya muslim. Pandangan ini membuat NU dituding sebagai “pengkhianat Islam” lantaran membantu “Republik Indonesia Kafir”. Narasi itu disebarkan ke umat Islam di basis-basis gerilya NII. Ketua 1 Pengurus Besar NU (PBNU) KH Idham Chalid dua kali nyaris kena tembak gerombolan Darul Islam-Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Kiai yang menjabat Wakil Perdana Menteri merangkap Kepala Badan Keamanan itu tidak tinggal diam. Para kyai NU diorganisir dalam wadah KPK (Kiai-Kiai Pembantu Keamanan) yang diketuai KH Muslich dari Jakarta. Tujuannya untuk menghalau propaganda DI/TII yang mengatasnamakan Islam. Seperti Kita ketahui Pemerintah Orde Baru selalu merangkul kelompok yang bersebrangan dengan Soekarno untuk mengingatkan kebencian dan stigma buruk dan genosida pada orde lama pada Tahun 1965 para pengikut Karto Suwiryo dibebaskan oleh Angkatan Darat yang dipimpin Jendral Soeharto dengan perjanjian transaksional.(Jaman Orba Soeharto adalah Hukum)
Dalam The Second Front: Inside Asia’s Most Dangerous Terrorist Network, Ken Conboy menyebut pendekatan terhadap eks anggota DI/TII langsung dilakukan oleh bos Opsus, Ali Moertopo. Ali meyakinkan para mantan gerilyawan DI/TII untuk berdiri di kubunya dalam menghadapi PKI sebagai musuh bersama. Lewat beberapa orang kepercayaannya, di antaranya Aloysius Sugiyanto dan Pitut Soeharto, Ali menjanjikan fasilitas dan pengampunan jika eks pemberontak itu mau bekerja sama dengan tentara. Gayung bersambut. Ajakan Opsus diamini para pemimpin DI/TII. Bahkan, menurut Conboy, mereka sangat antusias. Begitu sepakat mereka segera bergerak. “Danu dan kelompok kecil pendukungnya menjelajah Jakarta guna membongkar persembunyian para pejabat rezim Sukarno,” tulis Conboy Penumpasan PKI juga mengikutsertakan lebih dari 10.000 orang eks DI/TII. Menurut peneliti sejarah DI/TII Solahudin, saat menjalankan penumpasan, mereka didukung penuh Kodam Siliwangi dan agen BAKIN (Badan Koordinasi Intelijen Negara).
“Saat menghabisi orang-orang PKI, eks anggota DI/TII mendapatkan bantuan pinjaman senjata.” Mereka dikenal sangat kejam.membantai siapa saja yang diindIkasikan PKI. Pembantaian dilakukan dengan sangat kejam meliputi wilayah Jakarta dan seluruh jawa, Sumatera Kalimantan dan Sulawesi Selatan terutama kepada rakyat sipil dan keturunan etnis Tionghoa. Operasi bersama yang dilakukan tentara dengan eks anggota DI/TII berlangsung sukses. Rezim Orde Baru menepati janjinya untuk memberikan ganjaran yang setimpal.
Selain pembebasan dari dosa-dosa pemberontakan 1949-1962, Orde Baru lewat tangan tentara juga memberikan kemudahan usaha kepada para eks anggota DI/TII. Ateng Djaelani, salah satu dedengkot DI/TII yang ikut dalam penumpasan orang-orang PKI, diangkat sebagai ketua Gokar di Kota Bandung dan menjadi Pengusaha sukses dibidang penyaluran BBM yang difasilitasi pemerintah a. Sementara Danu Muhammad Hasan direkrut Ali Moertopo untuk bekerja di BAKIN dengan imbalan yang memadai: rumah dinas, mobil dinas dan gaji bulanan. Sembilan tahun kemudian, veteran DI/TII dihimpun kembali oleh Ali Murtopo, Wakil Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN). Tujuannya untuk memenangkan Golkar pada Pemilu 1971 dengan memanfaatkan suara dari basis intoleran. (Lihat dari NII ke Salafi Jihadi). Peran Ali Murtopo pada kemenangan Golkar di tahun tersebut diakui Akbar Tanjung dalam “The Golkar Way; survival Partai Golkar di Tengah Turbulensi Politik Era Transisi”.
Oleh karenanya Golongan ini saya anggap sebagai Islam Orde Baru karena dibidani oleh pemerintah orde baru. FAKTA SEJARAH KEDUA : Lahirnya Partai Keadilan (PK) sebagai konsekuensi era reformasi 1998 tidak bisa diabaikan. Inisiatornya adalah Hilmi Aminudin, alumni Fakultas Syariah Universitas Islam di Madinah. Pada tahun 2002 PK berubah nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Hilmi didapuk menjadi Ketua Dewan Syuro PKS. Yusuf Supendi, rekannya yang pernah kuliah di Riyadh, turut membidani partai berlambang kotak dengan bulan sabit ganda itu. Gerakan Hilmi Aminudin dan rekan-rekannya bukan muncul tiba-tiba. Sejak tahun 1980-an ia rajin menggelar pengajian dengan ”brand” harakah tarbiyah melalui gerakan liqo(pertemuan terbatas) di masjid-masjid. Mafhum amaliyah (praktik keagamaan) pengurus inti PKS berbeda dengan umumnya nahdliyin. Pangkal masalah sikap NU terhadap PKS bukan amaliyah, namun fikrah (pemikiran) dan harakah(gerakan). Bagi para kyai “khos” NU, PKS bukan sekedar gerakan politik.
Pasalnya, Hilmi Aminudin adalah aktivis Ikhwanul Muslimin (IM). Lebih dari itu, tokoh senior PKS ini adalah anak kandung dari Danu Muhammad Hasan, Panglima DI/TII Wilayah Pantura. Menurut (alm) Yusuf Supendi, di rumah Danu Muhammad Hasan lah Ali Murtopo mengumpulkan veteran NII di tahun 1971 untuk memenangkan Golkar. Biayanya, dari Presiden Soeharto melalui Ali Murtopo. Singkat kata, Hilmi Aminudin ditengarai menjadi simpul IM-PKS-NII. FAKTA SEJARAH KETIGA : Pembentukan Front Pembela Islam (FPI) di tahun 1998 tidak bisa diabaikan kendati lahir dari rahim yang berbeda dengan NII. Habib Rizieq Shihab membidani gerakan ini dengan mengumpulkan 20 mubaligh, di antaranya KH Fathoni, KH Misbahul Anam, KH Cecep Bustomi, dan Habib Idrus Jamalullail. Mereka dikenal sebagai penceramah yang keras pada masa Orde Baru dan menentang Pancasila. Namun Taufik Adnan Amal dan Samsu Rizal Panggabean dalam “Politik Syari’at Islam: Dari Indonesia ke Nigeria” (2004) mencatat FPI justeru dekat dengan orang-orang di sekitar Soeharto. Berbeda dengan IM, sejatinya amaliyah FPI sama persis dengan NU. Terlebih pimpinannya adalah dzurriyah Nabi.
Bagi nahdliyin, keturunan Nabi adalah sosok yang harus dihormati. Di lingkaran NU sendiri banyak tokoh habaib (jamak dari habib). Meski demikian NU menarik garis demarkasi dengan FPI. Bagi nahdliyin, ormas ini tergolong “Islam marah”. Aksi sweeping atas dasar nahi munkar (mencegah kemunkaran) dinilai bertentangan dengan Undang-Undang sebagai konsesus kebangsaan. Represifitas FPI terhadap Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) di tahun 2008 membuat jurang pemisah FPI-NU semakin lebar. BENANG MERAH : Benang merang seluruh fakta sejarah ini adalah adalah situasi nasional yang kompleks pasca pemilihan presiden (Pilpres) 2014. Sebagaimana pemaparan dalam tulisan sebelumnya (Membunuh Masa Depan NU), Kontroversi ucapan Ahok (2017) dan puncaknya pilpres 2019 membuat bias latarbelakang sejarah. Kekuatan “Islam marah” berkelindan dengan kepentingan politik.
Dalam sebuah parade, kelompok turunan NII berhasil beraliansi dengan ormas Islam yang dalam hal amaliyah sama dengan nahdlliyin. HTI sebagai organisasi trans-nasional yang telah dibubarkan negara turut mendompleng. Anasir ini ditengarai sebagai penunggang gelap dalam kontestasi pilpres. Blunder Banser sebagai laskar NU menjadi “kejutan”, diolah menjadi bahan bakar narasi negatif untuk menghantam NU. Butuh kajian akademis lebih lanjut untuk mengurai sengkarut benang merah ini. NU sebagai titik penyeimbang kebangsaan diserang dari berbagai sisi. Narasi yang kerap diarahkan ke jantung NU adalah (minimum) “tukang bubarkan pengajian”. NU dituding menerapkan standar ganda; toleran kepada no-muslim tetapi keras terhadap saudara sesama muslim. Padahal sejatinya Banser membendung kelompok “Islam marah” yang merongrong NKRI.
Karena itulah Riyanto, anggota Banser PCNU Mojokerto, syahid dalam mengamankan saudara umat kristiani atas dasar persaudaraan sesama manusia (ukhuwah basyariyah). NU teruji dalam sejarah, terlalu kuat untuk digempur. “Jika diibaratkan, kekuatan NU itu ibarat meriam, betul-betul meriam!” pekik Kyai Wahab Chasbullah pada pidato pertamanya sebagai Rais Aam pada tahun 1950. Kini tantangan NU atau Islam Nusantara adalah rekonsiliasi sejarah mengajak islam Orde baru atau “Islam marah” atau Islam perang atau Islam pendatang menjadi “Islam ramah”. Merangkul, bukan memukul. Wallahu’Alam bishowab. Kepentingan nasional tetap harus diatas segalanya karena merupakan harga diri bangsa jika mereka tak mau kembali menjadi nasionalis dan toleran kita harus siap mpertahankan kedaulatan rakyat, Merdeka !! Salam Kedaulatan Rakyat
Sumber : Status Facebook Tito Gatsu.











Comment